Refleksi: Dirgahayu NKRI ! 

http://www.mediaindonesia.com/read/2009/07/07/85843/92/14/Anak-Terlantar-Makin-Banyak


Anak Terlantar Makin Banyak 
Jumat, 17 Juli 2009 16:43 WIB      

 
MI/ADAM DWI

JAKARTA--MI: Meski angka kemiskinan secara keseluruhan dilaporkan menurun dari 
tahun ke tahun namun jumlah anak terlantar justru mengalami kenaikan 
signifikan. 

"Tahun 2000 yang terlantar masih 5,3 persen, kemudian bertambah menjadi 5,4 
persen pada 2003 dan naik lagi menjadi 6,5 persen dari keseluruhan populasi 
anak usia 0-18 tahun pada 2006. Keterlantaran di sini bukan hanya secara 
ekonomi, tapi juga pendidikan," kata Direktur Pelayanan Sosial Anak Departemen 
Sosial Harry Hikmat di Jakarta, Jumat. 

Jumlah total anak (usia 0-18 tahun) diperkirakan sepertiga dari total populasi 
yang menurut Badan Pusat Statistik (BPS) sebanyak 230,6 juta jiwa pada 2009. 

Selain itu, kata Harry, analisis deskriptif terhadap data BPS tahun 2006 juga 
menunjukkan bahwa 83,28 persen anak terlantar punya orang tua lengkap; 12,38 
persen yatim; 2,55 persen piatu; 1,07 persen yatim piatu dan sisanya tidak 
diketahui. 

"Ada kecenderungan orang tua melepaskan tanggung jawab pengasuhan atas anak 
mereka ketika beban ekonomi menghimpit. Hal ini terlihat pula dari hasil survei 
yang menunjukkan sebagian besar penghuni panti sosial masih punya orang tua 
lengkap," katanya. 

Dia menjelaskan, pemerintah sudah memiliki strategi dan menerapkan berbagai 
kebijakan untuk memberikan perlindungan dan mengatasi berbagai permasalahan 
sosial pada anak, namun semuanya belum mampu menurunkan besaran masalah itu 
secara bermakna. 

Hal itu, menurut dia, terjadi karena strategi penanganan masalah sosial anak 
selama ini belum terintegrasi, masih dilakukan secara sektoral, dan masih 
terfokus pada program berbasis panti dengan cakupan rendah. 

"Penanganan masalah masih dilakukan berdasarkan tren isu, sifatnya reaktif dan 
berorientasi pada krisis. Strategi semacam ini harus segera diubah," katanya. 

Ia mengatakan, pemerintah secara bertahap akan melakukan perubahan strategi dan 
memperbaiki program-program penanganan masalah sosial pada anak. 

Ke depan, dia melanjutkan, program penanganan masalah sosial pada anak mesti 
terkoordinasi secara rapi dengan melibatkan semua sektor. 

"Penanganan persoalan tidak lagi dilakukan berdasarkan tren isu, harus ada 
strategi utama yang dijalankan berlanjut. Dan harus ada sistem pencegahan 
dengan memperkuat peran keluarga supaya tidak semuanya ditumpukan ke panti, 
panti itu pilihan terakhir," katanya. 

Ia menjelaskan pula bahwa tahun depan pihaknya berencana menjalankan program 
bantuan sosial, program dukungan keluarga, penguatan kapasitas lembaga dan 
sumber daya manusia, serta pelayanan alternatif bagi anak terlantar. 

Sekretaris Jenderal Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait 
menambahkan, penanganan masalah sosial pada anak seharusnya tidak hanya 
dibebankan kepada pemerintah atau Departemen Sosial. 

Menurut dia, semua pihak termasuk pelaku usaha, lembaga swadaya masyarakat dan 
komponen masyarakat yang lain mesti ikut berperan dalam upaya perlindungan anak 
dan penanganan masalah sosial pada anak-anak. 

"Potret anak-anak Indonesia ini adalah refleksi yang harus disikapi bersama," 
demikian Arist Merdeka Sirait. (Ant/OL-06) 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke