Cendrawasih Pos
18 Juli 2009


Lagi, Penembakan Terjadi di Freeport

Lima Anggota Brimob Cedera TIMIKA- Belum tuntas proses penyelidikan terhadap, 
rentetan kasus penembakan pada Sabtu(11/7) dan Minggu (12/7) yang menelan 3 
korban jiwa, aksi penyerangan oleh orang tak dikenal (OTK) di kawasan jalan 
tambang PT Freeport Indonesia (PTFI) di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika, 
Papua, kembali terjadi Rabu (15/7) siang. Dalam peristiwa yang terakhir ini, 
sebanyak lima anggota Brimob organik terluka akibat serangan di Mile 54 
tersebut.
Data lapangan yang dihimpun Radar Timika (Cenderawasih Pos group) menyebutkan, 
serangan awal terhadap anggota Brimob organik terjadi sekitar pukul 13.15 WIT 
di Mile 54. Ketika itu kendaraan yang ditumpangi anggota Brimob diserang 
sepulang mengantar bahan makanan dari Mile 66.  Kemudian sekitar pukul 14.40 
WIT tim bantuan yang diantaranya adalah Bripka Jimmy Reinhard diberondong 
tembakan oleh OTK ketika sampai di tempat kejadian perkara (TKP) di Mile 54.

Akibat serangan tersebut lima anggota Brimob dikabarkan terluka. Mereka adalah 
Briptu Abraham Ngamelubun yang terluka pada paha kanan atas, Bripda Sumaji 
(luka tembak di tangan kanan dan tangan kiri), Bripda Supriyadi yang menderita 
patah pergelangan tangan kiri (diduga akibat melompat), Bripka Jimmy Reinhard 
yang tertembak pada kaki kanan dan Briptu Sardis Rumaropen yang tertembak di 
kaki kiri.

Para korban sekitar pukul 17.30 WIT kemarin telah dievakuasi ke Klinik Kuala 
Kencana untuk mendapatkan perawatan medis. Kabar lainnya menyebutkan Bripda 
Sumaji telah dirujuk ke RS Mitra Masyarakat (RSMM).Kapolda Papua Irjen Pol. 
Drs. Fx. Bagus Ekodanto yang dimintai komentar oleh wartawan sekembalinya dari 
tinjauan lokasi kemarin sore, dari dalam mobil membenarkan telah terjadi 
serangan terhadap pasukan Brimob. 

Menurutnya, serangan kemarin (15/7) terjadi sekitar pukul 13.00 WIT di Mile Pos 
(MP) 54 hingga mengakibatkan satu anggota Brimob Polri terluka terkena 
tembakan. Serangan tersebut terjadi pada hari keempat pasca penembakan terhadap 
kendaraan PTFI yang menewaskan Drew Nicholas Grant, warga negara asing (WNA) 
asal Australia yang merupakan karyawan PTFI, Sabtu (11/7) lalu di MP 52. 

Kemudian serangan di Mile 51 pada hari Minggu (12/7) yang menewaskan Markus 
Ratteallo, karyawan kontrak PTFI pada Departemen Security, dan berikutnya 
ditemukannya jenazah Bripda Marson R pada hari Senin (13/7) di sebuah jurang 
setelah hilang akibat diserang Minggu sebelumnya bersamaan Markus Ratteallo.Pos 
MP 54 adalah pos Brimob yang baru dibangun untuk memperkuat pengamanan pasca 
penembakan yang terjadi Sabtu dan Minggu lalu. Pasca kejadian itu pengamanan di 
setiap pos diperketat termasuk mobilitas pengamanan ditingkatkan. 

Hal ini juga terlihat di check point MP 28 dan MP 32 beberapa hari terakhir. 
Serangan Rabu kemarin terjadi setelah kunjungan sejumlah pejabat Negara ke 
Timika berkaitan dengan insiden beberapa hari terakhir ini. Para pejabat yang 
melakukan kunjungan ke kawasan jalan tambang PTFI kemarin antara lain; 
Sekretaris Menteri Politik Hukum dan Keamanan (Sesmenkopolhukan) Letjen TNI 
Rumulo R. Simbolon, Deputi I Polhukam Mayjen TNI Karseno yang juga Ketua DMPM, 
Deputi V Polhukam Irjen Pol. Drs Budi Utomo, Kepala BIK Mabes Polri Irjen 
Pol.Drs Saleh Saaf, Deputi II BIN Mayjen TNI (Purn) Haryanto Rachman. Ikut 
serta Adc Sesmenkopolhukam Abdul Malik dengan anggotanya Dede Rochman. Dalam 
kunjungan itu, Sesmenkopolhukam didampingi Kapolda Papua Irjen Pol.Drs FX. 
Bagus Ekodanto dan sejumlah petinggi Polri maupun TNI. Serangan terhadap Brimob 
itu terjadi setelah Sesmenkopolhukan beserta rombongan melewati lokasi kejadian 
menuju Tembagapura sekaligus melihat titik-titik lokasi penembakan sebelumnya.

Dalam kunjungan tersebut, rombongan Sesmenkopolhukam mendapat pengawalan ketat 
oleh aparat Polri dan TNI yang dipersenjatai lengkap.
Data lapangan lainnya yang dihimpun Radar Timika (grup Cenderawasih Pos) 
menyebutkan, adanya dugaan diantara anggota Brimob yang cedera berat itu ada 
yang terkena bahan peledak. Namun informasi ini belum memperoleh konfirmasi 
dari pihak berwenang sekaligus jenis bahan peledaknya. 
Sementara itu, keinginan para jurnalis baik media cetak maupun elektronik untuk 
bisa meliput secara akurat melalui investigasi dalam insiden penembakan di 
kawasan jalan tambang PTFI beberapa hari terakhir ini, tidak bisa dilakukan 
mengingat wartawan dilarang ke lokasi kejadian. 

Hal ini sangat dilematis karena keinginan para jurnalis yang menganut kebebasan 
pers terhalangi oleh berbagai pertimbangan termasuk jaminan keamanan.  "Saya 
pertimbangkan keamanan. Karena kalau mau liputan, saya harus siapkan pengawalan 
dan pengamanan. Tapi untuk sementara saya belum ijinkan karena kita masih 
lakukan olah TKP (tempat kejadian perkara). Sidik dan lidik," kata Kapolda 
Papua Irjen Pol. Drs. Fx Bagus Ekodanto dalam konfernesi pers di ruang rapat 
Mapolres Mimika, Selasa (14/7) lalu.(eng/lrk

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke