Analisis





06-07-2009

Pilpres Indonesia

Mewaspadai Modus Operandi Amerika Rekayasa Hasil Pemilihan Presiden Indonesia

Penulis : Hendrajit


Dibaca : 21 | Rating :  ()

 
Operasi intelijen Amerika Serikat rekayasa kemenangan calon presiden negara 
lain yang dianggap bersahabat dengan pemerintahan Gedung Putih di Washington, 
nampaknya bukan sekadar rekaan belaka. Buktinya Departemen Luar Negeri Iran 
baru-baru ini melayangkan nota protes kepada Kedutaan Besar Amerika dan 
negara-negara Uni Eropa. 



Operasi intelijen Amerika Serikat rekayasa kemenangan calon presiden negara 
lain yang dianggap bersahabat dengan pemerintahan Gedung Putih di Washington, 
nampaknya bukan sekadar rekaan belaka. Buktinya Departemen Luar Negeri Iran 
baru-baru ini melayangkan nota protes kepada Kedutaan Besar Amerika dan 
negara-negara Uni Eropa. Karena pihak berwenang Iran rupanya menditeksi bahwa 
gelombang protes yang dilakukan oleh para pendukung Capres Mir Husen Musavi 
mendapat dukungan diam-diam dari beberpaa elemen asing di Teheran. 

Iran memang sudah sewajarnya untuk waspada terhadap operasi intelijen ala CIA 
Amerika tersebut. Pada Agustus 1953, CIA yang ketika itu menugaskan Kermit 
(Kim) Roosevelt, sebagai koordinator operasi di Teheran, untuk menggulingkan 
Perdana Menteri Mossadegh yang oleh Amerika dianggap berhaluan nasionalis, dan 
bermaksud untuk menasionalisasikan seluruh perusahaan-perusahaan asing yang 
beroperasi di Iran, khususnya yang bergerak dalam sektor minyak. 

Seperti yang secara panjang lebar sempat kami tulis di situs ini beberapa waktu 
yang lalu, operasi intelijen menggusur Mossadegh diberi nama Operasi Ajax. 
Caranya, dengan menggalang dukungan militer di lapisan tengah komando. Artinya, 
CIA tidak segan-segan untuk menciptakan perpecahan di internal angkatan 
bersenjata Iran itu sendiri, bahkan mengkondisikan terjadinya pemberontokan 
beberapa perwira bawahan terhadap atasanya. 

Itulah yang dilakukan oleh pasukan pemberontak yang dipimpin oleh Jenderal 
Zahedi sehingga atasannya, Kepala Staf Keamanan kabinet Jenderal Taghi Riahi, 
yang sebenarnya sudah mengetahui adanya rencana kudeta CIA yang dirancang Kim 
Roosevelt, pada akhirnya justru ditelikung dari belakang Jenderal Zahedi dan 
anak buahnya yang notabene merupakan bawahan Jenderal Taghi Riahi di jajaran 
komando kemiliteran.

Keberanian Jenderal Zahedi rupanya didorong oleh Kim Roosevelt, yang 
mengkoordinasikan seluruh operasi intelijen melawan Mossadegh yang ketika itu 
secara de fakto merupakan penguasa politik Iran menyusul tergusurnya Shah Iran 
oleh gerakan Mossadegh. Jadi, operasi Ajax sebenarnya bertujuan memulihkan 
kembali rezim Shah Iran ke tampuk kekuasaan.

Maka disusunlah beberapa langkah strategis yang dirancang CIA. Pertama, melalui 
kantor berita Associated Press, diwartakan bahwa Shah Iran telah mengeluarkan 
dekrit memberhentikan Mossadegh sebagai perdana menteri, dan pada saat yang 
sama mengangkat Jenderal Zahedi sebagai penggantinya.  

Ketika Perdana Menteri Mossadegh yang tidak direstui oleh Shah Iran dan Amerika 
itu mulai mabuk kemenangan dan merasa dalam posisi cukup kuat, Kim Roosevelt 
mendorong Jenderal Zahedi membentuk Dewan Perang dan mulai melancarkan serangan 
terbuka kepada Mossadegh pada 19 Agustus 1853. Caranya, dengan menggalang 
dukungan dari beberapa komandan batalyon untuk bergabung dalam kudeta 
menggulingkan Mossadegh. 

Namun lebih dari pada itu, rupanya berita yang tersebar di berbagai media massa 
luar negeri berkenaan dengan dekrit Shah Iran dari tempat pengasingannnya di 
Itali, telah memicu gelombang dukungan di dalam negeri Iran itu sendiri. 
Sehingga membuka peluang CIA untuk menunggangi gelombang dukungan terhadap 
kembalinya Shah Iran. 

 Maka, gerakan anti Mossadegh pun kembali mendapatkan momentum untuk berkobar 
kembali. Padahal sebenarnya CIA sudah bermaksud untuk menghentikan operasi Ajax 
pada 18 Agusutus 1953. 

Aksi massa pro Shah Iran akhirnnya berhasil dimanfaatkan oleh pasukan militer 
yang berada dalam kendali Jenderal Zahedi, dan kemudian mengumumkan 
keberhasilan kudeta dan membacakan dekrit kerajaan melalui stasiun radio Iran. 
Tak lama kemudian, Jenderal Zahedi mengambil-alih kekuasaan dan Perdana Menteri 
Mossadegh akhirnya menyerah. 

Partai Tudeh dan Musavi 

Jika ada yang berpandangan bahwa Mir Husein Musavi adalah antek Amerika, 
nampaknya masuk akal juga. Sewaktu Ayatullah Khomeini berhasil menggulingkan 
Shah Iran pada 1979, Abu Hasan Bani Sadr dan Musavi berada di belakang 
Khomeini. Bani Sadr, sedari awal memang seorang intelektual didikan Perancis 
berhaluan Sosialis Demokrat. Namun Musavi, sebernya punya latarbelakang yang 
sedikut misterius. Mengingat hubungannya yang erat dengan Partai Tudeh yang 
berhaluan kiri. 

Bahkan pada 1953, ketika Mossadegh digulingkan, Partai Tudeh dikenal sebagai 
partai berhaluan kiri yang berambisi meraih kekuasaan melalui jalan revolusi. 
Dan dalam skema inilah Musavi sebernarnya muncul dari haribaan Partai Tudeh. 
Alhasil, sewaktu Khomeini berhasil mengkonsolidasikan pemerintahan Islam Iran 
yang didominasi Islam Syiah, makaq Bani Sadr dan Musavi terpaksa harus lari ke 
luar negeri menghindari penangkapan pemerintahah Mullah pimpinan Khomeini.

Fakta ini semakin logis ketika pada 1953, dalam rencana operasi intelijen 
Amerika dan Inggris menggulingkan Mossadegh, CIA ternyata menggalang pasukan 
gerilyawan dari Partai Tudeh. Ironis memang, Amerika yang notabene anti komunis 
justru menggunakan elemen-elemen sayap kiri Iran untuk menggulingkan 
pemerintahan Mossadegh yang dituduh Amerika sebagai berhaluan ultra-nasionalis, 
kiri radikal dan pro Moskow. 

Namun politik terkadang menggunakan segala cara, apalagi ketika operasi Ajax 
pada dasarnya ditujukan untuk memulihkan hak-hak perusahaan-perusahaan Inggris 
Anglo Iranian Oil Company. 

Sebagai imbalan dari keberhasilan kudeta terhadap Mossadegh tersebut, beberapa 
perusahaan multinasional asing berhasil mendapatkan lisensi untuk beroperasi di 
Iran. Antara lain Royal Dutch Shell, Francaise des Petroles, dan lima 
perusahaan minyak Amerika. 

Dari fakta ini terbukti, bahwa aktor intelektual di balik skema operasi semacam 
ini adalah Inggris. Dan Amerika sebagai pelaku utama alias Project Officer dari 
operasi Ajax. 

Operasi CIA Gulingkan Rezim Juan Arbenz dari Guatemala  

 Setahun kemudian, tepatnya 1954, CIA yang ketika itu masih dalamkendali Allen 
Dulles, dengan diinspirasi oleh keberhasilan menggulingkan Mossadegh di Iran, 
mulai menyusun rencana mengkudeta Juan Arbenz yang dituduh Amerika sebagai 
berhaluan kiri dan pro Uni Soviet. 

Maka seperti juga halnya di Iran, CIA kemudian membina seorang perwira 
menengah, bernama Kolonel Castilo Armas, untuk menjadi ujung tombak dari suatu 
kudeta militer menggulingkan Arbenz. Lagi-lagi, operasi ini berhasil dengan 
sukses, maka tampillah Kolonel Armas sebagai penguasa politik baru di Guatemala 
yang berhaluan kanan dan pro Amerika. 

Gerakan CIA Menggoyang Chavez 

Kalau dua kasus terdahulu terjadi di era 1950-an, kasus yang terjadi Venezuela 
ini justru terjadi sekitar 2007 lalu. Ceritanya begini. Karena Hugo Chavez 
dinilai Amerika sebagai presiden yang bermusuhan kepada pemerintahan Bush, maka 
disusunlah operasi intelijen menggoyang Chavez dengan cara mendukung kelompok 
oposisi menolak referendum konstitusi yang diajukan Chavez.

Alhasil, situasi politik di Venezuela praktis terpecah dua antara yang 
mendukung dan menolak referendum konstitusi. Inilah situasi yang kemudian 
diolah dan dimanfaatkan oleh CIA untuk menyusun Operasi Tenaza atau Operasi 
Pincer, yang intinya menggagalkan referendum konstitusi. 

Operasi intelijen Amerika ini nampaknya dipimpin oleh pejabat kedutaan besar 
Amerika di Venezuela Michael Middleton Steere. Tidak jelas apakah ini nama 
sebernarnya atau hanya julukan belaka. Yang jelas, CIA menggunakan taktik 
klasik yaitu dengan menggalang dukungan militer dari dalam jajaran komando 
kemileteran itu sendiri. Maklum, karena Chavez sendiri ternyata mendapat 
dukungan lumayan kuat dari beberapa perwira tinggi angkatan udara, perwira 
menengah dan beberapa jenderal. 

Bagi Indonesia yang sering mengalami kelangkaan bahan-bahan pokok alias Sembako 
secara tiba-tiba, sebaiknya menyadari bahwa taktik semacam ini rupanyan sering 
dilakukan CIA. Di Venezuela, rupanya CIA menyusun skenario kelangkaan 
bahan-bahan pokok sehingga memicu instabilitas politik dan memunculkan citra 
buruk bagi Presiden Chavez. 

Tapi rupanya CIA tidak puas dengan cara-cara seperti itu. Taktik lain yang 
digunakan juga tak kalah kotor. Yaitu dengan memberikan suara menolak 
referendum dengan menggunakan kertas palsu. Sekaligus menerapkan praktek Maling 
teriak Maling. Yaitu dengan menyerang petugas referendeum dan propaganda dengan 
tuduhan pihak pemerintah telah melakukan pemalsuan perolehan suara pendukung 
referendum konstitutsi. 

Referendum Konstitusi ini memang mencemaskan bagi Amerika karena dalam 
referendum yang diusulkan tersebut memberikan kewenangan kepada presiden 
mengontrol bank sentral, membentuk provinsi-provinsi baru yang diperintah oleh 
pejabat yang diangkat oleh pemerintah pusat, dan diturunkannya usia pemilih 
dari 18 menjadi 16. 

Selain itu, referendum konstitusi juga memihak kepentingan kaum buruh dan 
pekerja. Misalnya dengan menetapkan jam kerja maksimum enam jam per hari dan 36 
jam per minggu dan memperluas tunjangan keamanan  sosial ke para pekerja di 
sektor ekonomi informal. 

Sayang sekali, berkat dukungan dana yang besar dari Amerika melalui operasi CIA 
terhadap berbagai elemen oposisi Venezuela, referendum konstitusi yang 
ditawarkan Chavez berhasil digagalkan dengan angka tipis 4.504.354 suara 
menolak (50,70%)  versus 4.379.392(49.29%). 

Hanya saja, beruntung bagi Chavez karena meski kalah dalam referendum, namun 
kekuasaan tetap berada di tangan Chavez. Sehingga perjuangan dirinya untuk 
mewujudkan revolusi sosialisme tetap bisa dilanjutkan melalui sarana-sarana 
lain. Setidaknya Chavez masih punya banyak waktu sampai kekuasaannya berakhir 
pada 2013 mendatang. 

Relevansinya bagi Indonesia 

Indonesia, 8 Juli mendatang, akan mengadakan Pemilihan Presiden secara 
langsung. Setelah mempelajari berbagai modus operandi CIA dan berbagai elemen 
oposisi yang didukung Amerika terutama dalam kasus Iran dan Venezuela, sudah 
semestinya Indonesia waspada terhadap skenario yang mungkin akan dimainkan CIA 
maupun M-16 dalam pemilihan presiden 8 Juli mendatang. 

Apalagi fakta membuktikan bahwa Departemen Luar Negeri Amerika tetap didominasi 
oleh kalangan konservatif yang tidak bersahabat dengan negara-negara sedang 
berkembang yang berpenduduk Islam cukup besar, seperti Indonesia. 

Apalagi beberapa pakar Amerika baik dari Ohio maupun Yale University yang 
sekarang melakukan tugas-tugas terselubung dengan berkedok penelitian, sudah 
berada di Indonesia sekitar beberapa bulan terakhir. 

Mereka ini, menurut berbagai informasi yang berhasil dihimpun Global Future 
Institute, mempunyai kontak-kontak dan jaringan kerjasama dengan unit intelijen 
dan riset (INR) Departemen Luar Negeri Amerika. Beberapa agennya, dikenal 
sebagai Indonesianis. 

Menyadari kenyataan tersebut, kita di Indonesia sudah seharusnya melakukan 
antisipasi terhadap skenario Amerika dalam menanggapi hasil pemilihan presiden 
jika hasilnya nanti tidak sesuai dengan keinginan atau agenda Amerika. 

Karena itu, skenario Amerika untuk mendukung elem pro Amerika seperti yang 
dilakukan dengan mendukung Musavi di Iran, bukan tidak mungkin akan dilakukan 
di Indonesia. 

Penulis adalah Direktur Eksekutif Global Future Institute (GFI)







Satrio Arismunandar 
Executive Producer
News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4034,  Fax: 79184558, 79184627
 
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com  
 
Verba volant scripta manent...
(yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi...)



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke