Rabu, 26/08/2009 14:55 WIB
Polisi Hanya Cari Sensasi di Balik Penetapan Buron Mohamad Jibril
Aprizal Rahmatullah - detikNews
Jakarta - Penetapan Mohamad Jibril sebagai buronan teroris oleh polisi dinilai
janggal dan tidak lazim. Karena Jibril tidak 'menghilang' seperti tersangka
teroris lainnya. Muncul dugaan, polisi hanya ingin mencari sensasi saja.
"Muncul kesan hanya mencari sensasi semata," ujar Koordinator Indonesian Crime
Analyst Forum (ICAF) Mustofa B. Nahrawardaya dalam rilis yang diterima detikcom
, Rabu (26/8/2009).
Menurut Mustofa, penetapan buronan atau Daftar Pencarian Orang (DPO) biasanya
dilakukan ketika tersangka mangkir hingga tiga kali pemanggilan dan menolak
penjemputan paksa. Atau tersangka melarikan diri dan tidak mengindahkan
ketertiban proses hukum.
"Jika polisi sudah mengetahui posisi Mohamad Jibril, ada kepentingan apa,
sehingga harus diumumkan terlebih dahulu sebagai DPO?" jelasnya.
Mustofa khawatir, Jibril yang tidak merasa menjadi DPO bisa menjadi korban main
hakim sendiri oleh masyarakat, akibat pengumuman polisi yang tergesa-gesa
melalui media massa. "Bisa dibayangkan, jika tiba-tiba masyarakat menangkap
dengan caranya mereka karena terpicu publikasi polisi tersebut. Padahal, belum
tentu yang bersangkutan terlibat," imbuhnya.
Mustofa menyatakan, polisi mesti fokus membawa masalah ini kepada kaitannya
dengan terorisme. Jangan sampai melebar ke masalah lainnya.
"Penyelidikan polisi nantinya mungkin merembet ke Abu Jibril, dan juga semua
keluarganya. Polisi mestinya fokus pada terorisme bukan distoris ke persoalan
lain misalnya soal administrasi kependudukan," pungkasnya.
(ape/nrl)
[Non-text portions of this message have been removed]