this is a true story tentang nasib mereka para pengkhianat.
Bukanlah cerita ini untuk membuka aib orang lain tetapi untuk membagi
pengalaman manusia atas apa yang dia kerjakan dan apa yang diperolehnya.
Kisah ini dimulai ketika saya ditugasi oleh pihak masjid untuk bersilaturrahim
ke rumah orang-orang indonesia yang berada di sekitar lokasi masjid (dalam satu
lingkup kota kecil yang ada di Belanda). Sejumlah daftar nama orang-orang
Indonesia diberikan kepada saya lengkap dengan alamat rumahnya. Beberapa nama
sudah saya kenal. Sebenarnya saya pribadi malas mengunjungi mereka karena
mereka adalah orang Indonesia yang sudah menjadi warna negara Belanda karena
jasa-jasa mereka selama masa penjajahan dulu. Singkatnya mereka adalah veteran
tentara Belanda (KNIL dan sejenisnya). Namun karena ini tugas dari masjid mau
tidak mau saya harus coba jalankan.
Untungnya saya bisa jalan bareng dengan seorang teman dari Malaysia. Lebih
untungnya lagi bahasa Belandanya jauh lebih lancar dibanding saya. Dan yang
paling untungnya lagi dia bawa mobil sendiri, jadi saya gak perlu mengayuh
sepeda.
Setelah mendatangi beberapa rumah sampailah kami ke flat yang cukup mewah,
untuk berkunjung ke penghuninya kita harus mendapat izin dari resepsionisnya
dulu, sama seperti ketika kita mau menemui seseorang di kantor yang bonafit.
Ada banyak orang Indonesia disana bisa dilihat dari daftar nama-nama yang
tertera. Sebagian menggunakan nama islam sebagian menggunakan nama-nama umum
dan kristen.
Kami menyampaikan maksud kami untuk bertemu dengan 2 orang penghuni flat
tersebut yang ada dalam daftar list dari masjid. Tujuan kami tidak lebih dari
bersilaturrahim sebagai sesama orang Indonesia, namun petugas flat tersebut
menyarankan kepada kami untuk tidak menemui mereka. Bukan karena tujuan kami
yang tidak sesuai tetapi karena kondisi mereka. Dalam bahasa belanda yang sudah
diterjemahkan teman saya bilang "dah nyanyok, tak boleh kita ketemu mereka, tak
gune"
Nyanyok itu apa bang?
nyanyok itu agak-agak mad, tak ada ingatan.
Yang satunya lagi? kan ada 2 orang.
keduanye dah nyanyok, kita pulang sajelah.
bukan cuma mereka berdua yang nyanyok, tapi sebagian besar orang-orang tua dari
Indonesia yang tinggal di flat itu memang sudah Nyanyok. mereka tidak gila
sehingga mereka bisa tinggal disana. Hanya seorang perawat saja yang
mendatanginya tiap hari menyediakan makanan dan pakaian.
Kasihannya mereka hidup sendiri di negeri orang dalam kondisi emosional yang
rapuh. Walau tinggal di apartemen mewah namun bila hatinya kering dan miskin
tentu hidup jadi tak berguna. bahkan untuk menemui orang lain pun sudah tidak
diperbolehkan. Padahal dulu mereka adalah seorang pemuda yang gagah berani
membela yang tidak benar. sanggup membunuh saudara sebangsa demi kejayaan
kolonial. Setelah menghancukan negeri sendiri mereka justru hancur sendiri
dalam kekayaan dunia yang memang mereka impikan.
Kita memanen apa yang kita tanam.
sebagian orang memanennya langsung di dunia dan sebagian lagi di akhirat.
(dikutip dari posting di Multiply)
[Non-text portions of this message have been removed]