Para Hulubalang Oleh Toeti Adhitama Anggota Dewan Redaksi Media Group PASANGAN Dr Susilo Bambang Yudhoono dan Prof Dr Boediono telah resmi dinyatakan KPU sebagai presiden dan wakil presiden terpilih untuk 2009-2014. Kami mengucapkan selamat. Rasanya lega setelah ketegangan pileg dan pilpres yang cukup lama dan merepotkan pikiran. Ditambah lagi kecemasan dan kekesalan akibat perbuatan tercela orang-orang yang mengail di air keruh, termasuk ledakan bom 17 Juli di Jakarta. Sekarang keributan itu sudah berlalu. Semoga. Yang tersisa adalah usaha pembenahannya sambil mengantisipasi apa yang terjadi the morning after. Nenek moyang yang menciptakan peribahasa `Ada gula ada semut' amat bijak. Kalimat singkat dan sederhana itu memiliki makna dalam-sedalam interpretasi yang kita berikan. Gula bisa berarti sumber kehidupan, kekayaan, kekuasaan maupun daya tarik bentuk lain. Gula bisa berarti sumber kehidupan bila merujuk ke Jakarta sebagai pusat urbanisasi. Gula juga mengibarat- kan kekayaan atau kekuasaan ketika para tokoh kaya raya atau yang punya kuasa dikerumuni orang-orang yang mengharapkan sesuatu dari mereka. Begitu pula daya tarik lain-lain yang dipuja banyak orang. Itulah yang sedang terjadi. Maka berbahagialah mereka-mereka yang diibaratkan gula. Namun, setelah manisnya habis, mereka pun terbuang. Itu berlaku bagi setiap orang. Editorial Media Indonesia pada Selasa 18 Agustus memilihnya sebagai topik: JK yang kalah dalam pemilihan capres terkesan dibelakangi orang-orang yang sebelumnya membuntuti di kabinet atau mungkin juga di urusan politik lainnya. Apakah wajar? Jawab JK, "Tidak wajar, tetapi manusiawi." Habis perkara. Itu rupanya adat manusia. Pemimpinpemimpin besar yang habis kuasanya di waktu lalu pun menjadi korban ketidakpedulian. Bung Karno dan Pak Harto, contohnya. Ditambah dengan ungkapan guilty by association (dianggap ikut bersalah bila mendekati), semakin jaranglah orang-orang yang berani mendekati mereka yang tersingkir. "Itulah politik," kata yang sinis. Dua sisi mata uang "Politics at its best is a noble quest for a good order and justice. At its worst politics is a selfish grab for power, glory and riches."(Peter H Merkle, Continuity and Change, Harper and Row, NY 1967). Politik, seperti uang logam, memiliki dua sisi. Dalam bentuknya yang terbaik, dia adalah usaha mulia untuk menciptakan ta tanan sosial yang baik dan adil. Dalam bentuknya yang terburuk, dia menjadi alat merebut kekuasaan, kejayaan dan kekayaan untuk kepentingan pribadi. Ungkapan itu dikutip Miriam Budiardjo (alm), penulis buku Dasar-Dasar Ilmu Politik (1977) dalam pidatonya di upacara penganuger ahan gelar doktor honoris causa dari Universitas Indonesia, Desember 1997. Pidato itu mengu pas soal akuntabilitas dalam ilmu politik. Intinya menegaskan bahwa dalam negara demokrasi, akuntabilitas perlu terjaga. Dia menunjukkan lembaga-lembaga mana yang se harusnya menjalankan fungsi tersebut, ter masuk MPR dan DPR. Faktanya, sebagai masyarakat de mokratis, kita memang masih lemah dalam akuntabilitas. Ini antara lain mencerminkan bahwa dalam berpolitik, kebanyakan cenderung memilih sisi buruknya. Politik dianggap kendaraan menggapai kekuasaan atau kekayaan. Segala cara dilakukan untuk itu. Tidak ada ewuh-pakewuh. Ramainya politik dagang sapi di kalangan partai-partai politik dan politik uang dalam pileg dan pilpres membuktikannya. Idealnya, partai-partai politik di negara demokrasi menjadi perantara antara rakyat dan pemimpin-pemimpin yang mereka pilih. Lewat partai-partai politik, rakyat ikut menentukan jalannya pemerintahan. Dalam sistem kepartaian yang ideal, hanya dua partai atau lebih yang bersaing lewat pemilihan umum. Tujuannya, mendapatkan kekuasaan agar bisa menjalankan gagasan masing-masing. Menurut teori, ada atau tidaknya sistem kepartaian itu menentukan apakah pemerintahan yang ada bersifat demokratis atau totaliter. Dalam pemerintahan demokratis, sistem kepartaian memberikan kebebasan penuh kepada konstituen untuk membuat pilihan. Timbul kesulitan bila jumlah partai berlebihan sehingga tidak ada mayoritas yang efektif. Di Indonesia, yang kemudian terjadi adalah pembentukan koalisi-koalisi. Bagaimana bentuk final ke depannya dan kelancaran operasionalnya masih harus kita tunggu. Kita tunggu siapa-siapa dan dari partai-partai apa yang akan terpilih untuk mengisi lingkaran kekuasaan di keliling kepala negara. Siapa para hulubalang raja? Peran para hulubalang Alkisah, di zaman raja-raja di masa silam, seorang raja memilih para hulubalang untuk membantu dan melayaninya dalam menjalankan kekuasaan. Berhasil tidaknya pemerintahan seorang raja bergantung pada rasa hormat, kesetiaan, kepatuhan, kemampuan, dan keterampilan para hulubalang. Rasa hormat disebut yang pertama karena dalam organisasi sekecil atau sebesar apa pun, yang penting pimpinan harus mendapatkan rasa hormat, kesetiaan, dan kepatuhan mereka yang di bawahnya. Wajar bahwa yang dipilih adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dan keterampil- an. Situasi itu masih berlaku sampai sekarang. Dalam masyarakat modern yang kompleks, kepemimpinan suatu organisasi, termasuk organisasi politik seperti negara. Sudah menjadi sangat teknis sifatnya. Situasi menuntut pimpinan memiliki lingkaran kekuasaan yang diisi ahli-ahli di berbagai bidang sehingga kepemimpinannya mampu merespons situasi yang terus berubah dan sering menimbulkan tekanan-tekanan. Pimpinan dituntut mampu terus-menerus menyesuaikan diri, begitu pula lembaga yang dipimpinnya. Kekompakan menjadi keharusan karena itu menjadi hak prerogatif pimpinan untuk menentukan siapa-siapa yang masuk dalam lingkaran kekuasaan sebagai pembantunya, sebagai hulubalangnya. Citra pimpinan ditentukan citra para hulubalangnya. Kita ingat betapa agungnya aura Pak Harto berkat bantuan para hulubalangnya. Dalam kebijakan ekonomi, misalnya, kelompok hulubalang itu dinakhodai Widjojo Nitisastro. Gelar bapak pembangunan diperoleh presiden kedua berkat kelompok itu. Dalam manajemen ada ungkapan, "An eagle flies alone". Dalam mengambil keputusan terakhir memang pemimpin tertinggi yang menentukan. Sebab dialah yang memimpin dalam proses pengambilan keputusan. Namun, dalam operasional sehari-hari, para hulubalang yang seharusnya banyak menentukan. Oleh karena itu, ketika lagu Indonesia Raya tidak berkumandang sebelum pidato Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di DPR dalam rangka perayaan 17 Agustus, bukan Agung Laksono yang alpa, melainkan para hulubalangnya yang teledor. Itu sekadar contoh. Dalam organisasi-organisasi lain pun, besar atau kecil, sama keadaannya. Bila para hulubalang salah atau meleset dalam pertimbangan bisa membuat kesalahan fatal yang mencelakakan pimpinan. Para hulubalang bukan hanya menentukan citra, melainkan juga nasib pimpinannya. Mutu seorang pimpinan dapat diperkirakan dari mutu jajaran hulubalang yang dipilihnya. The 1st class chooses the 1st class. The 2nd class chooses the 2nd class. Pemimpin yang kuat memi lih orang-orang kuat sebagai pembantulih orang-orang kuat sebagai pembantu nya. Dia tidak akan memilih anak buah yang lemah dan ikut-ikutan. Situasiyang lemah dan ikut-ikutan. Situasi nya tidak beda dengan di masa silam. Kejayaan seorang raja adalah kepiawaian para hulubalangnya. Se baliknya, kelemahan para hulubalangnya mencergnya mencerminkan kele mahan se orang raja. http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2009/08/21/ArticleHtmls/21_08_2009_004_001.shtml?Mode=0
apa ide Mu??? mari wujudkan dalam KAOS, http://media-klaten.blogspot.com/ http://seizetheday-cloth.blogspot.com/ my facebook: http://id-id.facebook.com/people/Wahyudi-Yudi/1484406851 Get your new Email address! Grab the Email name you've always wanted before someone else does! http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/ [Non-text portions of this message have been removed]

