http://www.sinarharapan.co.id/cetak/detail-cetak/article/pemprov-riau-tak-serius-tangani-kebakaran-hutan/
Kamis, 02 Juli 2009 15:07
Pemprov Riau Tak Serius Tangani Kebakaran Hutan
OLEH: DENNY WINSON
Pekanbaru - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau dinilai tidak serius menangani
kebakaran hutan dan lahan. Buktinya, hampir sepanjang tahun hingga hari ini,
aktivitas pembakaran hutan dan lahan terus berlangsung.
Demikian diungkapkan Juru Kampanye Hutan Greenpeace Asia Tenggara, Zulfahmi
dalam perbincangan dengan SH, Rabu (1/7) pagi. Dia berharap Pemprov Riau lebih
tegas dalam menindak pelaku pembakaran hutan dan lahan. "Sejak tahun 1997,
pemerintah baru mengadili satu kasus kebakaran hutan dan lahan. Ironisnya,
gugatan ini bukan dimotori oleh Pemprov Riau, tetapi malah dilakukan
Kementerian Lingkungan Hidup," tuturnya.
Padahal, dampak yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan cukup besar.
Greenpeace mencatat dalam enam bulan terakhir terjadi lima kali kebakaran hutan
di Riau. Kabut asap hasil dari kebakaran hutan dan lahan ini pun sudah lima
kali mengganggu aktivitas penerbangan. Di bidang kesehatan, dampak kabut asap
juga telah membuat kenaikan suhu udara di wilayah Riau cukup signifikan dalam
empat tahun terakhir. Ini karena lahan yang terbakar sebagian besar merupakan
hutan gambut yang sangat potensial melepaskan CO2."Melihat fenomena ini,
Pemprov Riau secepatnya mengambil inisiatif untuk menghentikan konversi hutan
alam dan hutan gambut dan melakukan jeda tebang. Jika dibiarkan lama, kelak
hutan Riau hanya tinggal kenangan," tutur Zulfahmi.
Juru Kampanye Hutan Greenpeace menambahkan, selama ini Pemprov Riau tidak
memiliki program pemadaman titik api secara sistematis. Pemprov melalui Tim
Penanggulanan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang bergerak melakukan
pemadaman setelah ditemukannya titik api. "Karena musibah ini terjadi berulang
kali dan setiap tahun, Pemprov Riau hendaknya memiliki program pemadaman
kebekaran hutan dan lahan yang sistematis. Selama ini upaya pemadaman titik api
lebih banyak ditolong oleh curah hujan. Namun, mengharapkan hujan saja tidak
cukup. Buktinya hari ini, meski turun hujan di sejumlah kota di Riau, jumlah
titik api yang terdeteksi cukup banyak," ujarnya lagi.
Pernyataan Zulfahmi ini memang tidak terbantahkan. Berdasar data satelit
National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) 18, hingga Selasa (30/6)
sore, terpantau 20 titik api yang tersebar enam kabupaten/kota di Riau.
Padahal, sehari sebelumnya, jumlah titik api di Riau hanya berkisar 10 titik.
20 Perusahaan Diselidiki
Sementara itu, data dari Badan Lingkungan Hidup Riau mencatat sepanjang Juni
2009, sedikitnya 6.700 hektare lahan terbakar. Lahan yang terbakar itu terletak
di hutan alam, perkebunan, Hutan Tanaman Industri (HTI), eks Hak Penguasaan
Hutan (HPH) dan areal peruntukan lain. "Kami telah mendesak kepala daerah di
kabupaten/kota di Riau untuk melakukan penyelidikan terhadap kasus kebakaran
hutan dan lahan. Disengaja atau tidak," tukas Fadrizal Labay, Kepala Badan
Lingkungan Hidup Riau.
Sebelumnya, Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Riau telah mengusut 20 perusahaan
terkait dugaan melakukan pembakaran hutan dan lahan. Dua puluh perusahaan itu
merupakan perusahaan pemegang HTI, HPH maupun perkebunan yang lahannya terbakar
dalam kurun waktu awal hingga pertengahan tahun 2009. Perusahaan-perusahaan
tersebut tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Riau. "Perusahaan-perusahaan
itu diselidiki karena di areal mereka ditemukan titik api," ujar Said Nurjaya,
Kepala Seksi Kebakaran Hutan dan Lahan Dishut Riau. n
Kembali ke : Cetak
[Non-text portions of this message have been removed]