(dari milis tetangga): Ditulis oleh seorang dosen dan diforward oleh 
mahasiswanya.
 
----- Forwarded Message ----
From: Lusiana M. Hevita <[email protected]>
Subject: [sma1bks] NCB : Indonesia Wannabe
  



kali ini NCB mengutip tulisan seseorang yang tidak lain dan tidak bukan dosen 
saya yang Ph.D, yang lebih saya anggap sebagai dosen pelajaran menulis daripada 
mata kuliah Database, telematika, komunikasi dlsb. Happy Reading..:)

TETANGGA KITA YANG WANNABE - by Putu Laxman Pendit

Mereka bilang Tari Pendet punya mereka, setelah mencoba mengklaim reog, dan 
berhasil mengakui sate, batik, tempe, dan entah apa lagi. Lagu-lagu pop kita di 
sana laris manis. Memang, tetangga kita itu Indonesia wannabe banget!

Di kamus, ada penjelasan tentang arti wannabe seperti ini:

# One who aspires to a role or position.
# One who imitates the behavior, customs, or dress of an admired person or 
group.
# A product designed to imitate the qualities or characteristics of something

Lihat (http://education. yahoo.com/reference/dictiona ry/entry/wannabe)

Perhatikan artian nomor 2 di atas. Tetangga kita, ya, seperti itulah! Mereka 
mengagumi, mengidolakan Indonesia. Ibaratnya si Polan bertetangga dengan Ariel 
Peterpan, dan si Polan mengagumi Ariel setengah hidup, walau tongkrongan Polan 
jauh dari memadai. Apa yang dilakukan Polan? Ia menjadi Ariel wannabe, berusaha 
menjadi seperti idolanya itu, dan —kalau sudah kesengsem— bisa-bisa si Polan 
terganggu jiwanya: mengklaim bahwa dia adalah Ariel.

Ada juga cara lain melihat perilaku tetangga kita yang menggelikan itu.

Tetangga kita yang serumpun dan berpenampilan fisik percis sama seperti kita 
itu, tentu setidaknya minder berdampingan di panggung dunia. Mereka akan tampak 
culun di sebelah kita yang semarak oleh aneka ragam ikon budaya. Celaka buat 
mereka, sebab pada dasarnya mereka merasa lebih kaya secara material daripada 
kita.

Jadi, bayangkan saja seorang kaya yang hidup bersebelahan dengan seorang 
bersahaja, tetapi si kaya itu tak punya budaya apa-apa. Bayangkan betapa 
dongkolnya si orang kaya yang menyanyi pun sumbang dan menari pun gamang, harus 
hidup berdampingan dengan si bersahaja yang lantang bernyanyi dan ciamik ketika 
menari. Dongkol banget, kan?!

Maka tetangga yang (merasa) lebih kaya itu diam-diam pengin seperti si 
bersahaja. Maka berkatalah dia kepada dunia: nyanyian itu, tarian itu saya yang 
punya. Celaka dua belas bagi si (merasa) kaya, uang dan kelimpahan material tak 
menjamin ia bisa menyanyi dan menari seperti tetangganya yang bersahaja. Apa 
boleh buat, tak bisa memiliki tetapi setidaknya tetangga kita itu bisa 
pura-pura memiliki —syukur-syukur diakui sebagai pemilik.

Nah, itu juga namanya Indonesia wannabe banget, kan? Kemana-mana ngaku-ngaku 
setara dalam hal kehalusan budaya dengan Indonesia. Ke seantero jagat 
ngaku-ngaku bersaudara, dan bilang: "Saudara gue itu bisa menari bagus banget, 
tapi tarian itu kan gue yang punya..."

Kasian deh, elo... 





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke