Salam, 

Ketika news sudah menjadi industri maka esensi news sebagai upaya mendapatkan 
keadilan dan kemanusiaan diabaikan, agar bisa menjadikan news sebagai panglima. 

Wartawan menahan korban pemboman karena kondisi korban ketika terkapar dan 
sekarat lebih "bernilai news", ketimbang jika dia tertolong dan selamat di 
ruang rawat rumah sakit.

Di ranah hukum ada istilah "bebas demi hukum", meski secara keadilan mestinya 
dipenjara.  Demi hukum bukan demi keadilan. 

Demikian jugalah news. Semakin banyak korban semakin bernilai news, semakin 
darah tercecer, semakin bernilai news, semakin dramatik, meski dari sisi 
kemanusiaan dan keamanan, justru sebaliknya. 


Dimas



--- In [email protected], "Kartono Mohamad" <kmj...@...> wrote:
>
> Agak sedih melihat tayangan televisi yang menggambarkan betapa para penonton
>  pengunjung dan wartawan berdesak-desakan ketika Timothy, korban bom
> Marriott, dibawa masuk ke rumah sakit sehingga menghambat kecepatan
> pemberian pertolongan medis. Ajal memang di tangan Tuhan tetapi bisa saja
> hasilnya akan lain kalau Timothy segera mendapat pertolongan medis. Dalam
> keadaan darurat seperti itu setiap detik sangat berharga bagi nyawa si
> korban. Lain sekali dengan gambaran di negara lain yang ruang untuk lalu
> lintas pasien dalam keadaan darurat seperti itu benar-benar bebas dari
> desakan orang yang tidak perlu ada di sana. Polisi pun ikut menjaga agar
> wartawan tidak dapat mendekat. Di tayangan kita, malah para wartawan
> seolah-olah menahan korban agar dapat mengambil gambar sepuas-puasnya.
> Petugas medis dan polisi juga tidak tegas dan sigap. Menyedihkan dan
> seklaigus memalukan karena sering kita mengklaim sebagai bangsa yang
> berperikemanusiaan.
> KM
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke