selain apa yang dibicarakan patut diketahui bahwa komponis lagu indonesia raya 
itu berorientasi femenis  yang cinta ibu maka oleh karena itu ditulis "pandu 
ibuku", kalau berpaham macho pasti dia tulis pandu ayahku :-)) 

  ----- Original Message ----- 
  From: masjhud 
  To: [email protected] 
  Sent: Saturday, July 04, 2009 6:10 AM
  Subject: Re: [ppiindia] Lagu Indonesia Raya Versi Baru






  Maksud anda, kalau kita sedang berada di Indonesia, syairnya jadi "disinilah 
aku berdiri......" dan waktu kita berada diluar Indonesia syairnya jadi 
"disanalah aku berdiri......." ?

  Begitu juga kalau kita sedang tidak 
berdiri......................................

  Saya sekarang kebetulan berada di Jakarta, dan Indonesia yang saya maksud 
adalah dari Sabang sampai Merauke. Nah, disanalah aku berdiri, tentu saja bukan 
dalam pengertian berdiri yang bukan duduk saja. 

  Ini memang soal "rasa", bukan sekedar omongan biasa.

  ms

   
   

  ________________________________
  From: Ahmad Syukri <[email protected]>
  To: [email protected]
  Sent: Saturday, July 4, 2009 10:00:50 AM
  Subject: Re: [ppiindia] Lagu Indonesia Raya Versi Baru

  Lagu itu merupakan semacam pernyataan atau statement, kepada semua orang 
(diseluruh dunia) yang dapat mendengarkannya (jika anda sedang menyanyikan 
lagunya).
  Jadi statement itu :  Indonesia tanah air ku, tanah tumpah darahku.
  di sanalah aku berdiri ( maksudnya, di Indonesia. Jadi lebih cocok kata 
disanalah dari pada disinilah. Karena tidak semua orang berada di Indonesia 
pada saat lagu itu dinyanyikan, lagi pula rasanya kata disana tidak berarti 
menunjukkan jarak), untuk itu coba kita tanya ahli bahasa Indonesia.

  --- On Mon, 29/6/09, sunny <am...@tele2. se> wrote:

  From: sunny <am...@tele2. se>
  Subject: [ppiindia] Lagu Indonesia Raya Versi Baru
  To: Undisclosed- Recipient@ yahoo.com
  Date: Monday, 29 June, 2009, 10:52 AM

  Suara Merdeka

  Lagu Indonesia Raya Versi Baru 
  Ditulis Oleh Muhajir Arrosyid 

  27-06-2009, 
  Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku.
  Di sanalah aku berdiri, Jadi pandu ibuku.
  Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku.
  Marilah kita berseru "Indonesia bersatu!"

  Kalimat-kalimat di atas adalah bait pertama lagu Indonesia Raya, lagu 
kebanggan bangsa Indonesia. Saya tidak hendak melanjutkan perdebatan tentang 
lagu Indonesia Raya. Saya hanya hendak berpendapat sebagai seoarang awam. Saya 
mendengar dan menghafal lagu ini sejak masuk Taman Kanak-kanak. Setiap hari 
Senin pagi sebelum pelajaran dimulai diselenggarakan upacara bendera. Lagu 
Indonesia Raya dilantunkan bersama-sama oleh seluruh peserta upacara. Semua 
tangan kanan berada di depan kening memberi hormat kepada sang saka merah putih 
yang dikibarkan oleh tiga pengebar bendera.

  Dari TK sampai SMA rutinitas Senin ini masih berlangsung. Setiap Senin, saya 
mendengarkan lagu ini. Sejak kecil melalui lagu Indonesia Raya, saya mengenal 
Indonesia. Di SD kelas lima saat upacara bendera dan mendengar lagu Indonesia 
Raya timbul pertanyaan dalam diri saya. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal 
saat mendengar baris ke dua. 'Di sanalah aku berdiri'. Kenapa 'di sana', tidak 
'di sini'?`

  Di SD oleh guru Bahasa Indonesia saya diajarkan membedakan arti kata 'di 
sana'dan 'di sini'. 'Di sana' dan 'di sini' adalah kata yang sama-sama 
menunjukan arah. 'Di sini' di gunakan jika kita bicara di suatu tempat akan 
menunjukan arah, arah yang akan kita tunjuk adalah tempat yang sekarang 
ditempati. Tidak terdapat jarak antara tempat berbicara dengan tempat yang 
dibicarakan. Contoh dalam kalimatnya kira-kira demikian; "Di mana kamu belajar 
mengaji?" tanya seorang pada temannya, dan temannya menjawab; "Di sini". 
Jawaban 'di sini' menunjukan di tempat tersebut orang yang di tanya belajar 
mengaji.

  'Di sana' digunakan jika kita bicara di suatu tempat akan menunjukan arah, 
arah yang akan kita tunjuk adalah tempat yang sekarang tidak kita tempati. 
Terdapat jarak antara tempat berbicara dengan tempat yang dibicarakan. Misalnya 
kita sekarang sedang berada di lapangan, dan membicarakan sawah, maka kita 
menunjuk arah sawah dengan kata 'di sana'.

  Kembali ke lagu Indonesia Raya. Saya merasa ada kejanggalan di baris ke dua. 
'Di sana lah aku berdiri, Jadi pandu ibuku'. Kita sekarang sedang berada di 
Indonesia, membicarakan tentang Indonesia, kenapa mengunakan kata 'di sana'? 
Pertanyaan ini pernah saya ajukan kepada guru bahasa Indonesia waktu SD dulu 
dan beliau tidak menjawab. Di SMP pertanyaan serupa saya tanyakan kepada guru 
Pendidikan Moral Pancarila, saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Guru 
saya menjawab "Ya memang yang buat lagu begitu."

  Setiap mendengar lagu Indonesia Raya ini selalu timbul pertanyaan dalam diri 
saya. Sampai ketika masuk SMA saya mereka-reka jawaban atas pertanyaan saya. 
Apakah lagu tersebut diciptakan di luar negeri sehingga menunjuk Indonesia 
dengan kata tunjuk 'di sana'?

  Menurut saya pengunakan kata 'di sana' karena lagu ini diciptakan jauh 
sebelum Indonesia menjadi Indonesia. Indonesia masih menjadi mimpi. Lagu Ini di 
dinyanyian pertama kali pada 28 Oktober 1928, maka logis jika mengunakan kata 
tunjuk 'di sana'.

  'Di sana' nanti jika Indonesia sudah merdeka, saya akan menjadi pandu ibuku. 
Karena sekarang angan-angan pada 28 Oktober 1928 itu sudah menjadi kenyataan, 
bukan lagi sekedar angan-angan, maka menurut saya sudah saatnya kata 'di sana' 
dalam lagu Indonesia Raya diganti dengan kata 'di sini'.

  Dengan diubahnya kata 'di sana' lagu ini akan lebih terasa gregetnya. Kita 
bernyanyi tidak sekedar bermimpi, berangan-angan tetapi juga merasakan dan 
menjiwainya dan melakukannya.

  Mari kita nyanyikan lagu Indonesia Raya versi yang saya usulkan;

  Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku.
  Disinilah aku berdiri, Jadi pandu ibuku.
  Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku.
  Marilah kita berseru "Indonesia bersatu!"

  Muhajir Arrosyid, penulis buku Kumpulan Cerita Pendek Di Atas Tumpukan Jerami.



  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke