TIDAK ADA KEJUTAN PADA 8 JULI
 
Oleh: Dr.Terry Lacey
Setelah pemilu pada tanggal 9 April lalu, pemilihan presiden Republik Indonesia 
akan diselenggarakan pada tanggal 8 Juli. Secara luas diharapkan bahwa Presiden 
Susilo Bambang Yudhoyono, yang memimpin koalisi Partai Demokrat dan 
Partai-Partai Islam, dari hasil polling akan memperoleh kemenangan 60%. Tapi 
ada tanda-tanda bahwa suaranya akan turun sedikit selama kampanye, jadi 
hasilnya mungkin akan sedikit berbeda dari yang telah diantisipasi.
Jika Yudhoyono mendapatkan suara dibawah 50% dan dilakukan pemilihan putaran 
kedua maka koalisi yang kuat dari lawannya mungkin akan mendapatkan kesempatan 
untuk menang di putaran kedua. Koalisi dari partai-partai yang kalah mungkin 
kemudian akan menjadi koalisi dari para pemenang di putaran kedua pemilihan 
presiden.
Selama Yudhoyono dapat menang dengan 50% lebih suara pada tanggal 8 Juli, maka 
tidak akan ada putaran kedua. Tapi jika jumlah suara yang menurun untuk SBY 
meningkat dalam beberapa hari belakangan ini dan memberikan ketidakpastian atas 
“ketidaktahuan”, maka suara untuk Partai Demokrat dan koalisinya dapat hanya 
mendekati jumlah persentase minimum untuk memenangkan pemilihan dalam hanya 
satu putaran. (lebih sedikit diatas 50%)
Jajak pendapat terakhir yang dilakukan oleh Lembaga Survey indonesia (LSI) dan 
mencakup 3000 pemilih menunjukkan bahwa dukungan untuk SBY telah jatuh dari 67% 
(pada tanggal 20 Juni) menjadi 63,1% pada tanggal 3 Juli. Lima hari lagi menuju 
hari pemilihan. Apa yang akan terjadi selama 5 hari ini ?
Megawati Soekarnoputri, pemimpin dari Partai PDI-P, dengan pendampingnya mantan 
jendral Prabowo Subianto, pemimpin Partai Gerindra, berada ditempat kedua 
dengan perolehan 19,6% dalam survey ini.
Namun inti suara dari PDI-P dan Gerindra dapat menghasilkan suara lebih dari 
pada hari itu, mencapai 25% jika mereka dapat ,memperoleh seluruh suara dari 
partai mereka dan mendapatkan sedikit lagi jika mereka dapat melakukan apa yang 
disebut “Prabowo effect” pada saat-saat terakhir pemilihan.
Kandidat presiden ini melakukan hal yang sedikit bila dilihat dari ‘track 
record’nya, kekuatan partai dibelakangnya dan gaya kampanyenya yang besar 
adalah Jusuf Kalla, dari Partai Golkar, yang juga sedang berjuang dalam 
pemilihan dengan pendampingnya Wiranto, pemimpin dari Partai Hanura. Menurut 
jajak pendapat yang dilakukan LIPI, dia hanya mendapatkan suara 11,6%, dibawah 
angka yang diperoleh partainya pada pemilu yang lalu.
Ketika saya pertama ditanya beberapa tahun yang lalu oleh Profesor Mackenzie di 
Manchester University untuk menulis sebuah esei tentang psephology, ilmu 
statistik dalam pemilu, saya tidak yakin bahwa psephology ini berada pada jalur 
yang tepat.
Tampaknya bermain dengan angka-angka statistic dalam pemilu dan perilaku 
pemungutan suara lebih terlihat seperti sebuah kegiatan pemasaran komersial, 
dimana dapat saya asumsikan bahwa seseorang akan mendapat apa yang mereka bayar 
untuknya.
Memang survey LIPI dibayar oleh Fox Indonesia, konsultan politik yang dikontrak 
oleh Partai Demokrat. Meskipun demikian survey LSI secara tidak diragukan telah 
melakukan pekerjaannya secara profesional. Namun ’iblis’ mungkin berada dalam 
gelap, dengan ketidaktahuan dan keragu-raguan.
Jadi ketika saya menulis karya akademik pertama tentang mengapa orang-orang 
memilih Liberal di UK, saya secara statistic menghubungkan suara dari Partai 
Liberal dengan turunnya hujan dan jumlah domba per square mil. Hal tersebut 
dapat berkerja dengan baik kecuali untuk sebuah tempat yang disebut Orpington, 
kota pinggiran London dengan jumlah domba dan curah hujan yang tidak cukup dan 
tidak sesuai dengan teori saya.
Presiden Indonesia sat ini telah memimpin pemerintahan yang telah 
mempertahankan pertumbuhan sebesar 4,5% selama krisis ekonomi global, tingkat 
‘consumer confidence’ tertinggi dalam beberapa tahun ini, tingkat inflasi 
terendah selama sembilan tahun dan telah mengurangi angka kemiskinan sebanyak 
25% dalam tiga tahun.
Dengan pendampingnya yang bersih Boediono, mantan Gubernur BI dan Menteri 
Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang mungkin akan masuk ke bank Indonesia, 
pemerintahan ini seharusnya memiliki kekuatan dalam ekonomi.
Tapi orang-orang tidak selalu memilih pada hari pemilihan seperti yang 
diperkirakan para ahli.
Ada dua sisi pada negara kepulauan yang besar ini, jumlah penduduknya yang 
sebesar 235 juta orang dan 171 juta pemilih.
Ada kekuatan ekonomi dan sosial yang mencoba untuk memodernisasinya dan 
menariknya bersama dengan sebuah kombinasi dari teknokrasi, demokrasi, 
modernitas dan kesuksesan. Koalisi ini dipimpin oleh Presiden menjabat sekarang.
Tapi ada pihak lain, dimana kekuatan sosial dan ekonomi lebih pada marjinnya, 
kelompok-kelompok yang telah kalah dalam satu dekade belakangan ini dan 
sekarang berada dalam bayangan, seperti wayang kulit.
Ada kekuatan sentrifugal di Indonesia, yang kadang-kadang mencoba untuk 
memisahkan segalanya, sehingga pihak lainnya dapat menyatukan mereka dengan 
cara lain. Mungkin lebih seperti cara lama, dimana kebanyakan orang masih 
menggunakannya. Dengan kepemimpinan yang kuat. Koordinasi yang terpusat dan 
disiplin. Mereka ingin mengurangi sedikit surplus demokrasi dari penyuapan dan 
perlindungan yang banyak merugikan dan tampaknya membawa sedikit manfaat. Namun 
akankah mereka lebih baik?
Ketika ‘Duke of Wellington’ berada di pertempuran Waterloo, dia menghentikan 
seorang tentara Irlandia yang sedang berjalan dengan babi didalam tasnya dan 
penalti untuk merampas adalah hukuman mati. “Bagaimana kamu mendapatkannya? 
Duke berkata.  “Saya tidak tahu bagaimana babi itu bisa berada di dalam tas itu 
Tuanku, tapi pasti dia ingin menemukan rumah untuk tempat tinggal”.
“Haruskah saya menembaknya Tuanku?” kata tentara itu. ”Tidak” kata Wellington. 
“Buat babi itu menjadi kopral”. “Mengapa Tuanku?”. “Karena ada seorang pria, 
yang tahu bagaimana membela posisi yang tidak dapat dipertahankan”.
Begitu juga dengan Prabowo, kuda hitam dalam pemilihan, yang harus memulai dari 
suatu tempat, walaupun dari sebuah posisi virtual yang tidak dapat 
dipertahankan. Koalisi antara Mega dan Prabowo seperti dua lawan lama, yang 
sekarang memutuskan untuk berjuang bersama, melawan oposisi yang kuat.
Tapi Prabowo membawa dengannya dana kampanye yang besar. Sesuatu yang memiliki 
kesempatan untuk bersaing dengan kekuatan Yudhoyono, namun berdasar pada partai 
nasionalis kecil yang baru. Kemudian dia bergabung dengan PDI-P yang mana masih 
memiliki dukungan kuat, yang dapat dibangun di masa datang.
Tampaknya dia dan Mega, berlandaskan pada improvisasi politik yang kuat, telah 
mencoba untuk mengorganisir ‘outsider’ melawan ‘insider’ yang baru, pihak yang 
kalah melawan pemenang baru, memulai kampanye di lokasi penimbunan dan mencoba 
menarik hati masyarakat Jawa Timur dan orang-orang pedesaan untuk mendapatkan 
dukungan dari para petani dan pekerja rendah. Kita tidak akan mengetahui dampak 
penuh dari keadaan ini sampai hasil pemilihan suara dihitung.
Kampanye politik modern berhubungan dengan uang. Koalisi Demokrat di danai 
dengan baik dan iklan televisinya sangat professional. Kedua anak saya yang 
berumur dua dan tiga tahun yakin SBY akan menang dan menyanyikan lagu ‘mie’-nya 
di dalam mobil (dia telah mengambil jingle Indomie untuk iklannya) dan mereka 
tahu setiap katanya. Anak-anak adalah indikator yang baik yang mana mempunyai 
dampak yang besar dalam kampanye pemilihan tersebut.
Ketika saya membawa istri saya ke Ouagadougou di Burkina Fasso untuk bulan madu 
di tepi padang pasir Sahara, satu-satunya hal yang sangat familiar adalah 
Indomie yang berada di Supermarket Lebanese. Mie Indonesia telah menaklukan 
dunia, dan pada 8 Juli lagu Indomie tersebut mungkin akan mengalahkan kekuatan 
politik dalam Pilpres.
Megawati Soekarnoputri, ikon dari kelompok miskin dan kurang mampu dan oposisi 
dari Soeharto berdampingan dengan mantan jenderal muda dalam kepemimpinannya 
yang baru untuk membawa pertumbuhan ekonomi dan sumber daya pemerintah kepada 
rakyat Indonesia. “Apa itu ekonomi popular?” mereka bertanya. “Tanya padanya, 
dia tahu jawabannya” kata Mega, dan saya akan mendukungnya”.
Kadang-kadang dalam politik kesederhanaan secara mengagetkan dapat mengalahkan 
kecanggihan.
Dan dimana saya melihat hal itu terakhir kali ? Saya berada di Caracas ketika 
seorang pegawai muda yang populis mengklaim mantel dari Simon Bolivar menjadi 
sebuah pertarungan untuk kaum miskin dan tidak berdaya, memimpin sebuah kudeta 
yang hampir membuatnya terbunuh. Tapi pertikaian politik yang bangkrut tidak 
akan membawa negara kemana-mana, jadi mereka menyelamatkan dia. Cukup banyak 
orang telah mempercayainya atau pada apa yang diyakininya, dan dia akhirnya 
menghindari pertempuran. Namanya adalah Hugo Chavez.
Jadi tampaknya jelas bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan timnya mungkin 
akan memenangkan pemilihan mendatang, dan dari kinerjanya terdahulu dia akan 
memperoleh sukses.
Namun saya masih memikirkan tentang kuda hitam itu dan kita tidak akan tahu 
seberapa jauh dia telah berlari sejauh ini sampai hasil suara dihitung.
Dr. Terry Lacey adalah kontributor editor Indonesia Media yang menulis dari 
Jakarta, beliau sebagai ekonom yang menulis tentang modernisasi dalam dunia 
muslim, investasi dan hubungan perdagangan dengan Uni Eropa dan juga Islamic 
Banking.
 
 
http://indonesiamed ia.com/2009/ 7/early/berta/ tracey.htm


 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke