MAKNA KEMATIAN Banyak orang berusaha untuk merenungkan "Makna dari Kehidupan", tetapi kebalikannya jarang ada orang yang sudi merenungkan "Makna dari Kematian". Oleh sebab itulah dalam kesempatan ini mang Ucup ingin mengajak Anda untuk merenungkannya sejenak.
Kenapa orang harus berduka pada saat ditinggal mati dan kenapa kita harus takut mati? Kita tidak bisa menolak kematian, tapi hanya ingin menerima kelahirannya saja. Kita merasa gembira menyambut kelahiran tetapi berduka pada saat kematian. Dan ini sebenarnya tidak adil dan tidak masuk akal, apalagi kita sudah sadar dan tahu dari semula bahwa manusia itu harus mati! Jadi seharusnya manusia itu gembira menerima kelahiran, tetapi harus gembira pula menerima kematian. Seperti juga layaknya orang merasa gembira pada saat pulang mudik di waktu Lebaran. Tiap makhluk yang dilahirkan di kolong langit ini hanya punya satu arah tujuan ialah Kematian, begitu kita brol dilahirkan langsung Start Countdown untuk pulang kampuang ke alam baka. Jadi sebenarnya Sang Pencipta itu menabur kelahiran untuk menuai kematian. Dan setiap orang menyadari, bahwa pada suatu saat ia harus koit dan ini udah kagak bisa ditawar lagi alias harga mati! Semua makhluk infra-human akan mati-busuk, jadi seongok daging, tamat-habis sampai disini, tanpa ada embel-embel kelanjutannya lagi. Hanya caranya saja yang beda seperti kalau kita pulang kampuang disaat lebaran; yang satu naik pesawat, naik bis, naik kendaraan pribadi begitu juga dengan kematian yang satu mati karena usia tua, sakit, kecelakaan, bunuh diri, dibunuh dan lain-lain, yang intinya adalah mati secara normal atau abnormal. Hidup ini terbentang antara lahir dan mati. Lantas, apakah makna hidup ini? Apakah hidup ini memang punya makna? atau apakah hidup ini sama sekali tidak punya makna apa-apa ? Hanya sayangnya untuk pertanyaan tsb diatas ini, tidak ada seorang pun yang bisa memberikan jawaban dengan pasti, tetapi yang sudah pasti kematian itu ada jauh lebih bermakna daripada kehidupan. Ah moso sih? Semua agama di dunia ini beranjak, karena adanya kematian, tanpa adanya kematian, kita tidak butuh agama. Dan jawablah dengan jujur, kita percaya akan adanya Sang Pencipta, karena kita tahu bahwa pada suatu saat kita harus mati, dan hal inilah yang pada umumnya kita takutkan: "What Next?" Tetapi dengan adanya agama yang dapat memberikan iming-iming tentang kehidupan setelah mati, baru kita membutuhkan Allah! Agama tidak membutuhkan bukti2 empirik dan tidak membutuhkan penalaran rasional murni atas gejala mati dan hidup ini. Yang diperlukan agama hanya satu saja ialah kesadaran, bahwa pada suatu kita harus mati! Untuk ini tidak perlu bukti dan tidak perlu logika, karena udah dari sononya begichu! Hidup ini menjadi bermakna karena ada kematian dan kematian itu menjadi bermakna karena manusia mengalami hidup. Marilah kita mengandaikan manusia ini tidak dapat mati. Apa yang terjadi? Apakah arti hidup ini? Bahkan, kata "hidup" itu sendiri tak akan dikenal. Hidup lantas tak akan punya makna lagi. Hidup ini dikenal justru karena adanya kematian! Jadi menyadari makna dari kematian itu adalah kunci untuk menjawab pertanyaan mengapa manusia harus hidup! Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya karena ini tidak menyenangkannya. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak pernah mau memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya! Mungkin saja besok Anda meninggal dunia dalam perjalanan menuju ke kantor atau bisa juga langsung koit setelah membaca oret-oretannya mang Ucup, sehingga nama Anda esok udah dipajang di iklan kematian. Renungkan dan sebutkanlah satu saja alasan kenapa Sang Pencipta harus memperpanjang masa hidup Anda? Ora ono Mas! Memento mori, ingatlah kematian selama kamu hidup. Berbuatlah amal seolah hidupmu panjang, dan hindarilah dosa seolah esok pagi kamu akan mati. Hidup ini punya makna kalau engkau ingat mati dan kematian itu baru bermakna kalau hidupmu bermakna. Tetapi jawablah dengan jujur apakah Anda sudah siap untuk mati esok? Persiapan apa yang sudah Anda persiapkan untuk hari kematian Anda? Aneh bin nyata banyak orang mempersiapkan segala macam tetek bengek jauh-jauh hari sebelumnya apabila mau pergi liburan singkat, tetapi tidak ada yang mau mempersiapkan diri untuk pergi liburan abadi! Mang Ucup Email: mang.ucup<at>gmail.com Homepage: www.mangucup.org Facebook

