Tauhidullah (2)
Sesudah kita konfrontasikan pemikiran S.W. Hawking et al mengenai
mula-buka alam semesta dan pertanyaan jujur "bagaimana dimulai?" sebagai
wilayah terlarang menurut Pope John Paul II dengan firman Qurani QS.112:4, kita
menjadi faham bahwa Prof. S.W. Hawking et al telah membuktikan pandangan
musyrik yang mendefinisikan Tuhan sebagai suatu figur kharismatis dengan imago
manusiawi sebagai model pandangan fikir irrasional, illogis dan mekanis yang
tak dapat dimengerti oleh kebanyakan ilmuwan kealaman. Hal ini dapat kita
temukan pada ungkapan fikiran S.W. Hawking: "Seseorang dapat memilih Tuhan itu
untuk memprakarsai mulabuka alam semesta atas dasar alasan-alasan yang kami
(saintis kealaman - A. Marconi) tidak dapat memahaminya. Ini adalah pandangan
Paus (Pope) John Paul II. Pada suatu konferensi mengenai kosmologi di Vatican,
Paus mengatakan kepada para delegasi, bahwa adalah OK mempelajari alam semesta
sesudah ia dimulai, tetapi jangan mencari tahu ke dalam mulabuka itu sendiri,
sebab itu adalah saat penciptaan dan kerjaan Tuhan." (Origins of the Universe -
J. Robert Oppenheimer speach in the catagory of physics red by Prof. Stephen W.
Hawking, March 13, 2007, Zellerbach Hall University of California, Berkeley -
USA.)
Apabila kita pelajari kembali sejarah pandangan teologis (pandangan
ke-agama-an) maka akan dapat kita lacak kembali kelahiran ide-ide yang bertumpu
kepada dugaan (al-dzon) manusia atas sesuatu yang tak dapat diinderanya melalui
perangkat panca indera yang dimilikinya. Untuk memecahkan kebuntuan ini manusia
bijak di zaman langka pengetahuan mulai mengembangkan apa yang dikenal dengan
"indera ke-enam" (sixth sense) di atas dasar pengalaman hidup keseharian dalam
memenuhi kebutuhan baku untuk hidup. Indera ke-enam sebagai model indera
internal manusia biologis (al-basyar) adalah suatu aktivitas kultus medan gaya
biologis manusia yang dibentuk oleh 4-gaya alami alam semesta. Medan gaya
biologis ini memperoleh peresmian medis sebagai model psikologi yang akrab
dengan sebutan "spirituality" dalam bentuk religiusitas manusia.
Hingga saat ini secara realistik di atas dasar pemikiran rasional, logis
dan dialektis masih sulit untuk diakses melalui uji-coba dan kaji ulang
lapangan maupun laboratorium (bersandar kepada sains dan teknology dewasa ini).
Indera ke-enam inilah yang menjadi sumber "religius" manusia dalam mengatasi
nafsu biologis (dorongan kebinatangan) yang berfungsi untuk mempertahan
hidupnya (secara qodrati tak sesuatu yang hidup ingin mati, namun dalam
taqdirnya setiap yang hidup pasti mati). Menurut para pemerhati indera ke-enam
ini, manusia adalah "mahluk pencari makna dan, berbeda dengan hewan-hewan,
sangat mudah jatuh putus asa jika kita tidak bisa menemukan nilai dan arti
penting kidup kita." (Karen Amstrong: "The Great Transformation, Awal Sejarah
Tuhan" 2007, PT. Mizan Pustaka, Bandung-Indonesia).
Teologi telah melahirkan berbagai macam konsep Tuhan yang dilengkapi
dengan sistim dogma dan doktrin sebagai sumber "value and moral conduct"
(tata-nilai dan polah-laku moral) bagi para pemeluknya di dalam membawa diri di
tengah masyarakat manusia dan lingkungan hidupnya. Sehingga dalam catatan
sejarah peradaban manusia berlangsung peristiwa genoside, diskriminasi rasial,
perang penaklukan, penindasan minoritas dan deportasi politik serta sistim
kolonialisme sebagai tindakan manusia religius melaksanakan kehendak Tuhan
masing-masing pemikiran teologis.
Realitas budaya manusia yang obyektif demikianlah yang dilawan oleh para
ahli kebijakan yang dilahirkan di dalam praxis perjuangan menegakkan keadilan
masyarakat dan kebenaran universal kemanusiaan sebagai "holifatan fii
al-ardzh". Hampir kesemua kaum bijaksana tersebut adalah manusia biasa yang
sudah dikenal oleh penduduk setempat dan biasa bergaul di tengah-tengah
masyarakatnya. Umumnya mereka berasal dari keluarga-keluarga miskin-papa yang
secara sosial-politik dan ekonomi tidak terpandang di dalam masyarakatnya dan
bahkan ada yang berasal dari kaum yang diperbudak di mana hidup-matinya
diputuskan pemiliknya. Keumuman kaum bijaksana ini adalah kwalitas ahlaq
karimah yang telah diaksesnya dari praxis kehidupan keseharian dalam
masyarakatnya dan ide-ide keilahian yang telah diterima mereka dari para utusan
yang diutus. Kwalitas ahlaq karimah inilah yang menjadi ciri utama sebagai
manusia kwalifikasi "holifatan fii al-ardzh" dan yang menguasai ilmu
pengetahuan kealaman dan kemasyarakatan melalui kreativitas spiritual di mana
ide-ide revolusioner yang didakwahkan kepada manusia dinyatakan berasal dari
Yang Maha Pencipta alam semesta. Dan mereka hanyalah penerima wahyu yang
mengklaim diri sebagai para nabi dan rasul Tuhan sesungguhnya dengan membawa
bukti-bukti sistim pemikiran dan konsep ketuhanan yang rasional, logis dan
dialektis. Sistim pemikiran dan konsep ketuhanan demikianlah yang dinamakan
sebagai Jalan Hidup Lurus bagi manusia yang dinamakan oleh firman Qurani
sebagai Al-Dinu al-Islam.
Pencarian arti dan tujuan hidup selama kurun waktu sejarah peradaban
masyarakat manusia yang tertulis maupun yang tidak tertulis telah membangkitkan
aktivitas para pendahulu bijak (al-hakim) mengeksplorasi
kemungkinan-kemungkinan yang dikandung oleh medan gaya biologis. Pada suatu
periode peradaban yang oleh filosof Karl Jasper dinamakan sebagai "zaman
aksial", 900 SM - 200 SM, di empat wilayah Bumi yang berbeda letak geografinya
telah lahir tradisi-tradisi budaya besar masyarakat manusia. Tradisi besar
budaya masyarakat manusia ini secara spiritual merupakan upaya pemeliharaan
kelangsungan hidup manusia di bawah bimbingan religiusitas dan spiritualitas
manusia yang dikenal sebagai Konfusianisme dan Tao-isme di Tiongkok, Hinduisme
dan Budhisme di India, monoteisme di daerah yang kini dinamakan sebagai Israel,
dan rasionalisme filsafat Yunani yang meliputi daerah pantai Eropa Selatan dan
Asia Kecil. Kreativitas kaum bijaksana zaman aksial adalah fluktuasi interaktif
medan gaya biologis manusia dalam melawan kekerasan ideologi teologis, politik
dan ekonomi dari para penguasa budak, pedagang kaya dan tuan tanah feodal yang
mengatasnamakan diri sebagai wakil-wakil Tuhan dan Tuhan. Dalam periode
tersebut terjadi perubahan pemikiran yang maju mengajak manusia keluar dari
angan-angan imajinasi teologisnya dan berinteraksi dengan realitas lingkungan.
Apabila kita gali secara arkheologis dan paleo-anthropologis (bukan secara
kultus dan basa-basi religius) khazanah praxis perjuangan rasulullah Muhammad
saw semenjak beliau diangkat menjadi nabi dan rasul oleh Allah swt, maka kita
akan dapat menemukan peninggalan-peninggalan (sunnah) sosial-ekonomis dengan
"jurisprudence" Islami yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan yang
berimplikasi revolusioner kepada ideologi ummah Muslimin dalam penemuan kembali
nilai dan tujuan hidup di Bumi ini. Realitas demikian ini siapapun tidak
sanggup menghapus dan menyembunyikan dibalik propanganda anti-Islam dan
anti-rasulullah Muhammad saw. Di waktu yang lalu saya pernah mengemukakan dalam
forum ini bab wahyu pertama yang diterima rasulullah Muhammad saw di gua Hira.
Wahyu yang hingga kini masih tidak diakui adanya oleh para teolog dengan
teologinya yang mencurigai Muhammad saw sebagai sosok semu dalam sejarah
teologi Islam guna melegitimasi teologi Islam yang melawan pandangan-pandangan
teologi paganisme dan polytheisme yang berkuasa. Oleh para teolog dan teologi
yang menentang Dinul Islam,
Al-Dinu Al-Islam yang didakwahkan rasulullah Muhammad saw dinyatakan
sebagai suatu sekte Nasraniyah yang sejak mula kelahiran teologi negara
Byzantium Timur dengan gigih menentang teologi negara yang diprakarsai oleh
Kaisar Constatntine dari Byzantium. Menurut para teolog ini dan para ahli
sejarah pendukungnya, eksistensi Islam adalah "konspirasi" para ahli teologi
Nasrani yang menentang Konsili Nicea I, AD 325. Ada lagi peneliti sejarah dan
teologi Islam yang menganggap Islam sebagai usaha legimitasi teologis Bangsa
Arab sebagai suatu bangsa mandiri di jazirah Arabia setelah terjadi
pertengkaran antara Bangsa Arab dengan Bangsa Yahudi paska kembalinya Bangsa
Yahudi ke Palestina dari Mesir di bawah pimpinan nabi Musa as dan nabi Harun
as. Dugaaan ini mereka perkuat dengan membuktikan banyaknya persamaan ide-ide
teologis yang terdapat di dalam Al-Quranu al-Karim dengan yang dikandung dalam
Testamn Tua dan Perjanjian Baru. (Eildert Mulder en Thomas Milo: "De Omstreden
Bronnen van De Islam - Indonesia: Sumber-sumber Kontroversial Islam" Minema,
Zoetemeer - Holland, 2009).
Akan tetapi kenyataan sejarah budaya masyarakat manusia secara definitif
menunjukkan, bahwa sesudah berdirinya dinasti-dinasti Arab yang menguasai
Timur-Tengah hingga lembah Indus, perkembangan budaya masyarakat manusia di
Eropa Barat berlangsung dengan cepat. Dinasti-dinasti Arab Timur-Tengah
memperkenalkan suatu pembimbing fikiran manusia yang disebut sebagai Al-Dinu
al-Islam yang dimuat di dalam Kitabullah Al-Quranu al-Karim kepada para ahli
fikir Eropa. Prinsip-prinsip dasar pemikiran Islami pada gilirannya menjadi
dasar bangunan pemikiran positif rasional para pemikir Eropa yang dipergunakan
sebagai batu dasar pengganti sistim pemikiran teologis tradisional
bangsa-bangsa Eropa guna melancarkan "pencerahan pemikiran Eropa" di abad-abad
kegelapan Eropa. Dan model masyarakat madani Muslim yang didirikan rasulullah
Muhammad saw di Madinah lengkap dengan "konstitusi modern pertama" Madinah
telah menjadi contoh bagi disusunnya masyarakat "bourgueois" modern Eropa Barat
dalam bentuk ketatanegaraan yang berlandaskan hukum legal di mana semua orang
sama kedudukannya di depan hukum legal.
Proses pewahyuan kepada rasulullah Muhammad saw dapat kita temukan
penjelasannya dalam QS.23:1-18. Pewahyuan adalah suatu proses interaksi yang
berlangsung di antara Sang Holik dengan al-'abd yang oleh pemikiran teologi
ditransformasikan sebagai suatu proses interaksi yang mistis dan magis secara
kontemplatis. Secara doktrinair dan dogamatis digambarkan sunatullah sebagai
suatu keajaiban mistis dan magis yang berada di luar hukum umum alam semesta.
Dengan demikian ayat-ayat QS.23:1-18 selama ini kita fahami secara dogmatis dan
doktrinair. Pemahaman teologis demikian akan memaksa diri kita melepaskan
dasar intrinsik keunikan manusia yang berfikir rasional, logis dan dialektis
dan harus menerima penjelasan yang biasa disebut sebagai penjelasan metafisika.
Namun
program rasional, logis dan dialektis lipatan ganda DNA (DNA double helix) pada
otak manusia hingga saat ini masih terus-menerus berlawan terhadap model-model
penjelasan metafisika demikian itu, sekalipun para penganjurnya sudah
menerbitkan ribuan jilid buku-buku untuk menguatkan argumentasi teologis
manusia.
Hal ini yang menyebabkan manusia selalu gelisah dan bingung ketika hidupnya
yang dipandu oleh tata-nilai dan polah-laku moral teologis bertabrakan dengan
realitas obyektif praxis hidup manusia dalam masyarakat yang dibimbing oleh
tata-nilai dan polah-laku moral sistim sosial-ekonomi masyarakat. Usaha manusia
mengatasi kebingungan dan kegelisahan dengan memaksakan teologi sebagai
pembimbing masyarakat telah menghasilkan berbagai macam perlawanan
sosial-politik dan ideologi di dalam masyarakat di masa lampau dan dewasa ini
(Cermati keruntuhan masyarakat manusia yang menjadikan teologi sebagai ideologi
pembimbing masyarakat, termasuk masyarakat Muslimin).
Dalam tulisan "Malaikat, Iblis, Syaithon dan Nafsu. Malaikat I" secara
cekak-aos saya jelaskan pemahaman saya terhadap kata "malak" dan proses
pewahyuan firman-firman Qurani kepada rasulullah Muhammad saw. Di mana yang
pokok adalah peranan photon sebagai partikel pembawa dan pengantar informasi
dari Yang Maha Memiliki informasi kepada rasul-NYA, yang disebut dalam firman
Qurani sebagai malaikat Jibril (Ibrani: Gabri-El). Hal ini dapat kita dekati
melalui model tabrakan partikel "deep inelastic scatering process" yang terjadi
di lapisan teratas atmosfeer Bumi maupun yang terjadi di lingkungan hidup
manusia, yang menyebabkan berlangsung interaksi partikel hingga menghasilkan
photon berenrgi rendah yang mampu berinteraksi dengan atom-atom sel tubuh
manusia. Dan informasi yang dibawa photon disampaikan oleh photonic atom
menerobos dinding-dinding sel hingga ke rongga dada. Cairan dalam sel-sel di
dalam rongga dada menterjemahkan code digit photonic atom menjadi firman-firman
yang difahami oleh para nabi dan rasulullah sebagaiaman monitor LCD atau TFT
sebuah laptop dipenuhi oleh huruf-huruf dan gambar-gambar grafis.
Al-Dinu al-Islam menawarkan, jika diperkenankan menyebutnya, suatu
disposisi canggih Islami bagi manusia dengan mengedepankan tingkatan kwalitas
spiritual sebagai "holifatan fii al-ardzh". "Holifatan fii al-ardzh" itu adalah
suatu tingkat kwalitas spiritual manusia sebagai produk ciptaan yang
dipertanyakan oleh para malaikat. "Inni jaa'ilun" dalam firman QS.2:30 telah
menetapkan qodar atas diri manusia secara individual, baik biologis maupun
spiritual yang mngacu kepada kwalitas "holifatullah". Dengan menggempitanya
perkembangan sains dan teknologi mutahir dan tercanggih dewasa ini, manusia
semakin mampu mendekati makna dan tujuan hidupnya sebagai "holifatullah" dalam
kerangka kerja rasional, logis dan dialektis pemikiran alaminya. Dengan
mengembangkan kreativitas keilmuan dan teknologi manusia akan semakin mampu
membedakan antara tuhan-tuhan rekaan imajinasi spiritualnya sendiri dengan
Tuhan yang berada mandiri obyektif dan tak terdefinisikan. Disposisi
Islami bagi manusia ini membuka Jalan Lurus yang disinari cahaya ilahi
sebagaimana difirmankan dalam QS.24:35. Hanya dengan dasar pemikiran rasional,
logis dan dialektis Islami manusia biologis mampu meningkatkan kwalitas
spiritualnya yang didasari oleh dorongan survival alami ke tingkat kwalitas
spiritual manusia yang didorong dengan kesadaran intrinsik haqi memahami
sifat-sifat keilahian yang harus dididikkan ke dalam dirinya agar dapat
mewakili Yang Maha Pencipta. Apabila kita sanggup mempergunakan probability
theory dalam menetapkan kesempatan yang terbuka, maka hanya dengan penguasaan
ilmu pengetahuan kealaman dan kemasyarakatan yang luaslah kita berkesempatan
untuk mendidikkan ke dalam diri kita masing-masing materi-materi yang dapat
meningkatkan ahlaq biologis kita ke tingkat ahlaq spiritualitas karimah yang
mendekati model manusia "holifatab fii al-ardzh" atau yang menurut seorang
"al-Ustadz al-Imam" Mesir: Muhammad Abduh dinamakan sebagai "al-insanu
al-kamil". Untuk itu marilah kita bersama-sama belajar ilmu pengetahuan
kealaman dan kemasyarakatan sesendok demi sendok, sekeranjang demi sekeranjang
secara sabar, ulet, tawadu, selama kita masih asyik bernafas. Dalam hal belajar
ilmu pengetahuan tidak ada batasan usia dan yang diperlukan hanyalah ketaqwaan
kepada Sang Holik Yang Maha Esa. Dengan meningkatnya kemampuan berfikir kita
secara rasional, logis dan dialektis Islami demikian, maka insya'Allah kita
akan semakin mampu melaksanakan sholat dengan husuk
sebagaiaman yang difirmankan dalam Al-Quranu al-Karim.
Wa bii Allahi taufiqu wa al-hidayah
Wassalam,
A.M
[Non-text portions of this message have been removed]