http://www.gatra.com/artikel.php?id=127897


Gajah Mati Ketika Lintasan Gajah Berimpit Kebun Sawit


Dalam waktu sebulan, tujuh gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrae) di Riau 
menjadi korban pembantaian. Bukan saja gajah liar, gajah peliharaan pun menjadi 
sasaran. Korban terakhir, gajah jantan peliharaan PT Indah Kiat Pulp and Paper 
ditemukan mati, Jumat dua pekan lalu. Gadingnya sepanjang 1 meter hilang. Ini 
merupakan kasus ketiga selama tahun 2009.

Humas PT Indah Kiat, Nurulhuda, menjelaskan bahwa perusahaannya memelihara 
sembilan ekor gajah. Masing-masing memiliki pawang sendiri. Dan Tongli, gajah 
yang mati itu, adalah pemimpin gajah-gajah lainnya. Tongli yang berusia 30 
tahun sudah 15 tahun berada dalam pemeliharaan PT Indah Kiat. "Kami kecolongan, 
Tongli terbunuh, kini tinggal delapan ekor teman Tongli yang akan dijaga lebih 
ketat oleh perusahaan," katanya.

Pembantaian gajah pertama kali terjadi pada 8 Mei silam, dengan ditemukannya 
dua bangkai gajah di Pusat Latihan Gajah Minas, Kabupaten Siak. Kepala hewan 
itu hancur karena rahangnya dipotong dengan kapak hingga terbelah. Pelaku 
mencabut gading yang ditemukan tidak jauh dari lokasi bangkai gajah itu. 
Diduga, pelaku tidak berani membawa keluar barang langka yang amat berharga itu 
karena hari telanjur siang.

Gading gajah di pasar gelap harganya sekitar Rp 25 juta per kilogram. Berat 
gading sepanjang 1 meter tak kurang dari 30 kilogram. Menurut Muslino, seorang 
pelatih gajah, pembunuh dua gajah itu diduga kuat adalah pemburu mahir.

Mereka mengetahui seluk-beluk gajah dan mengenal lokasi pusat pelatihan. 
Penggembalaan gajah berada jauh di tengah hutan dan tidak diketahui orang 
kebanyakan. "Selain itu, orang biasa tidak akan mudah mendekati gajah secara 
sembarangan. Mereka tampaknya sudah terlatih," katanya. Di pusat pelatihan 
terdapat tidak kurang dari 32 ekor gajah.

Selain peristiwa itu, empat ekor gajah hangus terbakar di kawasan konsesi PT 
Rimba Peranap Indah, anak perusahaan PT Riau Andalan Pulp and Paper. Lokasi ini 
berdekatan dengan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Dua gajah jantan dewasa 
berusia 20 tahun dan dua gajah betina berusia 20 tahun, serta anaknya yang 
berumur lima tahun, mati karena konflik dengan manusia. Gajah-gajah itu kerap 
memakan dan menghancurkan tanaman sawit milik warga.

Maka, sawit-sawit sepanjang satu kilometer pun dilumuri racun babi. Syahimin, 
Kepala Teknis Balai Konservasi Sumber Daya Alam Riau, mengatakan bahwa matinya 
dua gajah di pusat latihan dan empat gajah liar di hutan konsesi PT Rimba 
Peranap itu diduga karena racun. "Secara kasatmata, penyebab kematian itu 
adalah diracun. Tapi memang kami masih menunggu hasil valid dari laboratorium 
Bukittinggi," katanya. Menurut Syahimin, ini kejadian luar biasa karena dalam 
waktu kurang dari dua bulan, tujuh ekor gajah mati dibunuh di Riau.

Syamsidar, juru bicara WWF Riau, menyayangkan kasus kematian gajah di Riau itu. 
Sedangkan matinya Tongli dan gajah di pusat pelatihan tadi terjadi karena 
pembunuh ingin mengambil gadingnya, dan terbunuhnya empat ekor gajah liar di 
hutan konsesi Rimba Peranap justru karena konflik dengan manusia. Menurut 
Syamsidar, lokasi itu merupakan wilayah jelajah gajah untuk menuju Taman 
Nasional Tesso Nilo. Ada enam titik jelajah gajah, dan salah satunya berada di 
hutan konsesi Rimba Peranap.

"Wilayah jelajah gajah itu sudah beralih fungsi menjadi kawasan hutan tanaman 
industri. Kebun sawit seluas 800 hektare menjadi milik warga binaan koperasi 
PTPN V. Masyarakat petani sawit tidak memberi ruang kepada gajah untuk bisa 
berlalu lalang ke habitatnya di Taman Nasional Tesso Nilo," Syamsidar 
menguraikan. Empat ekor gajah yang mati itu merupakan anggota sekitar 70 ekor 
gajah di taman nasional tersebut.

Syamsidar menyayangkan lambatnya pengusutan kasus pembunuhan gajah-gajah itu. 
Polisi baru sampai tahap pemeriksaan saksi-saksi dari Balai Konservasi dan WWF. 
Belum ada yang jadi tersangka. Ke depan, gajah-gajah yang melintas di area 
sawit amat rawan tertimpa kasus yang sama. "Habitat gajah sudah terganggu, 
akibatnya amat rawan berkonflik dengan manusia, dan akhirnya kami khawatir 
gajah-gajah itu dibunuh," katanya.

Saat ini, WWF hanya bisa melakukan antisipasi dengan membentuk tim pengusiran 
gajah liar kembali ke habitatnya di taman nasional. Juga memberikan penyuluhan 
kepada masyarakat bagaimana menangani gajah-gajah liar ketika mengganggu 
perkebunan mereka. "Kami tunjukkan cara mengusir gajah dengan membuat meriam 
dari paralon yang menyebabkan bunyi keras," tuturnya. Bukan dengan melemparkan 
api ke gajah-gajah itu.

WWF juga meminta masyarakat kembali memberi jalan untuk lintasan gajah. "Tidak 
semuanya dijadikan sebagai perkebunan sawit," katanya. Syamsidar menduga, 
gajah-gajah yang mati di kawasan hutan tanaman industri Rimba Peranap makan 
sawit masyarakat yang diolesi racun. "Jadi, habitat gajah bukan di lahan 
konsesi Rimba Peranap, melainkan di taman nasional. Kawasan itu hanya lintasan 
gajah keluar-masuk habitatnya," ujarnya.

Broto, Humas Rimba Peranap, membenarkan bahwa areal konsesinya merupakan 
lintasan gajah. "Banyak ditemukan kotoran gajah," katanya. Namun, menurut dia, 
selama ini hutan tanaman industri perusahaannya tidak terganggu. Hanya saja, 
kebun sawit yang lokasinya berdekatan dengan daerah konsesinya kerap diganggu 
gajah, karena gajah-gajah itu memakan batang-batang sawit.

Broto mengakui, sebetulnya ladang sawit seluas 800 hektare itu masuk kawasan 
konsesi Rimba Peranap. Tapi, entah bagaimana awalnya, sekarang menjadi ladang 
sawit masyarakat. Menurut Broto, tidak mungkin gajah mengganggu masyarakat, 
karena kebun sawit itu berjarak 40 kilometer lebih dari perkampungan warga. 
"Bahkan lokasi gajah yang mati itu sangat jauh dari perkampungan penduduk. 
Jadi, gajah tidak mengganggu warga, tapi memakan sawit warga," tuturnya.

Kini kasus matinya gajah-gajah itu ditangani dua polsek. Gajah yang mati di 
kawasan konsesi rimba Peranap ditangani Polsek Ukui, Kabupaten Pelalawan. 
Sedangkan gajah yang mati di kawasan pusat latihan ditangani Polsek Minas, 
Kabupaten Siak. Menurut Kapolsek Ukui, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Edi Munawar, 
pihaknya belum bisa menangkap tersangka, karena belum ada hasil otopsi dan uji 
laboratorium yang pasti dari Balai Konservasi Riau.

"Kami sudah memeriksa tiga saksi dari Rimba Peranap dan lima saksi dari Balai 
Konservasi. Tapi belum ada tindakan lebih lanjut, karena belum ada hasil otopsi 
gajah dan lab atas pelepah dan batang sawit yang diduga diolesi racun," katanya.

Sedangkan Kapolsek Minas, AKP Sugeng, yang menangani kematian Tongli dan dua 
gajah di pusat latihan, menyatakan bahwa kasus ini masih dalam tahap 
penyelidikan. Baru satu saksi yang dimintai keterangan. Polisi baru akan 
meminta keterangan dari karyawan dan pawang yang bertugas serta menunggu hasil 
uji lab dan otopsi bangkai gajah.

Rohmat Haryadi, dan Luzi Diamanda (Pekanbaru)
[Lingkungan, Gatra Nomor 33 Beredar Kamis, 25 Juni 2009] 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke