http://batampos.co.id/Kolom/Catatan_Dahlan_Iskan/Buang_Miliaran_Ongkos_Belajar_.html
Buang Miliaran Ongkos Belajar
Rabu, 01 Juli 2009
Terlalu banyak orang yang menanyakan "kisah sukses" Jawa Pos. "Bagaimana
ceritanya?" tanya peserta sebuah seminar di mana saya jadi pembicaranya. "Apa
saja yang dilakukan sehingga perusahaan yang hampir bangkrut pada 1982 itu bisa
berjaya seperti wujudnya sekarang?" tanya yang lain. "Di mana kunci
rahasianya?" pinta yang lain lagi. "Ceritakan dong kiat-kiatnya...."
Biasanya saya menolak untuk bercerita. Bukan karena pelit, tapi saya
berkeyakinan bahwa cerita-cerita sukses masa lalu hanya akan membuat orang
terlalu mengagung-agungkan masa silam. Lalu terlena untuk memikirkan masa
depan. Sering juga cerita keberhasilan masa lalu itu dipergunakan untuk
"meneror" generasi baru: agar meniru, agar menghormati, agar mengenang. Menurut
saya, yang demikian itu sangat berbahaya.
Saya percaya, setiap generasi memilki zamannya sendiri. Dan, setiap zaman
mempunyai generasinya sendiri. Apa yang di masa lalu sukses saya lakukan, belum
tentu bisa sukses untuk dilaksanakan sekarang. Bahkan, saya bisa memastikannya:
mustahil. Zamannya sudah berbeda, pasarnya sudah berbeda dan pelakunya sudah
berbeda. Berarti tantangan dan peluangnya juga sudah berbeda.
Yang diperlukan generasi baru bukan warisan kisah-kisah sukses masa lalu,
melainkan kepercayaan untuk menerima tanggung jawab. Dan, itu hanya bisa
terjadi kalau ada kerelaan generasi lama untuk secara bertahap menyerahkan
tugas dan tanggung jawab kepada generasi baru. Sebuah penyerahan yang ikhlas.
Bukan penyerahan dengan niat menghibur, mencoba, kasihan, apalagi menjebak.
Saya percaya bahwa sebuah tanggung jawab akan muncul dengan sendirinya
manakala kepadanya diberikan sebuah kepercayaan. Mungkin memang ada risikonya.
Misalnya, salah langkah.
Tapi itulah memang harga yang harus dibayar. Itulah "biaya sekolah" di
dunia yang sebenarnya. Saya selalu mengatakan, "Memangnya saya dulu tidak
pernah salah?" Sekarang, di ruang ini, di kesempatan yang berharga ini, saya
harus bertestimoni: saya pun telah membuat begitu banyak kesalahan. Di masa
lalu, dan mungkin masih juga akan terjadi di masa yang akan datang.
Sayangnya, seminar-seminar yang diadakan sering meminta saya berbicara
dengan topik "Kisah-Kisah Sukses Dahlan Iskan". Belum pernah ada seminar yang
meminta saya berbicara dengan topik "Kisah-Kisah Kesalahan dan Kegagalan Dahlan
Iskan".
Ini tidak fair. Saya pernah menghitung lebih dari 1.000 kesalahan yang
saya perbuat. Kalau mau dinilai dengan uang, kesalahan itu melebihi Rp 150
miliar. Artinya, kalau dikumpulkan, saya pernah menghilangkan uang sebanyak
itu. Hanya, karena perusahaan yang saya pimpin juga menghasilkan uang triliunan
rupiah, jadinya nilai kesalahan itu kurang terlihat.
Tapi kalau direnungkan, uang Rp 150 miliar tidaklah kecil. Itulah biaya
sekolah yang harus dipikul perusahaan untuk "menyekolahkan" saya hingga bisa
menjadi seperti sekarang. Apakah itu karena saya seorang yang hanya lulus
madrasah aliyah (setingkat SMA)? Pernah kuliah, tapi hanya sampai tahun kedua?
Dari desa? Dan belum pernah memimpin perusahaan sebelumnya?
Mula-mula saya punya perasaan seperti itu. Tapi, di masa-masa awal
pembangunan Jawa Pos, kami belum bisa merekrut tenaga yang lulusan perguruan
tinggi terkemuka atau yang pengalamannya sudah luas. Standar gaji Jawa Pos kala
itu belum bisa dipakai bersaing dengan perusahaan besar lain. Tapi, saya punya
semacam "dendam" bahwa kalau suatu saat Jawa Pos sudah mampu, kami akan
merekrut tenaga-tenaga yang hebat. Begitulah. Dari tahun ke tahun, kualifikasi
tenaga baru Jawa Pos kian meningkat.
Enam tahun lalu, kami sudah bisa merekrut tenaga lulusan Amerika Serikat
dengan nilai yang hebat, berpengalaman kerja di sana beberapa tahun, percaya
dirinya sangat besar karena dari keluarga kaya, kemampuan bahasa asingnya tidak
hanya satu dan ketika dites lulusnya sempurna. Setelah kami coba beberapa
bulan, hasilnya sangat baik. Dalam waktu tiga tahun kami sudah memberikan
beberapa tanggung jawab yang besar. Sampai pada saatnya kami menyerahkan satu
tanggung jawab yang lebih besar, dan hasilnya: gagal. Lulusan USA yang hebat
itu, yang bukan sekadar lulusan aliyah itu, ternyata juga masih memerlukan
"biaya sekolah" lagi hampir Rp 10 miliar.
Apakah dia kami pecat? Tidak! Mengapa? Karena dia juga sudah menghasilkan
puluhan miliar! Juga karena dia tidak mengambil uang itu untuk dirinya. Dia
memang "hanya" salah dalam mengambil strategi bisnis. Yang disebut "salah" itu
sendiri sebenarnya juga belum tentu salah. Tahunya bahwa itu "salah" adalah
setelah kejadian. Sebelumnya, apa yang dia lakukan adalah sebuah "kebenaran".
Bahkan, kalau saja situasi tidak menyebabkan itu "salah", dia akan tercatat
sebagai orang yang "amat benar".
Begitulah di sebuah perusahaan: benar atau salah kadang baru bisa
diketahui dari hasilnya. Sesuatu yang diyakini benar, hasilnya bisa salah.
Sesuatu yang dikira salah, ternyata benar. Tapi, memang sering juga sesuatu
yang semula benar, akhirnya memang sangat benar.
Jadi, di HUT Ke-60 Jawa Pos ini, masih perlukah saya menceritakan kisah
sukses masa lalu, sebagai mana yang diminta panitia yang umumnya masih
muda-muda itu? Rasanya benar-benar tidak perlu. Kecuali sekadar untuk
mengagung-agungkan masa lalu agar tetap dihormati di masa kini dan terus
dikenang di masa yang akan datang. Wassalam!
[Non-text portions of this message have been removed]