Catatan dari Bom Jumat Kelabu
Oleh: Ikrar Nusa Bhakti
Profesor Riset Bidang Intermestic Affairs LIPI
JUMAT (17/7) pagi itu langit tampak begitu cerah dipandang dari kaca jendela
Kamar 908 Hotel JW Marriott tempat saya dan anak-anak menginap.
Kebetulan hari itu adalah hari terakhir saya dan Dr. Lesley A Harbon, pengajar
di The University of Sydney, Australia, menyelesaikan pemberian peringkat atas
aplikasi para calon penerima beasiswa Australian Leadership Awards (ALA) yang
jumlahnya 63 orang. Malam sebelumnya Lesley, yang menginap bersama suaminya di
kamar 1105, dan saya sudah sepakat untuk bersarapan lebih pagi dan langsung
akan menyerahkan hasil itu ke ADS Office di bilangan Kuningan, Jakarta.
Tanpa diduga, hanya beberapa menit sebelum saya dan anak turun ke restoran
untuk sarapan pagi, terdengar dua kali ledakan bom yang jaraknya berdekatan.
Saat melihat dari jendela hotel, tampak asap putih bercampur kecokelatan
membubung tinggi dari bagian bawah hotel.Ternyata bom telah meledak di dua
hotel yang berseberangan dan dihubungkan oleh jalan bawah tanah, The Ritz
Carlton Kuningan dan JW Marriott.
Kami tidak menduga bahwa dua hotel yang masuk dalam kategori Top Five hotel
paling aman di Jakarta menurut analisis intelijen asing ternyata mendapat
serangan bom. Ini merupakan serangan bom kedua kalinya terhadap Hotel JW
Marriott setelah serangan pada 5 Agustus 2003 lalu. Sudah hampir lima tahun
Indonesia, tepatnya wilayah Kuningan, Jakarta, terbebas dari serangan bom.
Berbagai analisis pakar terorisme dan intelijen pada kurun waktu dua dan tiga
tahun lalu juga sudah menyatakan bahwa kekuatan Jamaah Islamiyah (JI) semakin
berkurang karena beberapa hal, antara lain sebagian anggota garis kerasnya dan
pelaku peledakan Bom Bali I ada yang berada di penjara, Dr. Azahari juga sudah
terbunuh, dana bagi kegiatan mereka semakin sulit didapat dari luar. Namun,
salah seorang tokoh kuncinya, Noordin M Top yang warga negara Malaysia, belum
tertangkap.
Analisis intelijen asing menengarai bahwa kegiatan terorisme akan terjadi lagi
karena mereka akan membalas dendam atas dihukum matinya tiga pelaku Bom Bali I,
Amrozi cs, tahun lalu. Selain itu, stelsel aktif mereka pun masih bekerja yang
tampak dari kegiatan mereka di Cilacap dan wilayah Jawa lainnya.
Meski aparat intelijen dan polisi, khususnya Detasemen Khusus (Densus) 88
Antiteror sudah bekerja, ternyata kita kecolongan juga. Hanya beberapa jam
setelah bom meledak di kedua hotel itu, penjagaan hotel-hotel di Jakarta
diperketat, Jakarta dalam situasi siaga satu, dan secara mencolok aparat
keamanan berseragam dan tidak tampak menjaga gerbang-gerbang masuk hotel.
Ini menambah situasi Jakarta makin mencekam. Sebagian masyarakat di wilayah
Kuningan, Jakarta, juga tidak dapat menjalankan aktivitas ekonomi mereka secara
normal. Ini berarti tujuan para teroris telah tercapai,yakni menimbulkan rasa
ketakutan pada sebagian masyarakat di Jakarta. Tak Cuma itu, pada tingkatan
internasional, Dewan Keamanan PBB juga mengadakan pertemuan darurat membahas
masalah bom di Jakarta itu yang intinya bukan saja mengutuk, tetapi juga
mendukung Pemerintah Indonesia untuk menangani persoalan terorisme secara cepat
dan tepat.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga cepat tanggap melakukan konferensi
pers pada pukul 14.00 siang itu. Kita mendukung sepenuhnya bagian pertama
pernyataan Presiden yang mengutuk perbuatan keji itu dan akan menyelesaikannya
secara cepat dan tepat. Namun, kita tentu memiliki berbagai catatan atas bagian
pernyataan Presiden berikutnya yang kita sayangkan sangat melenceng dari
persoalan bom di kedua hotel itu.
Pertama, para teroris tentu senang melihat jika hasil perbuatan mereka telah
menimbulkan dampak ekonomi dan politik serta rasa ketakutan yang meningkat baik
pada tingkatan elite maupun massa. Kegeraman Presiden yang ditampakkan di depan
kamera tentu menimbulkan efek negatif yang membahagiakan para teroris itu
karena tujuan mereka berhasil. Kedua, upaya Presiden untuk mengalihkan
persoalan keamanan negara/bangsa menjadi keamanan dirinya dan pemerintahannya
mendatang tentu amat kita sayangkan.
Apalagi Presiden SBY secara langsung, walau bersifat implisit, telah menuduh
bahwa para pesaingnya yang kalah pada pemilihan presiden yang lalu adalah
dalang dari bom di kedua hotel itu. Teror bom dan rencana pembunuhan atas diri
SBY, kalaupun ada, adalah dua hal yang amat berbeda, seperti bumi dan langit.
Mengutip Andi Widjajanto (Seputar Indonesia,19/ 7), target serangan teroris
tetap memadukan karakter soft target, high profile, dan high impact.
Artinya, mereka sebagian besar memang hanya akan menyerang sasaran yang
strategis dari sisi ekonomi, sasaran itu terkait dengan kepentingan Amerika
Serikat, dan bukan fasilitas strategis negara.Tapi dampak dari serangan itu
amat dahsyat. Tengok misalnya serangan teroris ke gedung kembar World Trade
Center (WTC) di New York 11 September 2001. Teroris dapat saja melakukan
serangan terhadap instalasi militer AS seperti di Timur Tengah atau negara
lain, tapi tidak didahului oleh serangan terhadap fasilitas publik.
Kelompok pejuang atau kelompok politik dan ideologis tertentu memang dapat juga
melakukan pembunuhan terhadap kepala negara dan/atau kepala pemerintahan.
Contohnya terjadi terhadap Presiden John F Kennedy di Dallas, AS, 1963,
terhadap PM Indira Gandhi yang dilakukan oleh pengawalnya sendiri yang
keturunan Sikh akibat tentara India menyerang tempat ibadah suci kaum Sikh di
Amritsar atau anggota pasukan elite perempuan gerilyawan Macan Tamil yang
melakukan bom bunuh diri terhadap PM Rajif Gandhi karena tentara India dikirim
ke Sri Lanka membantu penyerangan terhadap Macan Tamil atau terbunuhnya
Presiden Mesir Anwar Sadat oleh anggota pasukan defile militer yang tidak
sejalan dengan garis politik Anwar Sadat.
Namun target perbuatan mereka berbeda dengan tindakan terorisme yang hanya
ingin menebar teror dan ketakutan. Ketiga, pernyataan Presiden SBY yang
mengatakan ada orang yang dulu suka membunuh dan menculik serta belum
terjangkau hukum secara implisit menjurus pada cawapres pasangan Megawati-
Prabowo Subianto. Penggunaan kata “drakula”yang haus darah dan suka menebar
teror juga amat disayangkan keluar dalam ucapan seorang kepala negara/kepala
pemerintahan. Walau bukan pendukung Prabowo Subianto, saya yakin kecil
kemungkinannya Prabowo yang masih berkeinginan menjadi capres pada Pilpres 2014
berbuat keji yang dapat membunuh citra politiknya sendiri.
Selama ini SBY selalu menyatakan secara santun bahwa para pesaingnya adalah
sesama anak-anak bangsa dan bersaudara, tetapi mengapa kini justru menjadikan
mereka sebagai “lawan politiknya”? Keempat, pemaparan foto dengan SBY sebagai
target pembunuhan teroris juga menimbulkan tanda tanya besar, apa maknanya dan
apakah foto-foto itu baru atau justru sudah lama? Kita tahu bahwa saat menjadi
Menko Polhukam, SBY pernah menjadi sasaran pembunuhan, khususnya ketika Poso
dan Maluku masih bergolak.
Jika ternyata foto-foto itu bukan baru, Presiden SBY dapat dituduh melakukan
kebohongan publik yang dapat diberi sanksi pidana. Kita berharap Presiden kita
lebih bijak dalam membuat pernyataan- pernyataan politiknya. Ini era demokrasi
dan bukan lagi era otoriterisme seperti era Orde Baru di mana seorang pemimpin
negara atau aparat keamanan negara dapat menjalankan politik ketakutan atau
politik pecah belah rakyat demi keuntungan politik pribadi atau rezim yang
sedang berkuasa.
Rakyat tidak perlu terpancing oleh pertarungan politik para elite, hidup kita
sudah susah ,lebih baik kita fokus pada bagaimana membangun bangsa ini demi
masa depan anak cucu bangsa Indonesia.(* )
Seputar Indonesia, Selasa, 21 Juli 2009
-----
Sekretariat AIPI
Widya Graha LIPI Lantai VII
Jl. Jend. Gatot Subroto 10, Jakarta 12710
Tlp: 021-5224480, Fax: 021-5224480
www.aipi.wordpress. com
[Non-text portions of this message have been removed]