Posted by: "rifky pradana" [email protected] rifkyprdn Sun Sep 6, 2009 8:45 pm (PDT)
Lupakan sejenak tentang kecongkakan Malaysiayang akhir-akhir ini hangat dibicarakan di pelbagai forum. Di sini, di negara kita ini, di ibukota Jakarta, Anda mungkin tidak menyangka bahwa pelecehanterhadap harga diri bangsaterjadi terang-terangandan nyata-nyatadi depan mata. Di tengah-tengah keramaian lalu lalang para pekerja, di depan Kedubes Australia, Kuningan, Jakarta. Penulis yang bekerja disamping gedung kedubes yang angkuhini merasakannya sendiri. Sejak semula penulis sudah merasa kurang sreg dengan tindak tanduk penguasa sejengkal tanahdi Rasuna Said ini. Sejak kejadian Bom Kuningan 2004 lalu dan terlebih lagi setelah kejadian Bom Mega Kuningan baru-baru ini, petugas keamanan gedung angkuh ini semakin bertindak over acting. Mungkin kita semua paham, bahwa memang kedutaan besar setiap negara merupakan tanah negara tersebut yang ditempelkan di negara tuan rumah, dan masuk akal pula jika di dalam pagar kedutaan besartersebut berlaku hukum-hukum si negara tamu. Namun yang terjadi di depan Kedubes Australiamalah sebaliknya. Pertama, di depan gedung angkuh mereka, mereka memblokade trotoaryang berada di wilayah Republik Indonesia, sehingga merampas hak-hak pejalan kakiyang mayoritas adalah rakyat Indonesia. Kedua, di depan trotoar yang telah di blokade tersebut mereka (lewat petugas keamanan) menempatkan sebuah mobil patroli yang hampir selalu standby 24 jam, sehingga sangat mengganggu pejalan kakiyang sudah tersingkir akibat trotoar di blokade. Akibatnya sering terjadi para pejalan kaki hampir terserempet kendaraan ketika melintasi bagian depan trotoar di sisi mobil patroli yang parkir tersebut. Ini jelas-jelas membahayakan keselamatan jiwa Rakyat Indonesia. Ketiga(ini bagian yang paling saya tidak suka), setiap hari Jumat mulai pagi, para pejalan kakiyang sudah tersingkir dari trotoar dan potensial terkena kecelakaan lalu lintas, harus diperiksa seluruh barang bawaannya, ketika melewati depan trotoartadi. Mungkin dengan asumsi semua pejalan kakiadalah terorissehingga wajib membuktikan dirinya bukan teroris. Jumat kemarin saya mendapatkan perlakuan ini, namun saya menolak dengan tegassambil membentak petugas keamanan mereka."Anda petugas keamanan Kedubes Australia, wilayah kerja Anda di balik tembok sana, jangan atur-atur saya, saya berada di wilayah Republik Indonesia!". Salah satu dari mereka mencoba memegang bahu saya mencegah saya meronta. Kembali saya membentak, "Jangan berlebihan deh !". Setelah itu saya berlalu tanpa mengacuhkan teriakan-teriakan mereka. Mungkin ini kejadian ringan yang tidak penting, namun entah kenapa `nasionalisme´ saya terusik oleh kejadian tidak penting ini. Bagaimana tanggapan pembaca ??? Selamat berhari libur dan Salam Kompasiana ! Artikel ini dapat dibaca di : Congkaknya Kedubes Australia http://public. kompasiana. com/2009/ 09/05/congkaknya -kedubes- australia/ =================== Satrio Arismunandar Executive Producer News Division, Trans TV, Lantai 3 Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4034, Fax: 79184558, 79184627 http://satrioarismunandar6.blogspot.com http://satrioarismunandar.multiply.com Verba volant scripta manent... (yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi...) [Non-text portions of this message have been removed]

