Penyergapan Teroris, Dramatisasi Media 

  Oleh: Teguh S. Usis 

Dua stasiun televisi berita di
Tanah Air menyuguhkan "drama" penggerebekan teroris di Temanggung,
Jawa Tengah, beberapa hari yang lalu. Dar-der-dor suara letusan senapan serbu 
dan pistol menyalak, gelegar bom
memekakkan telinga, menguak dingin malam. Begitulah kita disuguhi sebuah
tontonan seperti film laga Hollywood. Dramatis dan begitu nyata. Tontonan itu
pun dapat disaksikan di sejumlah tempat umum, seperti pusat belanja dan
bandara. Nyaris semua mata di kedua tempat itu terpaku menatap layar kaca. 

Sejak bom kembali mengguncang
Jakarta pada 17 Juli silam, masyarakat Indonesia memang tengah berada pada
situasi bertanya-tanya. Siapakah pelaku peledakan bom di Hotel JW Marriott dan
Ritz-Carlton yang menewaskan sembilan orang itu? Benarkah gembong
teroris paling dicari aparat keamanan Indonesia, Noor Din M. Top, berada
di balik aksi pengeboman itu? Berbagai informasi yang terpublikasi di media 
massa cetak, elektronik,
dan onlineselalu disantap masyarakat dengan rasa ingin tahu yang besar. 

Maka, ketika informasi tentang penggerebekan sebuah rumah di Temanggung,
Jawa Tengah, yang disinyalir di dalamnya Noor Din bersembunyi, masyarakat
menjadi begitu antusias menyaksikannya. Dan dua stasiun televisi berita di 
Indonesia
menjadi pilihan utama masyarakat, lebih lagi lantaran kedua stasiun itu
menayangkannya secara langsung, hampir mencapai 30 jam. Tak salah jika share
dan rating kedua stasiun itu begitu tinggi. Dari data AGB Nielsen untuk
tiga kota (Jakarta,
Bandung, dan Surabaya), kedua stasiun itu mendapatkan share
sekitar 32 persen. Artinya, hampir sepertiga penonton televisi pada saat itu
menyaksikan tayangan langsung di kedua stasiun televisi tersebut. Bahkan, pada
saat klimaks ketika polisi menyerbu masuk ke rumah dan sesosok mayat
dikeluarkan polisi dari dalam rumah, yakni pada Sabtu dari pukul 09.00 sampai
pukul 12.00, share kedua stasiun ini mencapai hampir 75 persen. 

Maka terjadilah reality show penggerebekan teroris. Mengapa reality
show? Di dunia pertelevisian, saat ini program reality show memang
sedang booming, seperti Termehek-mehek dan Orang Ketiga.
Hampir semua program bergenre reality show ini sukses menangguk
penonton. 

Dramatisasi 

Adakah yang salah dari kejadian ini? Secara industri rasanya tidak ada.
Televisi adalah industri dengan modal besar. Tak salah bila kemudian pengelola
dan pemilik televisi mengharapkan gelontoran uang yang besar pula ke
pundi-pundi mereka. Penayangan secara langsung peristiwa penggerebekan teroris
di Temanggung tentunya akan mendatangkan pemasukan dari iklan yang besar pula.
Apalagi bila pada layar kaca diimbuhi tulisan "eksklusif". Tengoklah
deretan iklan berupa running text atau super-impose di kedua
stasiun televisi berita itu saat menayangkan proses penggerebekan teroris. 

Tapi sejatinya sebuah berita tak semata menyandarkan diri kepada tuntutan
industri. Tanggung jawab kepada audiens (penonton televisi atau pembaca media
cetak dan online) seharusnya menjadi bagian yang inheren dalam sebuah
pemberitaan. Ketika pada akhir proses penggerebekan, reporter televisi dengan
lantang menyebutkan bahwa tamatlah sudah riwayat Noor Din M. Top, tentulah
banyak penonton yang bersorak--meski mungkin hanya dalam hati. Alasannya amat 
sederhana: ancaman bom akan
berkurang. 

Sayangnya, keriaan itu tak
dibarengi sikap skeptis sang reporter. Padahal sikap skeptis ini menjadi salah
satu tiang jurnalisme. Sang reporter hanya menyampaikan laporan pandangan mata
alias reportase dari lapangan. Tak sedikit pun mencuat tanda tanya--sebagai
bagian dari sikap skeptis terhadap aksi "heroik" yang sedang digelar
pasukan Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri. Pertanyaan itu misalnya:
berapa orang yang ada di dalam rumah. Mengapa tidak ada tembakan balasan dari
dalam rumah. Mengapa polisi begitu yakin jika di dalam rumah itu bersembunyi
Noor Din M. Top. Apakah tidak ada cara lain, umpamanya melemparkan bom asap ke
rumah, selain dengan cara menghujani dinding rumah dengan peluru. 

Yang terjadi pada saat penggerebekan itu adalah dramatisasi. Sebuah pertunjukan 
heroik polisi yang
dipertontonkan secara langsung kepada audiens. Sebuah reality show
dengan pemeran utama polisi tentunya mereka tak perlu dibayar layaknya aktor
pada sebuah film. Saya bukannya ingin menafikan kerja polisi. Penggerebekan
sebuah rumah di Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat, pada saat bersamaan dengan
penyerbuan sebuah rumah di Temanggung jelas merupakan sukses polisi. Penemuan
600 kilogram bahan peledak tentulah sebuah prestasi besar. 

Yang ingin saya cermati adalah
kerja para jurnalis di Temanggung. Sikap skeptis yang sejatinya menjadi pilar
nurani seorang jurnalis haruslah ada pada diri semua jurnalis. Skeptis tak sama
dengan sinis. Dalam terminologi yang dipopulerkan oleh Tom Friedman, seorang
jurnalis New York Times, skeptis adalah sikap mempertanyakan segala
sesuatu, ragu atas apa yang diterima, dan mewaspadai segala kepastian supaya
tak mudah ditipu. Sedangkan sinis adalah penolakan karena seseorang sudah yakin
atas jawaban yang dimilikinya terhadap sebuah kejadian. Oleh H.L. Mencken,
mantan wartawan Baltimore Sun, sikap sinis ini diumpamakan sebagai orang
yang ketika mencium keharuman sekuntum bunga justru malah mencari peti mati. 

Sederet pertanyaan yang saya
singgung di atas tentulah merupakan sikap skeptis, bukan sinis. Sebuah
kepatutan rasanya ketika jurnalis yang ada di Temanggung mempertanyakan
sejumlah hal, terlebih jika sang jurnalis melihat banyak keganjilan. 

Bahaya siaran langsung 

Ada pula hal
lain yang mesti dicermati oleh stasiun televisi. Ingatkah kita akan kejadian
penyanderaan teroris terhadap sejumlah orang di Hotel Taj Mahal dan Oberoi, 
Mumbai, India,
November tahun lalu? Polisi antiteror India memang berhasil membebaskan
para sandera. Tapi tak sedikit pula korban tewas, bahkan dari pihak polisi. Apa
yang terjadi? Ternyata teroris yang
bersembunyi di kedua hotel bintang lima itu mengetahui secara persis titik
keberadaan polisi. Mereka dapat mengakses televisi India yang menyiarkan secara
langsung proses penyerbuan polisi ke kedua hotel itu. Pada baku tembak di
Oberoi, pimpinan pasukan antiteroris kepolisian Mumbai, Hemant Karkare, tewas
diberondong peluru para teroris. 

Bagaimana jika tersangka teroris
yang bersembunyi di dalam rumah di Temanggung ternyata memiliki pesawat
televisi dan melihat secara langsung proses penyerbuan Densus 88? Pada layar
televisi terekam dengan jelas titik keberadaan polisi. Jika sang tersangka
teroris memiliki senjata, tak tertutup kemungkinan tembakan akan diarahkan ke
titik keberadaan polisi. 

Jelas dibutuhkan kode etik untuk
menyiarkan secara langsung sebuah peristiwa layaknya yang terjadi di Temanggung
pekan lalu. Televisi tentu tak semata-mata berpikiran meraup keuntungan
sebesar-besarnya dengan mengabaikan banyak hal--salah satunya faktor
keselamatan pasukan polisi yang sedang menyerbu rumah di Temanggung. Dewan Pers
yang berencana mengundang televisi India untuk berbagi pengalaman soal kejadian
penyanderaan teroris di Mumbai tentu patut ditunggu. Jika nanti televisi
kembali dihadapkan pada kejadian seperti di Temanggung, kearifan patut
dikedepankan ketimbang keinginan meraup rating/share dan
keuntungan finansial semata.

URL Source: http://www.korantem po.com/korantemp o/koran/2009/ 08/14/Opini/ 
krn.20090814. 17

Teguh S. Usis 

jurnalis televisi 

 


 

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke