Refleksi : Kalau isinya gosong bin kosong, apa yang mau dibicarakan?

http://www.sinarharapan.co.id/cetak/detail-cetak/article/kampanye-kaya-tema-miskin-isi/
Jumat, 03 Juli 2009 14:40 
Kampanye Kaya Tema, Miskin Isi
OLEH: SOEN'AN HADI POERNOMO



Kampanye Pemilihan Presiden kali ini tampak lebih baik. Kalau yang sebelumnya 
massa pemilih disuguhi pesta dan tampilan para artis dan kepopuleran public 
figure, kini telah disampaikan berbagai tema membangun bangsa, memaju-kan 
negara. Boleh dikata, kampanye capres/cawapres kali ini lebih rasional dan 
bernilai positif bagi pendidikan politik rakyat. Namun, nanti dulu, ja-nganlah 
cepat sepenuhnya puas. Memang lebih baik, telah meninggalkan subjektivitas dan 
primordialisme, menuju objektivitas, rasional, idealisme dan realisme. Telah 
berubah dari sekadar "siapa yang ber-kampanye (who)", beralih pada "apa yang 
dikampanyekan (what)". Akan tetapi, apa yang dikampanyekan masih berada di 
sekitar tema, belum pada isi materi yang terungkap dengan sistematis. Substansi 
yang disampaikan terserak, reaktif, tanpa alur yang jelas. Masih pada kulit, 
belum sampai pada isi.


     

Pasangan Mega-Prabowo disebut memiliki tema Kerakyatan. JK-Wiranto yang memakai 
semboyan "Lebih Cepat, Lebih Baik", mengusung tema Kemandirian. Adapun 
SBY-Boediono, yang berangkat dari optimisme kinerja masa kepresidenannya saat 
ini, bersemboyan "Lanjutkan!", dan me-ngambil sikap moderat dalam tema, yakni 
Jalan Tengah. Saat ini semua itu masih berfungsi sebagai bungkus, tanpa 
kejelasan isi yang sistematis menjabarkannya, tidak ada deretan pendek gagasan 
rencana ap-likatif yang bisa dibaca para pemilih.


Namanya kampanye, tentu saja bersifat rayuan. Kendati demikian, semestinya 
dibarengi dengan penjelasan produk yang ditawarkan, yakni gagasan dan rencana 
capres/cawapres seandainya kelak terpilih. Kampanye gagasan bukanlah hal yang 
baru. Sekitar empat abad sebelum Masehi, di Yunani, para pemikir, seperti 
Socrates, Plato, dan Aristoteles telah melakukan orasi di depan publik, di 
pojok pasar, di pinggir jalan, untuk mengampanyekan buah pikirannya. Isi 
tawaran Plato lebih pada idealisme, normatif dan logis, dengan metaforanya yang 
terkenal, yaitu Allegory of the Cave. Adapun Aristoteles-sang murid, berbeda 
pendapat, lebih bersifat realisme, praktis dan konkret.

Kebutuhan dan Keinginan Rakyat
Perkembangan politik di Indonesia juga menunjukkan sistematika pemikiran yang 
komunikatif, sangat berhasil dalam hitungan sejarah kampanye nasional. Pada 
saat perjuangan membebaskan Irian Barat, Bung Karno menggunakan tema 
menggabungkan idealisme dan realisme, sehingga jelas penjabarannya untuk 
dilaksanakan, yaitu Trikora. Tiga komando untuk rakyat meliputi kampanye 
pembubaran negara Papua bikinan Belanda, mengibarkan sang Merah-Putih di Irian 
Barat, dan menyelenggarakan mobilisasi umum dengan membentuk sukarelawan di 
seluruh pelosok Tanah Air.
Begitu pula saat pergantian tatanan kenegaraan dari Orde  Lama ke Orde Baru, 
Angkatan 66 telah mengkristalkan substansi perjuangan untuk di-kampanyekan, 
yaitu Tritura yang mengandung tuntutan pembubaran PKI, penurunan harga, dan 
pembentukan Kabinet Ampera. Dalam tingkat sektor, saya ingat Sarwono 
Kusumaatmaja pada saat memimpin Departemen Kelautan dan Perikanan, 
mengampanyekan tiga strategi secara komunikatif, yakni pengendalian penangkapan 
ikan yang di berbagai wilayah ditengarai sudah overfishing, pengembangan budi 
daya yang dikenal memiliki peluang dan prospek sangat besar, serta pembinaan 
mutu produk sebagai kunci peningkatan daya saing dan dukungan terhadap 
ketahanan pangan.


Agar tema kampanye dapat diikuti dengan substansi yang realistis, praktis dan 
dipahami, perlu terlebih dahulu dilakukan kajian mengenai kebutuhan dan 
keinginan masyarakat. Pada saat Jimmy Carter melontarkan tema kampanye "Why Is 
Not the Best?", disertakan pula hasil kajian yang menjawab kebutuhan dan 
keinginan publik, dalam kebijakan keberpihakan kepada masyarakat serta sikap 
makro terhadap negara komunis. Margareth Thatcher saat berkampanye dengan tema 
"There Is No Alternative (TINA)", menjawab kebutuhan dan keinginan 
masyarakatnya dengan rencana yang tegas memulihkan harga diri perekonomian 
Inggris.


Barack Obama setelah mendengar masukan dari berbagai pakar dan menggali 
langsung dari masyarakat, menjawab kebutuhan dan keinginan publik yang 
frustrasi terhadap melorotnya citra AS dan menurunnya percaya diri oleh resesi 
ekonomi, dengan tema kampanye Perubahan. Gagasan dan rencana yang ditawarkan 
bersifat kombinasi idealisme dan realisme, di antaranya memberikan kejelasan 
pertumbuhan ekonomi pasca-krisis, solusi perbedaan ras dan agama, dan 
mengantisipasi ancaman trans-nasional, seperti terorisme dan epidemi. Secara 
konkret juga dijanjikan kebijakan penaikan upah, kualitas pendidikan dasar dan 
menengah serta akses pendidikan tinggi bagi si miskin, keamanan masyarakat, 
kebersihan lingkungan, dan program pensiun yang baik.

Lebih Direpotkan Memilih Pasangan 
Substansi kampanye bisa juga diambil dari model program lain yang ternyata 
positif di negara lain, tapi dimodifikasi sesuai dengan kondisi khas negeri 
kita. Misalnya Saemaul-Undongnya Korea Selatan, sebagai koreksi pada strategi 
trickel down effect yang tidak menetes ke bawah. Bisa juga mengambil filosofi 
Grameen Bank di Bangladesh, yang lebih dinamis dari Bantuan Langsung Tunai 
(BLT). Bisa juga melihat keberpihakan Jepang terhadap pertanian. Di samping 
pengetatan mencegah penyempitan lahan dari konversi dan sistem warisan, juga 
memberikan subsidi dengan cara membeli gabah dengan harga mahal dari petani dan 
menjual beras murah kepada masyarakat.

Bisa juga mengisi program konkret yang secara luas dikampanyekan untuk rencana 
melakukan pembaruan sistem Otonomi Daerah sehingga bisa fokus mengembangkan 
keunggulan lokal, dengan tanpa ekses over acting. Menyuguhkan rencana 
pemberantasan korupsi di lapangan, karena sampai saat ini pungutan dan 
pemerasan terhadap pengusaha dan masyarakat masih saja banyak berlangsung. Atau 
penataan sektor informal secara progresif dan manusiawi, sehingga potensi 
rakyat yang besar tersebut dapat tertangani dengan positif. Sebagai negara 
kepulauan, bisa juga melirik pengemba-ngan budi daya mutiara di negara kecil 
Haiti, yang mampu menyejahterakan rakyat serta pemasok devisa yang sangat 
besar. Atau  secara serius dan terfokus mengembangkan wisata bahari, budi daya 
perikanan dan pengembangan mutu produknya, sehingga sleeping giant ini bisa 
menopang perekonomian bangsa.


Singkat kata, kampanye yang sudah ada perbaikan ini tidak sekadar lanjutkan dan 
lebih cepat lebih baik. Namun lebih dari itu, dapat menawarkan melanjutkan 
dengan berbagai perbaikan serta  lebih jelas dan konkret, lebih baik. Tapi, 
kondisi kampanye semacam ini sangat mudah dipahami. Persiapan kampanye lebih 
direpotkan untuk memilih "Siapa pasangannya", dibanding untuk mengkaji 
kebutuhan dan keinginan masyarakat. 

Penulis adalah anggota Dewan Pakar, Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN), Ketua 
Bidang Pengkajian dan Pengembangan, Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia 
(ISPIKANI).


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke