Date: Thursday, August 27, 2009, 2:42 PM

  






Pengalaman Berlatih, Kostrad Dan Ranger Malaysia


 
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Pasukan Kostrad
/
Artikel Terkait: 

Budayawan Pertanyakan Malaysia Klaim Tari Pendet
Presiden: Malaysia Diharap Punya Niat Baik
Ketua DPR: Protes ke Malaysia Harus Diteruskan
Soal Tari Pendet, Indonesia Minta Penjelasan Malaysia
Sudah Waktunya Indonesia Tegas terhadap Malaysia
 
Kamis, 27 Agustus 2009 | 12:20 WIB
Oleh Prayitno Ramelan
Kemarahan masyarakat Indonesia terhadap Malaysia yang menggunakan tari pendet  
dalam sebuah iklan pariwisata berimbas kemana-mana. Tari Pendet diketahui 
muncul dalam sebuah iklan promosi yang diproduksi rumah produksi KRU Sdn Bhd.
Rumah produksi itu membuat enam film dokumenter Enigmatic Malaysia yang 
disiarkan di 23 negara di seluruh dunia. Pihak KRU menegaskan, mereka memang 
memproduksi program Enigmatic Malaysia, tetapi iklan promosi dibuat oleh 
Discovery Channel yang bermarkas di Singapura.
“Iklan promosi serial dokumenter Enigmatic Malaysia bukan dibuat kami tapi 
dibuat sendiri oleh Discovery Channel,” kata Presiden dan CEO Group KRU Sdn Bhd 
Norman Abdul Halim di KBRI Kuala Lumpur. Norman selanjutnya mengatakan “Kami 
baru tahu bahwa ada protes dan kemarahan rakyat Indonesia atas promosi itu 
kemarin ketika wartawan-wartawan Indonesia menghubungi saya. Kami telah 
menghubungi Discovery Channel kemudian mereka telah menarik promosi itu dan 
menggantinya dengan yang baru,” kata Norman.
Masalah menjadi serius dalam kaitan hubungan diplomatik kedua negara. Presiden 
SBY mengaku, baru kali ini selama pemerintahannya, merespons secara langsung 
isu kebudayaan yang diklaim Malaysia. “Untuk pertama kalinya sejak lima tahun 
ini saya beri pernyataan terkait ini,”katanya.
Menurut presiden, klaim kebudayaan milik Indonesia oleh Malaysia, seperti tari 
pendet, bukan merupakan kejadian yang pertama kalinya. “Dengan semangat, kita 
ingin menjaga hubungan baik antara Indonesia dan Malaysia, berkaitan dengan isu 
tari pendet yang menjadi bagian dari iklan di Malaysia, ke depan Pemerintah 
Malaysia harus memberikan atensi, memelihara hubungan baik kita,” ujar Presiden 
SBY dalam keterangan persnya di Kantor Kepresidenan, Jakarta Selasa (25/8).
Menbudpar Jero Wacik mengatakan, saat ini pihak rumah produksi pembuat iklan 
pariwisata Malaysia telah mengirimkan surat permintaan maaf secara tertulis. 
Namun, ujar dia, permintaan maaf yang hanya melalui surat elektronik itu tidak 
bisa diterima begitu saja. “Saya sudah terima (permintaan maafnya) tapi saya 
tidak mau terima. Saya mau dengar dari pemerintahnya dulu."
Nah, fakta diatas adalah kasus dalam masalah budaya dan pariwisata. Dimana 
Malaysia kita pandang sebagai negara yang sering berbuat seenaknya kepada 
Indonesia. Istilah serumpun nampaknya tidak ada artinya diantara kedua negara. 
Sejarah pernah merekam sebuah konfrontasi fisik militer kedua negara. Hal ini 
kadang sulit dihilangkan, bahkan Malaysia sering agak merendahkan Indonesia, 
walau dibelakangnya tetap ada rasa takut dan was-was.  Penulis  pada saat masih 
aktif bertugas selalu berhati-hati pada bidang militer apabila berurusan dengan 
militer Malaysia. Senyum manis dimuka mereka belum tentu berarti manis dan 
tulus  dihati, inilah sedikit pengalaman masa lalu.
Penulis pada tahun 1992, saat berpangkat perwira menengah mendapat  tugas dalam 
sebuah Satuan Tugas Udara (Satgasud) sebagai perwira intelijen dalam Latihan 
Bersama antara TNI dengan Tentera Darat Malaysia. Sebagai home base pasukan TNI 
ditetapkan di Pangkalan TNI AU Medan (Pangkalan Aju) dan Pulada (Pusat Latihan 
Tempur Tentera Darat Malaysia) di Johor Bahru.
Saat geladi Posko, personil Satgasud serta Kelompok Komando Batalyon 328 
Kostrad bersama Kelompok Ranger Tentera Darat Malaysia berkumpul bersama di 
Pulada. Dari TNI AD, pimpinan komando dibawah kendali Letkol TNI Prabowo 
Subijanto. Satgasud dan Pokdo Kostrad mengikuti briefing dan persiapan 
penerjunan dan penyerangan di Pulada dari Kelompok Komando Tentera Darat 
Malaysia.
Skenario latihan, Satgasud TNI AU mendapat tugas untuk menerjunkan batalyon 328 
disebuah DZ (dropping zone) yang telah ditetapkan, dimana Pasukan Ranger 
Malaysia juga akan diterjunkan di tempat yang sama dengan pesawat Tentera Udara 
Diraja Malaysia. Setelah mendarat maka kedua pasukan masing-masing  bergerak 
menuju kesasaran tertentu, bertanding kecepatan untuk melakukan penyerangan. 
Sasaran dikatakan markas musuh yang diperkuat dengan tank.
Saat di Pulada, penulis yang bertanggung jawab memberikan informasi intelijen 
tentang DZ, baik cuaca, medan, koordinat, elevasi, arah angin, kondisi serta 
panjang DZ, dan musuh,  berdiskusi dengan Letkol Prabowo dan staf intel 
batalyon. Karena yang menentukan DZ dari Malaysia, penulis sangat mewaspadai 
dan ragu tentang kondisi DZ yang mereka sebutkan panjangnya 4,5 km.
Prabowo juga agak mengkhawatirkan, karena pihak TNI yang sama-sama buta 
terhadap kondisi DZ, tidak diijinkan meninjau. Pesan Letkol Prabowo saat itu, 
mohon dalam menerjunkan pasukan benar-benar dihitung agar pasukannya selamat 
dan tidak jatuh korban. Jatuhnya korban dalam latihan antar negara jelas akan 
mencemarkan nama baik.
Pada hari H-1, Satgasud bergeser ke Lanud Medan untuk persiapan penerjunan. 
Pada malam hari sekitar pukul 21.00 WIB sesuai skenario, diberangkatkan satu 
tim Dalpur (Pengendali Tempur dari Den Bravo, Paskhasau), dengan pesawat F-27, 
diterjunkan ke DZ di daerah Johor Bahru. Penulis yang bertanggung jawab dalam 
memberikan informasi DZ, menekankan kepada Dalpur agar melaporkan DZ setelah 
mendarat.
Yang agak dikhawatirkan adalah gagalnya hubungan komunikasi. Alhamdulillah 
komunikasi lancar. Dari laporan Dalpur, ternyata benar kecurigaan semula, 
panjang DZ yang dikatakan Kolat (komando Latihan) Malaysia sepanjang 4,5 km 
ternyata panjangnya hanya 1,5 km. Kemudian tidak pernah disebutkan data adanya 
rawa-rawa dimana terdapat potongan pohon yang mirip tombak.
Dari laporan intelijen tersebut, dilakukan perubahan skenario penerjunan. 
Penulis menyarankan ke Dan Satgasud agar pasukan tidak diterjunkan dalam satu 
“run” (satu kali) tetapi disesuaikan dengan tanda tutup penerjunan yang 
dipasang oleh Dalpur.
Karena ini latihan, kesepakatan antara Satgas kedua negara akan kita langgar 
demi keselamatan pasukan. Toh ini bukan perang, pikir penulis saat itu. Kalau 
kondisi pertempuran sebenarnya, untuk menghindari jatuhnya korban pesawat 
tertembak senjata penangkis serangan udara, tanpa kompromi penerjunan tetap 
harus dilakukan dalam satu run.
Pada jam lima pagi hari, lima Hercules TNI AU “airborne” dari Lanud Medan 
menuju ke DZ di Johor, mengangkut pasukan Yon-328. Penerjunan disaksikan oleh 
Deputy Operasi Kasau di sasaran. Pada saat penerjunan pasukan, tiga Herky 
(Hercules) long body  terpaksa menerjunkan  dalam tiga run, dua Herky dalam dua 
run.
Setelah pasukan mendarat, Alhamdulillah, Satgasud mendapat laporan semua 
anggota yang diterjunkan selamat. Ternyata AU Malaysia juga tidak melakukan 
penerjunan  dalam satu “run” seperti rencana saat geladi, mereka melakukan 
dalam dua run.
Dikisahkan, pasukan Yon-328 dalam menuju sasaran rutenya berbeda dengan pasukan 
Ranger Malaysia. Pasukan kita diarahkan rute sulit melalui pegunungan, 
sementara Ranger medannya relatif rata. Yang tidak mereka ketahui ternyata di 
gunung itu banyak penduduk Indonesia asal Jawa, sehingga mereka justru menjadi 
pandu pasukan TNI. Akhirul cerita, pasukan TNI ternyata lebih cepat sampai di 
sasaran dan mampu menemukan dan melumpuhkan Tank yang ternyata juga dipendam. 
Itulah keampuhan fisik anggota Yon-328 dan kerjasama dengan penduduk.
Keberhasilan penerjunan dan penyerangan ternyata berbuntut panjang, seluruh 
pejabat Satgasud mendapat teguran Deputy Operasi, karena menerjunkan tidak 
sesuai dengan rencana semula. Kamipun menjelaskan, AU Malaysia juga menerjunkan 
tidak dengan satu run. Dapat dibayangkan apabila informasi terakhir dari Dalpur 
tidak masuk, keputusan yang diambil Komandan Satgasud salah, maka dua pertiga 
pasukan kita diperkirakan akan jatuh kedalam rawa bertombak tadi, entah berapa 
korban akan jatuh dari pasukan kebanggaan kita itu. Yang jelas dalam latposko, 
tentera Malaysia itu tidak jujur, menyembunyikan dan menyesatkan data yang 
sebenarnya. Alhamdulillah, Allah Swt masih melindungi Satgasud dan anggota 
Yon-328.
Nah, pelajaran apa yang didapat dari kisah diatas?. Kesimpulannya adalah, kita 
memang harus lebih berhati-hati apabila berhubungan dengan Malaysia. Dalam 
latihan bersama saja mereka menyesatkan data. Rupanya tetap saja ada rasa 
persaingan mereka, kecemburuan, kurang jujur dan selalu ada upaya memanfaatkan.
Kasus klaim budaya adalah contoh jelas agar kita harus lebih waspada, kasus 
Sipadan Ligitan adalah bukti bahwa kita dikalahkan mereka di forum 
internasional, kasus Ambalat yang mereka serempet-serempet membuat kita tidak 
suka, belum lagi kasus-kasus TKI yang diperlakukan semena-mena. Dan kita makin 
dibuat kesal karena dua tokoh teroris yang mengacak-acak kita juga berasal dari 
Malaysia. Di sinilah semestinya kita mengadakan introspeksi, apa mereka yang 
terlalu pintar atau kita yang tidak pandai?.
Malaysia selalu memandang Indonesia sebagai rival yang paling menakutkan baik 
dari segi politis, militer dan geografis, yang dianggap memelihara pasukan 
besar diperbatasan. Mereka melakukan hal yang lebih.
Dari empat Divisi Tentera Daratnya, yang masing-masing Divisi terdiri dari dua 
Brigade, dua dari empat divisi tersebut ditempatkan disekitar teluk Malaya, 
sementara Divisi ke-3 bertugas untuk mempertahankan wilayah Kalimantan Utara. 
Hanya Divisi ke-4 yang bertugas mempertahankan sekitar wilayah Brunei. Itu 
artinya Malaysia selalu bersiap dan memandang Indonesia sebagai ancaman.
Indonesia negara yang cinta damai, tidak memandang Malaysia sebagai ancaman, 
sebagai pengganggu mungkin ya. Oleh karena itu, dengan sudah turun 
gelanggangnya Bapak Presiden, kita semua wajib juga memikirkan dengan cermat 
tentang Malaysia ini, agar kita tidak kecolongan lagi. Kalau tidak mau diakali 
dan dibodohi Malaysia, ya kita harus lebih pintar dari mereka, berbuatlah, 
jangan hanya marah-marah saja. Begitu bukan?.PRAYITNO RAMELAN, adalah 
purnawirawan TNI yang menjadi Guest Blogger Kompasiana. Tulisan di Kompasiana 
bisa dilihat melalui link ini.

link: http://nasional. kompas.com/ read/xml/ 2009/08/27/ 12201651/ Pengalaman. 
Berlatih. Kostrad.Dan. Ranger.Malaysia

















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke