Senin, 17/08/2009 13:18 WIB
Kolom Telematika
Catatan Seorang Tekno-Nasionalis Euforia
Penulis: Fajar Widiantoro - detikinet
Gamelan (gamelatron. com)
Kolom Telematika - "Kelak, akan tercatat dalam sejarah dunia. Sebuah bangsa
besar yang terletak di antara Samudera Hindia dan Pasifik, serta benua Asia dan
Australia. Mereka menjadi kuli di negeri sendiri, menjadi budak bagi bangsa
lain." Demikian kutipan dari Ir Soekarno, Presiden RI pertama kita.
Mungkin perkataan Bung Karno di atas dapat benar-benar terjadi dalam
sepuluh-dua puluh tahun ke depan. Saat kita tidak lagi memiliki sesuatu -- yang
saya lebih suka menyebutnya dengan "Tekno-Nasionalis Euforia".
Seharusnya Malu
Beberapa waktu lalu, seseorang bernama Aaron Taylor Kuffner a.k.a Zemi17,
seakan telah membuat 'tamparan' keras bagi generasi muda Indonesia. Pasalnya,
ia telah membuat karya yang disebut sebagai GamelaTron. Apa itu?
"GamelaTron adalah koleksi dari instrumen musik milik Indonesia yang bernama
gamelan. Kami menambahkan kata Tron mengacu pada gamelan versi elektronik yang
mereka mainkan. Gamelan ini dijalankan oleh 'lengan-lengan bermesin' yang
berjumlah 117 buah, " seperti dijelaskan Zemi17 dalam situsnya.
Tugas dari lengan-lengan tersebut, yakni sebagai martil yang bekerja bersama
lewat jaringan yang dikontrol dari komputer. Sebagai otak inti dari
masing-masing instrumen yang mereka mainkan, sebuah mikroprosesor yang bisa
menginteprestasikan sinyal musik dibenamkan di dalamnya.
Dilansir Reuters, sejak pertama diluncurkan tahun lalu, berbagai kota telah
mereka satroni untuk mempertunjukkan orkestra unik ini. Termasuk New York,
Pennsylvania dan Connecticut. Bahkan, robot gamelan ini sudah punya basis
penggemar sendiri.
Sejak 2004 sampai 2006, Zemi17 telah tinggal di Indonesia. Ia fokus pada riset
mengenai gamelan klasik di Yogyakarta dan Bali. Riset studinya ini berfokus
pada dua hal yang menjadi akar dari Gamelan: Sekaten dari Jawa Tengah dan
Slonding dari Bali.
Lalu ke manakah pemuda-pemuda Indonesia lainnya saat Zemi17 berkarya membuat
GamelaTron ? Relakah kita bila ada 'orang asing' realitanya justru lebih cinta
akan khasanah budaya kita? Ironis.
Tangisan Ibu Pertiwi
Nasionalisme. Apalah artinya, jika seorang warga negara justru lebih mencintai
budaya asing, sementara budaya asli yang merupakan akar dari budayanya sendiri
mati tergerus. Siapa yang tidak mengenal arti kata 12 huruf yang berbunyi
N-A-S-I-O-N- A-L-I-S-M- E. Tanyakan pada guru PPKN atau PMP sewaktu kita duduk
di bangku SD. Saya rasa kita sudah 'kenyang' dengan arti kata ini.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), hedonisme diartikan sebagai
pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama
dalam hidup (KBBI, edisi ketiga, 2001). Secara umum para hedonis tersebut hanya
berpikir pada hasil dan bukan proses.
Kedua hal ini mungkin tidak ada kaitannya secara langsung. Andai kedua hal ini
dikaitkan, Anda mungkin bisa menjawab sendiri jika ditanya, porsi mana yang
lebih besar antara nasionalisme vs hedonisme ini bagi pemuda-pemudi Indonesia.
Mungkin saat ini, ibu pertiwi sedang menangis merasakan greget nasionalisme
bangsa ini tergerus oleh mesin-mesin 'asing' yang telah mencabut akar-akar
budaya kita sendiri. Seolah membuat generasi muda kita lupa akan keagungan
nilai budaya Indonesia, seperti gamelan, misalnya.
Tengoklah sekeliling kita. Tanyakan pada mereka dan diri kita sendiri, apakah
masih peduli akan kekayaan budaya bangsa ini? Jawab secara jujur, apakah kita
mengetahui keindahan nada-nada pentatonis macam pelog dan slendro?
Bagi beberapa dari kita yang berada di Jawa bertahun-tahun, apakah kita bisa
memainkan melodi ensembel musik dari bonang, saron, rebab dan siter? Slenthem,
gender, gambang dan demung? Jangankan bermain, tahu bentuknya saja tidak.
Semakin ironis karena muda-mudi kita lebih pandai menghentakan jari-jarinya
pada keypad BlackBerry atau iPhone, dibanding menghentakannya untuk belajar
Gamelan. Memainkan serta belajar menggunakan aplikasi-aplikasi baru, kita akui
memang jauh lebih menarik daripada belajar budaya daerah.
Sentuhan Teknologi
Sore itu seorang teman, seorang mahasiswa di Bandung, mengirimkan email. Ia
mendiskusikan mengenai pemanfaatan teknologi bagi kemajuan bangsa. Ia pun
berkata kepada saya soal pidato Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup di
era Presiden Soeharto.
"Nusantara kaya dengan lautan, hutan tropis dan sumber daya mineral. Ketiganya
merupakan potensi yang jika diberdayakan dengan sentuhan sains dan teknologi
yang tepat dapat menjadi sumber keunggulan Bangsa Indonesia." kata Profesor
Emil Salim dalam pidatonya yang berjudul 'Technology for Sustainable
Development: The Case of Indonesia', di Auditorium Campus Centre ITB, Jumat
(19/6/2009).
Dari pidato tersebut, Profesor Emil membuat kesimpulan, bahwa masyarakat
Indonesia, khususnya kalangan terdidik, harus kreatif dalam mengembangkan dan
menginternasionalka n potensi lokal yang sebetulnya telah melekat dalam tradisi
bangsa.
Sebenarnya banyak jalan untuk membangun bangsa ini melalui aplikasi teknologi.
Sebut saja JENI, sebuah program yang dimiliki SUN Microsystem Indonesia untuk
membuat aplikasi berbasis open source. Lihatlah tim dari bangsa ini yang
menjadi juara International Robo Games yang digelar 12-14 Juni 2009 di San
Francisco, AS.
Belum lagi maraknya kantong-kantong komunitas nasionalis, yang kini banyak
bertebaran di Facebook, Twitter, Plurk, dan beberapa situs jejaring lainnya
layaknya IndonesiaUnite! . Di Facebook, misalnya, telah banyak grup-grup yang
bertujuan menggalang nasionalisme. Demi menumbuhkan rasa bangga sebagai bangsa.
Sebut saja: Forum Komunikasi Peserta CETAK REKOR: Memerah Putihkan FACEBOOK.
Hal-hal di atas, walaupun kecil namun memiliki tujuan yang sama, yakni:
menumbuhkan semangat nasionalisme. Seperti yang telah dicita-citakan para
pendahulu kita. Inilah semangat terpenting yang harus ada, ditengah
kompleksitas permasalahan bangsa ini.
Merdeka
Tulisan ini tidak ditujukan kepada kita agar mengubah diri secara frontal dan
memojokan hal-hal tertentu. Tapi minimal kita harus berkaca pada diri
masing-masing. Apa kontribusi kita bagi bangsa yang telah merdeka selama 64
tahun ini?
Mungkin kita bukanlah ahli dan pakar di bidang teknologi, atau seseorang yang
dikaruniai IQ tinggi untuk mencipta sesuatu yang berguna bagi bangsa ini. Namun
saya yakin kita semua pasti memiliki talenta, walaupun kecil. Nah, gunakanlah.
Apapun posisi dan bidang pekerjaan, kita tetap harus produktif. Produktif demi
kemajuan bangsa ini.
Dalam kesempatan ini, marilah kita ciptakan sebuah semangat, kegilaan,
kebersamaan, serta produktivitas tinggi berbasis teknologi. Demi kemajuan
bangsa ini. Merdeka!
Penulis adalah wartawan detikINET yang sangat mencintai negaranya. Tulisan ini
tidak mencerminkan institusi tempat ia bekerja.
( fw / rou )
[Non-text portions of this message have been removed]