Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary sudah semakin bingung dan panik, akhirnya berbuat 
serba tidak karuan. Ini semakin menunjukkan bahwa KPU dibawah Pimpinan beliau 
miskin kapasitas, kurang memahami hukum, prosedur dan mekanisme Pemilu dan 
Pilpres. Coba menjelang Pilpres aja DPT masih bermasalah, kemana dan kerja apa 
mereka selama ini??? Uang puluhan trillium dikamanakan. Pantasnya mereka masuk 
ke penjara. Mereka harus mundur dan bertanggung jawab. Proses Hukum Solusinya
 
Patrick

--- On Mon, 6/7/09, sunny <[email protected]> wrote:


From: sunny <[email protected]>
Subject: [ppiindia] Datangi BIN, KPU Mainkan Teror Politik
To: [email protected]
Received: Monday, 6 July, 2009, 1:32 PM








http://www.fajar. co.id/index. php?option= news&id=63508

Senin, 06-07-09 | 10:47 | 96 View

Datangi BIN, KPU Mainkan Teror Politik

JAKARTA -- Inisiatif Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Abdul Hafiz Anshary 
menemui Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir Siregar Jumat lalu terkait 
dengan potensi gangguan pada hari H pemungutan suara pilpres menuai kritik. 
Langkah ketua KPU itu dianggap sudah keluar dari norma demokrasi dan acuan di 
UU Pilpres.

"Kalau urusan pengamanan pemilu, KPU seharusnya berkoordinasi dengan polisi. UU 
mengatur begitu," kata Direktur Lingkar Madani (Lima) Ray Rangkuti di Restoran 
Omah Sendok, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 5 Juli 2009. Dia mengimbau agar 
BIN menolak bila KPU meminta BIN untuk terlibat aktif dalam pengamanan pilpres. 

Menurut dia, BIN yang menjalankan fungsi "mata-mata" bersifat independen. 
Institusi tersebut langsung berada di bawah presiden. Karena itu, BIN hanya 
menerima instruksi langsung dari presiden. "Kalau nanti ini menjadi preseden, 
Komnas HAM atau KPK minta jasa BIN dengan alasan berbagi informasi kan repot," 
tegas mantan aktivis mahasiswa itu. 

Ray menilai, pertemuan ketua KPU dengan kepala BIN lebih terasa sebagai politik 
teror terhadap proses demokrasi yang sedang tumbuh. "Apalagi masih ada 
kengerian terhadap peran BIN semasa Orba," tegasnya. 

Jubir Blok Perubahan Adhie Massardi mengatakan, KPU seharusnya membersihkan 
daftar pemilih tetap (DPT) dari data-data pemilih ganda. Bukan melindungi diri 
dengan kawat berduri dan sekarang meminta "perlindungan" BIN. 

Menurut Adhie, suatu institusi demokrasi yang mengundang keterlibatan BIN 
merupakan kesalahan besar. Tanpa dimintai tolong sekalipun, ungkap dia, BIN 
tentunya akan ikut mengamankan agenda politik dalam negeri sesuai batas 
kewenangan yang diatur undang-undang. "BIN sebaiknya mengingatkan KPU agar 
jangan dipakai sebagai pemadam kebakaran," ujarnya. (pri/agm/jpnn) 

[Non-text portions of this message have been removed]

















      
____________________________________________________________________________________
Access Yahoo!7 Mail on your mobile. Anytime. Anywhere.
Show me how: http://au.mobile.yahoo.com/mail

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke