Betul.
Meski sudah kaya juga para koruptor akan tetap korupsi karena katanya korupsi 
itu sudah membudaya.

Entah karena penegak hukum yang ada tidak efektif, dibentuklah KPK untuk 
memberantas korupsi.

Tapi ternyata sekarang pimpinan KPK juga saling tuding terima suap/komisi.

FYI, gaji pejabat tertinggi di Indonesia yang cuma rp 3,4 juta/bulan itu memang 
masih kalah dgn gaji pengantar Pizza di AS yang mencapai rp 14 juta/bulan. Ini 
karena pemerintah tidak punya kemauan serius untuk mandiri dan mensejahterakan 
seluruh rakyatnya.

Padahal kalau mau, insya Allah gaji pokok tertinggi pejabat rp 14 juta/bulan 
itu bisa diraih sehingga tak perlu lagi ada korupsi.


Bagaimana ini?

===

Ayo Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits

http://media-islam.or.id

Info untuk Indonesia lebih baik: www.infoindonesia.wordpress.com

Belajar Islam via SMS: REG SI ke 3252 Berhenti ketik:UNREG SI Hanya dari 
Telkomsel



Milis Syiar Islam: [email protected]

--- Pada Rab, 26/8/09, agushamonangan <[email protected]> menulis:

Dari: agushamonangan <[email protected]>
Judul: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Korupsi karena Miskin?
Kepada: [email protected]
Tanggal: Rabu, 26 Agustus, 2009, 10:48 PM






 




    
                  Laporan wartawan KOMPAS.com Inggried Dwi Wedhaswary



http://nasional. kompas.com/ read/xml/ 2009/08/27/ 12255566/ Korupsi.karena. 
Miskin



JAKARTA, KOMPAS.com -  Salah satu penyebab perilaku korup adalah karena 
kemiskinan. Pendapatan aparat atau kaum birokrat yang terbatas menjadi salah 
pemicu korupsi.



"Korupsi terjadi karena adanya kemiskinan, kekurangan yang dialami. Maka, 
pencegahannya adalah dengan mengatasi kemiskinan yang terjadi," ujar 
Sesjampidsus Kejaksaan Agung, Himawan saat berbicara pada diskusi "Mengkaji 
Modus Korupsi dan Upaya Pemberantasannya" , di Gedung DPD, Jakarta, Kamis 
(27/8).



Saat ditanya, apakah para pejabat yang melakukan korupsi dapat digolongkan 
miskin? Himawan menyebutkan faktor penyebab lainnya, yaitu kerakusan. Kerakusan 
ini, menurut dia, berkaitan dengan moralitas. "Tapi ancaman pidana tidak 
berpikir apakah dia rakus atau tidak. Jika kebutuhan tercukupi, korupsi tidak 
akan terjadi, kecuali karena kerakusan. Kejaksaan berupaya menyelesaikan sesuai 
ketentuan yang berlaku dan jangan diplesetkan menjadi tebang pilih," ujarnya.



Peneliti Hukum Indonesia Corruption Watch (ICW) Febri Diansyah mengatakan, 
korupsi yang disebutkan Himawan dikenal dengan corruption by need atau korupsi 
yang disebabkan karena kebutuhan. "Memang bisa diobati dengan perbaikan 
kesejahteraan. Kita setuju penghasilan layak bagi polisi dan jaksa. Tapi APBN 
yang berasal dari uang rakyat, tidak boleh untuk membiayai aparat yang 
koruptif," kata Febri.



Ia mengungkapkan, berdasarkan data tahun 2007 kinerja Kejaksaan Agung 
menunjukkan bahwa aktor tersangka korupsi yang dijerat paling banyak berasal 
dari lower level, diantaranya Kepala Dinas, Kepala Cabang BUMD, pengurus ormas 
atau rekanan pemerintah daerah. Sementara, jeratan untuk middle dan upper level 
seperti gubernur, walikota, anggota DPRD, menteri dan lain-lain masih sangat 
minim.



Direktur Pelayanan Publik KPK, Didi Rahim mengatakan, untuk menanggulangi 
perilaku korup, tak cukup sekadar menaikkan gaji aparat pemerintahan. Kenaikan 
gaji, menurutnya, harus diimbangi dengan penilaian kinerja. "Tidak cukup hanya 
dengan menaikkan gaji, tapi harus ada penilaian kinerja termasuk manajemen SDM 
yang diperbaiki," kata Didi.




 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      Berbagi foto Flickr dengan teman di dalam Messenger. Jelajahi Yahoo! 
Messenger yang serba baru sekarang! http://id..messenger.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke