http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?id=29793
09 Juli 2009 08:41:11
Pilpres Diwarnai Pengibaran Bintang Kejora
Bandara Wamena Disiram Bensin, Bus dan Pos Satpam Freeport Dibakar
JAYAPURA- Pelaksanaan Pemilihan Presiden 8 Juli kemarin diwarnai
pengibaan Bendera Bintang Kejora di sejumlah tempat, baik di Jayapura maupun di
kabupaten di luar Jayapura.
Dari Jayapura, dilaporkan, bendera lambang separatis Papua itu berkibar
di Sentani dan di Waena. Kapolres Jayapura, AKBP. Mathius Fakhiri, SIK, saat
dikonfirmasi membenarkan adanya pengibaran bendara Bintang Kejora di Kota
Sentani, Kabupaten Jayapura. Bendera berukuran 70 x 40 Cm itu diikat pada bambu
kemudian dikibarkan di lapangan tempat pemakaman Almahrum Theys Elluay pada
Selasa, (7/7), sekitar pukul 17.30 WIT sampai pukul 20.30 WIT.
"Pada saat listrik padam bintang kejora di kibarkan," ungkapnya kepada
Cenderawasih Pos, via ponselnya, Rabu, (8/7).
Kasus tersebut diketahui setelah listrik dinyalakan, dan itu langsung
dilaporkan oleh masyarakat ke Polsek Sentani Kota yang kemudian barang bukti
(BB) itu diamankan.
Menurutnya, kasus itu dilakukan oleh oknum-oknum yang dinilai kurang
kerjaan dan hanya sifatnya mencari perhatian saja guna mengacaukan pemilihan
presiden (Pilpres), namun hal itu tidak terbukti.Bendera Bintang Kejora lainnya
berkibar di Youtefa Grand,.Kelurahan Yabansai Distrik Heram.Warga yang hendak
mencontreng saat itu yang pertama kali melihat adanya bendera tersebut.
Kemudian dilaporkanke aparat keamanan Polsek Abepura .Selanjutnya 20 aparat
kepolisian dikirimkan dari Polsek Abepura langsung mengecek laporan tersebut,
kemudian naik ke atas bukit kemudian menurunkan dan mengamankan bendera
tersebut sebagai barang bukti.
Bendera tersebut diikatkan pada sebatang kayu yang memiliki panjang
kurang lebih 1 meter dan kemudian diikatkan lagi pada sebuah pohon yang berada
pada puncak bukit tersebut.
Kapolda Papua Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodanto saat dikonfirmasi
Cenderawasih Pos di Uncen Lama, membenarkan adanya pengibaran bendera bintang
kejora tersebut.
"Itu ungkapan dari sekelompok orang atau individu yang mengambil
kesempatan pada saat lampu mati, sehingga dikibarkan di Sentani dan kemarin
siang di Youtefa," ujar Kapolda Bagus Ekodanto.
Kapolda Bagus Ekodanto mengakui bahwa kedua bendera Bintang Kejora yang
sempat dikibarkan oleh tak dikenal tersebut, sudah diturunkan dan diamankan di
Mapolres Jayapura dan Mapolsekta Abepura. Saat ini, pelakunya masih diselidiki.
Sementara itu, dari Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua dilaporkan
pos Satpam dan bus karyawan PT Freeport Indonesia dibakar oleh sekelompok orang
tidak dikenal, Rabu (8/7) pukul 03.30 Wit kemarin.
Kapolda Papua Bagus Ekodanto menjelaskan bahwa kejadian itu bermula ada
sekelompok masyarakat yang akan melakukan pemalangan di pos yang ada di dekat
terowongan di Mile 71 Timika, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Namun, upaya
tersebut diketahui Satpam yang berjaga sendirian, karena takut sehingga Satpam
tersebut langsung melaporkan ke aparat keamanan terdekat, sehingga polisi
langsung berupaya menuju ke TKP. Namun, saat sampai di TKP, sekelompok
masyarakat tersebut telah melakukan pembakaran pos Satpam dan bus karyawan PT
Freeport Indonesia. " Setelah melakukan pembakaran, para pelaku langsung
melarikan diri. Kemudian anggota mendatangi tempat kejadian dan melakukan
pengejaran di sekitar TKP dan diketahui mereka melarikan diri ke arah hutan
yang ada di jalur Mile 71 Timika yang menuju ke Tembagapura," ujar Kapolda.
Dari Wamena juga dilaporkan, seorang sopir Strada nomor polisi DS 9434 FH
yang diketahui bernama Ribut Hariadi (30), warga asal Lumajang, Jawa Timur,
ditemukan tewas mengenaskan di Desa Lakwame, Distrik Bolakme, Jayawijaya.
Korban dibunuh oleh 8 orang yang tidak dikenal, dimana diketahui ada 2
pelaku yang melakukan eksekusi atau penganiayaan terhadap korban hingga
mengalami luka cukup parah "Ada 3 orang ibu-ibu yang berada di dalam mobil
bersama korban. Saat ini kami masih melakukan penyelidikan," ungkap Kapolda.
Apakah serangkaian kejadian itu termasuk pengibaran Bendera Bintang
kejora, pembunuhan terhadap sopir Strada di Wamena dan pembakaran bus dan pos
satpam PT Freeport Indonesia merupakan upaya penggagalan pemilu presiden?
Kapolda mengakui tidak ada kaitannya. "Itu tidak. Jadi, kejadian itu tidak
mengganggu sama sekali kegiatan pilpres di Papua," imbuh Kapolda. Dari
Kabupaten Yapen dilaporkan, Bendera Bintang Kejora dikibarkan orang tak dikenal
di sebuah pohon di pinggir jalan depan Gunung Auri, Kampung Nawari, Distrik
Angkaisera, Senin (6/7) pukul 09.00 Wit kemarin.
Berkibarnya bendera Bintang Kejora ini, semula diketahui oleh Bripda
Mesak Decky Merani yang berangkat dengan menggunakan sepeda motornya menuju ke
Kampung Nawari.
Melihat hal itu, Bripda Mesak langsung menuju ke Polsek Angkaisera untuk
melaporkan kejadian tersebut. Mendapat laporan itu, dua anggota Polsek
Angkaisera dengan menggunakan motor Yamaha RX King milik Kapolsek Angkaisera
menuju ke tempat kejadian perkara pengibaran bendera bintang kejora untuk
menurunkan bendera tersebut.
Namun, ketika ketiganya mendekati TKP, tiba-tiba ketiga polisi tersebut
langsung diserang oleh sekelompok orang yang tidak dikenal. Mereka langsung
lari menyelamatkan diri dengan meninggalkan kedua motor yang digunakan. Dalam
pelarian itu, mereka bertemu dengan 1 mobil patroli yang membawa anggota untuk
pergeseran pasukan, kemudian mereka menuju ke Polres Kepulauan Yapen.
Selanjutnya, dengan dipimpin langsung oleh Kapolres Kepulauan Yapen AKBP
Imam Setiawan mereka kembali ke TKP. Setibanya disana, ternyata motor Dinas
Polri RX King milik Kapolsek Angkaisera dan motor yang digunakan oleh Bripda
Decky sudah terbakar habis.
Sekitar pukul 11.00 wit, bendera Bintang Kejora berkuruan 159 x 90 cm
yang dipasang pada kayu sepanjang 6 meter diikat diatas pohon sudah diturunkan.
Kapolda Papua Irjen Pol Drs FX Bagus Ekodanto saat dikonfirmasi
Cenderawasih Pos via telepon selulernya membenarkan adanya kejadian tersebut.
"Kemarin sudah dilakukan pengejaran yang dipimpin oleh Kapolres Kepuluan Yapen,
namun tidak ada," ujarnya.
Soal pelaku pengibaran bendera bintang kejora tersebut, Kapolda Papua
Bagus Ekodanto mengakui belum tahu secara pasti dari kelompok mana.
Dari Wamena juga dilaporkan adanya upaya gangguan keamanan menjelang
pelaksanaan Pilpres. Malam sebelum Pilpres, telah terjadi upaya pembakaran
Bandara Wamena yang terletak di Jalan Gatot Subroto, Rabu (8/7) sekitar pukul
2.15 WIT pagi oleh 2 orang yang tidak diketahui identitasnya. Untung rencana
pembakaran Bandara Wamena tersebut berhasil digagalkan oleh anggota Polsek KP3
Udara Wamena bersama satpam bandara.
Kapolres Jayawijaya, AKBP. Drs. MH. Ritonga, M.Si melalui Kasat Reskrim,
AKP. Philip M Ladjar saat dikonfirmasi wartawan di ruang kerjanya membenarkan
kejadian tersebut dilakukan oleh orang tidak dikenal.
Dikatakan, menurut hasil olah TKP di lapangan dan beberapa keterangan
saksi, kejadian tersebut terjadi saat pemadaman listrik di seluruh Kota Wamena
sekitar pukul 02.15 WIT, kemudian ada 2 orang masuk ke areal bandara tepatnya
di pintu ruang tunggu yang menyiram bensin kemudian menggantungkan kain dari
kabel tepat di ruang tunggu keberangkatan bandara sehingga api menyala.
Api yang menyala tersebut, kata Kapolres, berhasil diketahui anggota KP3
Udara Wamena bersama anggota Satpam bandara kemudian memadamkannya. Sesaat
setelah memadamkan api, anggota KP3 Udara dan satpam bandara juga menemukan 1
jerigen bensin utuh dan kain sisa terbakar.
Pelaku, jelas Kapolres, menyiram bensin di kain yang sudah disiram bensin
kemudian membakarnya dengan anak korek api sekitar 6-7 butir yang dililit di
sebatang rokok yang sudah menyala kemudian meletakkannya di diatas kain
tersebut dengan tujuan kalau rokok tersebut habis maka akan membakar anak korek
tersebut. Setelah berhasil memadamkan api di ruang tunggu bandara, petugas juga
menemukan setengah jerigen bensin sekitar 2 liter di tempat parkir pesawat
(Apron) yang jaraknya sekitar 80 meter dari TKP.
Menurut Kapolres, pelaku sempat meninggalkan sisa bensin di rumput dekat
Apron karena petugas telah mengetahui sehingga pelaku melarikan diri keluar
dari arah landasan bandara. Bukan hanya itu, petugas juga berhasil menemukan 1
botol kratingdaeng yang sudah diisi minyak tanah dan sudah ada sumbunya namun
belum sempat dinyalakan. Sementara itu, dilaporkan bahwa telah terjadi
pengibaran bendera Bintang Kejora (BK) di 2 tempat dan waktu yang berbeda di
Kota Wamena, Rabu (8/7). Tempat pertama berkibar sekitar pukul 2.30 WIT pagi
kemudian sekitar pukul 14.00 WIT siang. Barang bukti telah berhasil diamankan
di Mapolres Jayawijaya kemudian pelaku belum diketahui identitasnya.
Kapolda Papua Bagus Ekodanto mengatakan, aksi penaikan bendera Bintang
Kejora dan aksi lainnya ini tidak lain merupakan upaya menggangu stabilitas
keamanan dan mengganggu pelaksanaan Pilpres. Namun secara keseluruhan, kondisi
di Tanah Papua aman-aman saja, pasca Pilpres.
Ditempat terpisah, Ketua Dewan Adat (DA) Papua, Forkorus Yomboisembut,
menandaskan, aksi penibaran Bintang Kejora itu merupakan hal yang sudah biasa,
karena umumnya ketika ada Pilpres dan hari-hari besar lainnya, selalu saja ada
pengibaran Bintang Kejora.
Atas semua kasus pengibaran yang terjadi, ia tidak habis berpikir bahwa
oknum penguasa sebagai provokator utama itu mau nya apa. Apakah mereka mau
memancing keadaan dan mempunyai rencana untuk membuat perhatian dengan tujuan
mencari keuntungan bagi dirinya dan kelompoknya.
"Analisa politik saya bahwa oknum-oknum penguasa itu sudah menyampaikan
ke pusat bahwa situasi Papua tidak aman. Nah untuk membuktikan pernyataan itu,
maka mereka buat aksi pengibaran bendera dengan memanfaatkan masyarakat yang
sudah diprovokasi. Bisa saja uang keamanannya sudah diterima dari pemerintah
kan. Ini sesuatu yang sudah dikondisikan. Mereka buat supaya gubernur, dan
pusat percaya kan," tukasnya.
"Masa naikan bendera di kota yang padat penduduknya. Ini sudah
dikondisikan oleh okum provokasi. Nah ini perbuatan mereka untuk melegitimasi
laporan mereka ke pemerintah itu," pungkasnya.(nls/cr-155/bat)
[Non-text portions of this message have been removed]