http://anax1a. pressmart. net/mediaindones ia/MI/MI/ 2009/08/06/ ArticleHtmls/ 
06_08_2009_ 010_002.shtml? Mode=0

MEDIA INDONESIA, 6 Agustus 2009

RAPBN 2010 dan Jerat Involusi Kemiskinan 

Oleh Dr Ir Arif Budimanta
Direktur Megawati Institute 

PRESIDEN baru saja membacakan RAPBN dan rencana kerja pemerintah untuk tahun 
2010. Tidak ada yang baru, tidak ada perubahan haluan, apalagi perubahan 
paradigma pembangunan, yang konsisten hanyalah involusi. Involusi perangkap 
wacana kebijakan pembangunan yang pro-growth, pro-job dan pro-poor. Involusi 
cara berpikir yang menghasilkan output melambatnya ketersediaan lapangan kerja 
dan menurunnya angka kemiskinan. 
Tulisan ini akan memusatkan perhatian kepada persoalan involusi kemiskinan. 
Involusi kemiskinan adalah suatu akumulasi multiproses yang mengakibatkan 
orang-orang miskin sulit untuk menapaki jenjang kehidupan sosial yang lebih 
sejahtera dan berkualitas.
Bagi Indonesia, kemiskinan bagaikan penyakit `sosial' yang belum ada obatnya, 
karena data mengenai kemiskinan itu sendiri masih terus menuai perdebatan yang 
tidak pernah selesai hingga hari ini. Pemerintah menyebutkan jumlah orang 
miskin di Indonesia sebesar 15% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia, 
sedangkan data bank dunia menyatakan 49% penduduk Indonesia masuk kategori 
miskin. Angka yang dikeluarkan pemerintah merupakan data yang diperoleh Biro 
Pusat Statistik (BPS) yang diperoleh dengan penentuan standar kebutuhan minimum 
yang dibedakan atas makanan dan non-makanan. Kebutuhan makanan diperhitungkan 
berdasarkan kemampuan untuk mengonsumsi 2.100 kalori per orang per hari, yang 
merupakan standar internasional. Sementara itu, kebutuhan nonmakanan mencakup 
sejumlah komoditas sandang, pendidikan, dan kesehatan. Kemudian dengan 
informasi dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional, survei rumah tangga yang 
dilakukan secara berkala oleh BPS, ditentukan bahwa
 mereka yang pengeluarannya di bawah garis kemiskinan secara definisi masuk 
kategori penduduk miskin.
Pada 2008, garis kemiskinan adalah Rp205 ribu per orang per bulan di kota, dan 
Rp161 ribu di desa. Dengan patokan ini sehingga, pada tahun 2008 ada sekitar 35 
juta penduduk Indonesia yang tergolong miskin, atau sekitar 15 persen dari 
total populasi. Angka ini tidak sedikit meskipun sudah lebih rendah dari tahun 
sebelumnya yakni sebesar 37,1 juta atau 16,6% pada 2007, 39 juta atau 17,6% 
pada 2006, dan 35,1 juta atau 15,9% pada 2005.
Komite penanggulangan kemiskinan (2002) mengemukakan bahwa masyarakat miskin 
secara umum ditandai dengan ketidakberdayaan atau ketidakmampuan dalam hal : 
(1) memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan dan gizi, sandang, papan, 
pendidikan dan kesehatan (basic needs), (2) melakukan kegiatan produktif 
(unproductiveness), (3) menjangkau akses sosial dan ekonomi (inaccessibility), 
(4) menentukan nasibnya sendiri dan mendapat perlakuan diskriminatif, mempunyai 
rasa ketakutan dan kecurigaan, serta sikap apatis dan fatalistik 
(vulnerability), dan (5) Membebaskan diri dari mental dan budaya miskin serta 
senantiasa mempunyai martabat dan harga diri yang rendah (no freedom for poor).
Di setiap negara terutama negara dunia ketiga, kemiskinan menjadi hal penting 
yang harus segera diselesaikan karena dampaknya yang begitu besar bagi kondisi 
sosial di negara tersebut.
Oleh karena itu, tidak sedikit dana yang digulirkan oleh sebuah negara untuk 
menyukseskan program pengentasan kemiskinan di negaranya termasuk Indonesia. 
Secara nominal alokasi anggaran untuk program pengentasan kemiskinan selalu 
meningkat dari Rp24 triliun pada 2005, Rp42 triliun pada 2006, Rp51 triliun 
pada 2007 dan Rp65 triliun pada 2008. Namun kemiskinan masih menjadi 
pemandangan umum di berbagai daerah di Indonesia. Beberapa negara yang dahulu 
memiliki banyak penduduk dengan kategori miskin kini ada yang sudah menekan 
angka kemiskinannya secara signifikan.
China sebagai nega ra yang memiliki berbagai kesamaan dengan Indonesia dari 
segi demografi, geografi, dan budaya, telah berhasil mengurangi populasi 
kemiskinannya yang pada 1976 berjumlah 250 juta orang berkurang sampai 23 juta 
orang pada 2005. Empat tahap keberhasilan yang digunakan China dalam 
pengentasan kemiskinan yakni: Pertama, pemerintah China membimbing warganya 
dalam berbagai bidang dan menyusun kebijakan yang tegas.
Kedua, meningkatkan partisipasi masyarakat.
Ketiga adalah kemandirian yang artinya selain bantuan pemerintah atau 
masyarakat, Pemerintah China menekankan bahwa penduduk miskin juga harus 
mempunyai kemandirian dan berupaya sendiri dalam mengatasi kemiskinan. Dan 
keempat adalah eksplorasi pengentasan kemiskinan. Keempat Tahapan inilah yang 
mampu menekan angka kemiskinan di China.
Selain China, India juga termasuk negara yang berhasil menekan angka 
kemiskinannya dari 40% pada 1990-an menjadi 26% pada awal abad ke-21 dan 
ditargetkan pada 2015 tidak ada lagi penduduknya yang masuk kategori miskin. 
Hal ini dilakukan dengan berfokus pada pengembangan pertanian dan perdesaan 
serta menciptakan lapangan kerja. Pen ciptaan lapangan kerja dimulai dari dunia 
pendidikan dengan mencetak tenaga ahli dalam bidang teknologi informasi, ke 
mudian terbentuk lembah silikon yang di sana terdapat sekitar 200 industri 
besar peranti lunak dan menyerap ratusan ribu tenaga kerja. Tidak hanya itu 
India pun mampu mengembangkan industri otomotif dan perfilmannya sehingga mam 
pu mempekerjakan banyak tenaga kerja. Karena itu lah India mampu ber ubah dari 
negara kelaparan menjadi ne gara berkelimpahan seperti saat ini bah kan 
menempati urutan kedua setelah Korea Selatan dalah Korea Selatan da lam 
pertambahan kekayaan Individual.
Bagaimana dengan kita? Persoalan kemiskinan cenderung bersifat struktural 
karena kebijakan negara tidak atau kurang berpihak kepada rakyat miskin. 
Perekonomian Indonesia terlalu terbuka untuk ukuran negara dunia ketiga atau 
negara sedang berkembang sehingga tidak memberi ruang akses kepada pelaku usaha 
rakyat untuk mengembangkan usaha guna meningkatkan standar hidupnya.
Penyebab kegagalan pemerintah dalam program penanggulangan kemiskinan juga 
dikarenakan program penanggulangan kemiskinan selama ini cenderung berfokus 
pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk orang miskin dalam bentuk raskin, 
BLT, dan sebagainya. Upaya ini akan sulit dilakukan untuk menyelesaikan 
persoalan kemiskinan yang sebenarnya. Karena sifat bantuan tidak dalam bentuk 
pemberdayaan, dan bahkan berpotensi membuat rakyat menjadi ketergantungan. 
Sehingga program-program yang hanya menunjukkan kedermawanan pemerintah itu 
justru memperburuk moral dan prilaku masyarakat miskin.
Oleh karena itu, program-program pengentasan kemiskinan ke depan harus 
dikembangkan dengan model pembangunan masyarakat yang menekankan pada 
emansipasi penuh seluruh warga masyarakat atau yang dikenal dengan istilah 
`pembangunan komunitas'. Menurut Budimanta (2003, p.4), Community development 
adalah kegiatan sistematis dan terencana yang diarahkan untuk memperbesar akses 
masyarakat/komunitas guna meningkatkan kualitas kehidupannya. Model ini 
merupakan salah satu metode yang tepat untuk menjawab isu-isu dan 
masalah-masalah sosial di Indonesia khususnya masalah kemiskinan baik untuk 
saat ini maupun masa yang akan datang.
Terlebih lagi kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia yang masih 
menerapkan sistem komunal. Model ini mendorong proses seluruh anggota komunitas 
secara bersama-sama menerapkan aksi kolektif dan menghasilkan solusi bagi 
permasalahan bersama. Model ini juga telah digunakan di berbagai negara seperti 
India, Iran, Pakistan, Mesir, dan sebagainya.
Untuk penerapannya dalam rangka pengentasan kemiskinan, maka ada tiga pola 
strategi dan kebijakan negara yang harus mendukung yaitu : pertama, pemenuhan 
kebutuhan dasar masyarakat miskin yang didasari produksi dan sumber daya mereka 
sendiri; kedua, alokasi politik anggaran negara yang mendorong kemandirian 
melalui produktivitas bersama; ketiga, pengembangan pola pendidikan dasar yang 
terintegrasi dengan pemuliaan semangat gotongroyong berbasis komunitas. Ketiga 
pola tersebut tidak saja menjadi masyarakat sebagai objek pembangunan tapi juga 
sebagai subjek dalam program pembangunan. Dengan menggunakan ketiga pola 
tersebut secara konsisten, kita dapat keluar dari jerat involusi kemiskinan 
seperti layaknya China dan India. 













 
 
 
Satrio Arismunandar 
Executive Producer
News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4034,  Fax: 79184558, 79184627
 
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com  
 
Verba volant scripta manent...
(yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi...)

--- On Fri, 8/7/09, Medrial Alamsyah <[email protected]> wrote:


From: Medrial Alamsyah <[email protected]>
Subject: Bls: [kahmi_pro_network] RAPBN 2010 dan Jerat Involusi Kemiskinan
To: [email protected]
Date: Friday, August 7, 2009, 2:30 PM


  



Arif, 
Pertama, saya setuju bahwa RAPBN 2010 tidak ada yang baru. Waktu diwawancara 
RCTI selesai diskusi reformasi di DPD 2 hari lalu saya bilang bahwa dengan 
asumsi pertumbuhan 5% (sebuah angka konservatif bawah, meminjam istilah Bang 
HArry), menunjukkan bahwa komitmen SBY untuk perubahan rendah. Sebab, angka 
pertumbuhan 5% itu tidak mengandung tantangan. Saya katakan, dengan 
tidur-tiduran aja, business as usual, bila tidak ada gonjang-ganjing eksternal, 
angka itu pasti tercapai. Tapi, kalau angkanya 6% atau lebih, maka dia perlu 
merumuskan strategi yang ada greget.
(Kalau mengikuti logika politik calo angkot yang pernah saya tulis, APBN 
seperti itu hanya untuk menunjukkan bahwa pemerintah bekerja dan punya hak 
mengklaim hasilnya; sama seperti calo angkot yang teriak2 agar orang naik 
angkot yang satu-satunya untuk trayek yang diteriakkan: -)

Kedua, soal angka kemiskinan. Saya heran kenapa kita berdebat soal angkanya. 
Selama metodenya konsisten dan dilaksanakan secara jujur, metode manapun akan 
menunjukkan kejadian sebenarnya. Naik atau turun. Cuma, kalau ada ketidak 
jujuran dalam prosesnya, maka berarti kemiskinan kita jadi dua, miskin secara 
ekonomi dan miskin kejujuran:-) Bukankah ketika trust tidak ada maka 
masyarakatnya jadi tidak efisien? 

Ketiga, efektivitas (atau produktivitas program) pemberantasan kemiskinan, bila 
dibandingkan antara peningkatan anggaran dengan dampaknya terhadap penurunan % 
penduduk miskin, tampaknya memang rendah. 

Keempat, dalam konteks peran pemerintah mengatasi kemiskinan, saya hanya 
percaya dengan pendekatan Regional Economic Development (RED) yaitu membangun 
satu kawasan ekonomi sesuai dengan potensi wilayah tersebut, dan terlepas dari 
batas administratif daerah. Atau, dalam konteks yang lebih luas, lagi-lagi saya 
mengulang konsep Region State (RS) Ohmae. Dengan pedekatan RED dan RS itu 
memungkinkan analisa dan action plan ekonomi, kemiskinan, tenaga kerja, 
pendidikan dsb. lebih spesifik, incorporated dan terkontrol. Konsep CD harus 
diletakkan dalam kerangka itu sehingga bisa menghasilkan multiplier effect yang 
lebih besar. Jika strategi ini dilakukan, maka kita bisa seperti Cina, yang 
ketika krisis finansial kemaren terjadi punya dua alternatif dan kedua-duanya 
dibawah kendali mereka, yaitu mendorong perdagangan antar wilayah domestik atau 
membantu AS agar ekonomi dunia kembali berputar. 
Hanya saja, bila strategi di atas dijalankan pemerintah, maka memerintah memang 
jadi tidak bisa sekedar dengan berpidato, peduli dengan Mbah Surip, dsj. Sebab, 
langkah ini perlu keberanian mengambil resiko untuk merubah struktur kabinet, 
pola desentralisasi, reformasi birokrasi yang sebanarnya, dst.

Medrial Alamsyah
other email : medr...@lycos. com
Link: 1. www.syaikhachmadsya echudin.org
2. www.asiatimurkonsul tindo.com
3. http://medrialmah. blogspot. com
4. www.arrahmah. org
5. www.ikaunpad. net




____________ _________ _________ __
Dari: Arif Budimanta <abma...@yahoo. com>
Kepada: m...@kelopas. com; kahmi_pro_network@ yahoogroups. com; 
alumni-...@yahoogro ups.com
Terkirim: Jumat, 7 Agustus, 2009 12:20:28
Judul: [kahmi_pro_network] RAPBN 2010 dan Jerat Involusi Kemiskinan




Recent Activity


 1
New MembersVisit Your Group 



Search Ads
Get new customers.
List your web site
in Yahoo! Search.

Yahoo! Groups
Mental Health Zone
Learn about issues
Find support

Celebrity kids
and families
Surviving in
the spotlight
. 
















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke