Jadikan PDI-P "Mainan" Politik, Demokrat Tak Santun
 
Rabu, 26 Agustus 2009 | 15:27 WIB
Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary


JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 
Ikrar Nusa Bakti, menilai pengakuan Demokrat bahwa pendekatan ke PDI Perjuangan 
merupakan bagian dari permainan politik sah dilakukan. Akan tetapi, menurutnya, 
permainan itu justru membuat Demokrat melanggar kontrak politik dengan partai 
pendukungnya.

"Kalau begitu, siapa yang tidak santun dalam berpolitik? Kalau mereka yang 
tergabung di koalisi, kemudian ditekan dengan cara melakukan bargaining politik 
dengan orang yang tidak pernah mendukung," ujar Ikrar, seusai diskusi di Gedung 
DPD, Jakarta, Rabu (26/8).

Ia melanjutkan, "Buat saya sah-sah saja dalam politik. Tapi dari sisi 
kepercayaan politik tidak baik dalam sistem perpolitikan," kata dia.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok mengakui bahwa 
pendekatan ke PDI Perjuangan merupakan bagian dari permainan politik untuk 
menekan partai koalisi yang banyak menuntut kepada SBY.

Terlepas dari permainan politik, Ikrar menegaskan, praktik seperti itu tidak 
bisa diterima dalam norma-norma politik yang ada. "Kalau mau jadi pemain 
politik yang baik harus punya norma politik. Jangan menghalalkan segala macam 
cara," ujarnya.

Demokrat dan PDI Perjuangan sebenarnya dinilai memang sama-sama memiliki 
kepentingan jika berkoalisi. Di satu sisi, PDI Perjuangan dipandang lelah 
menjadi oposisi. Di sisi lain, Demokrat memendam keinginan mendapatkan dukungan 
lebih di parlemen. "Tapi bisa Anda bayangkan, pemerintahan macam apa yang akan 
terbentuk dengan parlemen yang tidak berani mengatakan 'tidak' untuk kebijakan 
pemerintah?" kata Ikrar retorik.




      

Kirim email ke