Lagu itu merupakan semacam pernyataan atau statement, kepada semua orang (diseluruh dunia) yang dapat mendengarkannya (jika anda sedang menyanyikan lagunya). Jadi statement itu : Indonesia tanah air ku, tanah tumpah darahku. di sanalah aku berdiri ( maksudnya, di Indonesia. Jadi lebih cocok kata disanalah dari pada disinilah. Karena tidak semua orang berada di Indonesia pada saat lagu itu dinyanyikan, lagi pula rasanya kata disana tidak berarti menunjukkan jarak), untuk itu coba kita tanya ahli bahasa Indonesia.
--- On Mon, 29/6/09, sunny <[email protected]> wrote: From: sunny <[email protected]> Subject: [ppiindia] Lagu Indonesia Raya Versi Baru To: [email protected] Date: Monday, 29 June, 2009, 10:52 AM Suara Merdeka Lagu Indonesia Raya Versi Baru Ditulis Oleh Muhajir Arrosyid 27-06-2009, Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku. Di sanalah aku berdiri, Jadi pandu ibuku. Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku. Marilah kita berseru "Indonesia bersatu!" Kalimat-kalimat di atas adalah bait pertama lagu Indonesia Raya, lagu kebanggan bangsa Indonesia. Saya tidak hendak melanjutkan perdebatan tentang lagu Indonesia Raya. Saya hanya hendak berpendapat sebagai seoarang awam. Saya mendengar dan menghafal lagu ini sejak masuk Taman Kanak-kanak. Setiap hari Senin pagi sebelum pelajaran dimulai diselenggarakan upacara bendera. Lagu Indonesia Raya dilantunkan bersama-sama oleh seluruh peserta upacara. Semua tangan kanan berada di depan kening memberi hormat kepada sang saka merah putih yang dikibarkan oleh tiga pengebar bendera. Dari TK sampai SMA rutinitas Senin ini masih berlangsung. Setiap Senin, saya mendengarkan lagu ini. Sejak kecil melalui lagu Indonesia Raya, saya mengenal Indonesia. Di SD kelas lima saat upacara bendera dan mendengar lagu Indonesia Raya timbul pertanyaan dalam diri saya. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal saat mendengar baris ke dua. 'Di sanalah aku berdiri'. Kenapa 'di sana', tidak 'di sini'?` Di SD oleh guru Bahasa Indonesia saya diajarkan membedakan arti kata 'di sana'dan 'di sini'. 'Di sana' dan 'di sini' adalah kata yang sama-sama menunjukan arah. 'Di sini' di gunakan jika kita bicara di suatu tempat akan menunjukan arah, arah yang akan kita tunjuk adalah tempat yang sekarang ditempati. Tidak terdapat jarak antara tempat berbicara dengan tempat yang dibicarakan. Contoh dalam kalimatnya kira-kira demikian; "Di mana kamu belajar mengaji?" tanya seorang pada temannya, dan temannya menjawab; "Di sini". Jawaban 'di sini' menunjukan di tempat tersebut orang yang di tanya belajar mengaji. 'Di sana' digunakan jika kita bicara di suatu tempat akan menunjukan arah, arah yang akan kita tunjuk adalah tempat yang sekarang tidak kita tempati. Terdapat jarak antara tempat berbicara dengan tempat yang dibicarakan. Misalnya kita sekarang sedang berada di lapangan, dan membicarakan sawah, maka kita menunjuk arah sawah dengan kata 'di sana'. Kembali ke lagu Indonesia Raya. Saya merasa ada kejanggalan di baris ke dua. 'Di sana lah aku berdiri, Jadi pandu ibuku'. Kita sekarang sedang berada di Indonesia, membicarakan tentang Indonesia, kenapa mengunakan kata 'di sana'? Pertanyaan ini pernah saya ajukan kepada guru bahasa Indonesia waktu SD dulu dan beliau tidak menjawab. Di SMP pertanyaan serupa saya tanyakan kepada guru Pendidikan Moral Pancarila, saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Guru saya menjawab "Ya memang yang buat lagu begitu." Setiap mendengar lagu Indonesia Raya ini selalu timbul pertanyaan dalam diri saya. Sampai ketika masuk SMA saya mereka-reka jawaban atas pertanyaan saya. Apakah lagu tersebut diciptakan di luar negeri sehingga menunjuk Indonesia dengan kata tunjuk 'di sana'? Menurut saya pengunakan kata 'di sana' karena lagu ini diciptakan jauh sebelum Indonesia menjadi Indonesia. Indonesia masih menjadi mimpi. Lagu Ini di dinyanyian pertama kali pada 28 Oktober 1928, maka logis jika mengunakan kata tunjuk 'di sana'. 'Di sana' nanti jika Indonesia sudah merdeka, saya akan menjadi pandu ibuku. Karena sekarang angan-angan pada 28 Oktober 1928 itu sudah menjadi kenyataan, bukan lagi sekedar angan-angan, maka menurut saya sudah saatnya kata 'di sana' dalam lagu Indonesia Raya diganti dengan kata 'di sini'. Dengan diubahnya kata 'di sana' lagu ini akan lebih terasa gregetnya. Kita bernyanyi tidak sekedar bermimpi, berangan-angan tetapi juga merasakan dan menjiwainya dan melakukannya. Mari kita nyanyikan lagu Indonesia Raya versi yang saya usulkan; Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku. Disinilah aku berdiri, Jadi pandu ibuku. Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku. Marilah kita berseru "Indonesia bersatu!" Muhajir Arrosyid, penulis buku Kumpulan Cerita Pendek Di Atas Tumpukan Jerami. [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]

