Minggu, 2009 Maret 22 UNTUK SIAPA " TOKOH PAPUA PULANG KAMPUNG" Satu lagi aktor Papua Merdeka, Nickolas Jouwe telah berhasil dipulangkan ke Tanah Papua. Sayangnya, berbagai media nasional dan Internasional memuat rubrik terpanas ini dengan topik pimpinan OPM pulang kampung. Menarik sekali, Papua jadi termen hangat jelang Pemilihan Umum 2009 ini. Walau tak ada angin, tak ada panas, tak ada hujan, Papua begitu saja di gubah menjadi satu kaitan isu Papua merdeka.
Diawal tahun 1980an, ratusan orang Papua lari meninggalkan kampung halamannya akibat situasi politik di Indonesia pasca penguasaan Papua oleh Indonesia setelah Belanda menyerah dan takluk terhadap Indonesia. Operasi dan intimidasi terhadap aktivis yang fokal di Papua pun di galang oleh Militer Indonesia dengan dalih daerah Operasi Militer " DOM ". Adalah Nickolas satu dari ratusan warga Papua ini yang berhasil meninggalkan kampung halamanya lari ke negeri Belanda dan berlindung di sana sampai puluhan tahun lamnya, dan baru saja di pulangkan oleh pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Apakah dengan pulangnya mantan OPM merupakan keberhasilan negara/pemerintah Indonesia untuk meyakinkan bahwa negara indonesia tidak lagi seperti yang dahulu menakutkan anak-anak Papua sehingga lari meninggalkan Tanah mereka sendiri. Jika di tilik, penanganan Papua di era Bapak Nickolas dan hari ini adalah berbeda. Masih banyak generasi Papua yang siap di jebloskan kedalam penjara karena dianggap membahayakan negara. Dan negara terus menjanjikan sebuah keterpurukan Tanah Papua bagian Barat dengan meneruskan sejumlah kebijakan anti kemanusiaan dan demokrasi. Simak, Freeport, LNG BP, Conoco terus menunjukan ketidakadilan ekonomi-politik maupun ekologi selama beroperasi di Tanah Papua. Praktik kekerasan di Papua meningkat di areal tambang dimana konsentrasi militer negara di pusatkan bagi pengamanan aset negara yang nota bene punya negara luar. Terbukti ketika 80 persen tambang di Indonesia pemiliknya adalah negara luar, indonesia hanya punya 20 persen perusahaan nasional dan itupun masih beroperasi dubawah naungan investor asing. Yang nampak dari kebijakan negara selama ini adalah politik pamoritas, menjunjung tinggi kehebatan diplomasi padahal semuanya hanya irama sensasional belaka untuk menutup keterpurukan kebeijakannya terhadap rakyat. Yah, kedatangan orang Papua ke kampung halamanya di politisir se-dahsyat mungkin, ketimbang negara memperbaiki sistem kebijakan yang tak adil selama ini di Papua. Otonomi Khusus bertabrakan dengan dua keppres dan satu PERPU yang di keluarkan oleh Rezim Megawati dan SBY seakan meniadakan legitimasi orang Papua dan kemandirian Papua dalam Otsus. Kedantangan siapapun, entah dia tokoh Papua merdeka tak akan bisa mampu menyelesaikan masalah di Papua, sebab generasi masa sekarang adalah generasi paling tidak yakin dengan bujukan, politik pesona dan politisasi masalah. Negara tidak harus meneruskan cara-cara seperti hari ini dengan mengibuli rakyatnya dengan kado kepulangan orang Papua yang di junjung sebagai pentolan OPM pulang kampung. Tetapi berikan yang terbaik bagi orang Papua dengan memberikan perlindungan dari ancaman sabotase alam dan hak sosial orang Papua. Berpihaklah kepada kedaulatan dengan memberi kado penguatan ekonomi dan politik Papua yang hari ini terus di injak-injak oleh suprastruktur imperialisme. __________________________________ SATU LANGIT-SATU MATAHARI-SENASIB ___________________________________ Email: [email protected] [email protected] [email protected] [email protected] Blogspot: arkilausbaho.blogspot.com *** DIATAS BATU INI SAYA MELETAKAN PERADABAN ORANG PAPUA, SEKALIPUN ORANG MEMILIKI KEPANDAIAN TINGGI, AKAL BUDI DAN MARIFAT TETAPI TIDAK DAPAT MEMIMPIN BANGSA INI, BANGSA INI AKAN BANGKIT DAN MEMIMPIN DIRINYA SENDIRI. ( Pdt. I.S.Kijsne Wasior 25 Oktober 1925 ) Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/ [Non-text portions of this message have been removed]

