Oknum petugas keamanan Kedubes memperlakukan bangsa kita seharusnya tidak 
demikian.
Kedutaan yang menjadi simbol perwakilan suatu negara seharusnya berkaca dengan
Istana Negara. Boleh difoto dari jalanan dan boleh berjalan di trotoar yang
telah disediakan. 
 
Pengalaman saya memasuki ruang dalam Kedutaan Besar
Australia dan  Amerika bahkan dirumah
dinas Kedubesnya memang tak senyaman apa yang kita bayangkan sebelumnya. Belum
lagi pada sesi pemeriksaan berlapis. Namun kita harus ingat bahwa mereka
memperlakukan itu karena telah menjadi korban teroris. 
 
Adanya oknum yang kurang menghormati bangsanya sendiri sudah
kita alami sejak zaman VOC dan Nippon. Untuk itu perlu kesadaran dari pihak
keamanan kedutaan  dengan memberikan
training Public Relations bagi pengamanan outdoors-nya. Saling menghargai dan
menghormati.
 
Salam Indonesia Jaya,
 
Ruslan Andy Chandra
Sekjen PPWI
www-pewarta-indonesia.com
*Mantan   1. Staff JVA/ACNS US Refugee Program – Galang Island,
Kepri, Indonesia
                 2. Staff Bah Bolon Project RMI/AIDAB
Indonesia-Australia
                 3.
Staf Ahli DPD RI.
 

Hp.081584021244
www.facebook.com/ruslanandychandra
[email protected]
 





________________________________
Dari: Satrio Arismunandar <[email protected]>
Kepada: news Trans TV <[email protected]>; kampus tiga 
<[email protected]>; [email protected]; HMI Kahmi Pro 
Network <[email protected]>; ppiindia 
<[email protected]>; nasional list <[email protected]>; Pers 
Indonesia <[email protected]>; sastra pembebasan 
<[email protected]>; Partai Hanura 
<[email protected]>; jurnalisme <[email protected]>; AJI 
INDONESIA <[email protected]>
Terkirim: Senin, 7 September, 2009 16:15:02
Judul: [PersIndonesia] Pelecehan nasionalisme di depan Kedubes Australia!

  
Posted by: "rifky pradana" rifkyp...@yahoo. com   rifkyprdn 
Sun Sep 6, 2009 8:45 pm (PDT) 


Lupakan sejenak tentang kecongkakan Malaysiayang akhir-akhir
ini hangat dibicarakan di pelbagai forum. 

Di sini, di negara kita ini, di ibukota
Jakarta, Anda mungkin tidak menyangka bahwa pelecehanterhadap harga diri 
bangsaterjadi terang-terangandan nyata-nyatadi depan mata. Di tengah-tengah 
keramaian lalu lalang
para pekerja, di depan Kedubes Australia,
Kuningan, Jakarta.

Penulis yang bekerja disamping gedung
kedubes yang angkuhini merasakannya
sendiri. 

Sejak semula penulis sudah merasa kurang
sreg dengan tindak tanduk penguasa sejengkal
tanahdi Rasuna Said ini. 

Sejak kejadian Bom Kuningan 2004 lalu dan
terlebih lagi setelah kejadian Bom Mega Kuningan baru-baru ini, petugas
keamanan gedung angkuh ini semakin bertindak over acting.

Mungkin kita semua paham, bahwa memang
kedutaan besar setiap negara merupakan tanah negara tersebut yang ditempelkan
di negara tuan rumah, dan masuk akal pula jika di dalam pagar kedutaan 
besartersebut berlaku hukum-hukum si
negara tamu.

Namun yang terjadi di depan Kedubes Australiamalah sebaliknya. 

Pertama, di depan gedung angkuh mereka, mereka memblokade trotoaryang berada di 
wilayah Republik Indonesia, sehingga merampas hak-hak pejalan kakiyang
mayoritas adalah rakyat Indonesia. 

Kedua, di depan trotoar yang telah di blokade tersebut
mereka (lewat petugas keamanan) menempatkan sebuah mobil patroli yang hampir
selalu standby 24 jam, sehingga sangat
mengganggu pejalan kakiyang sudah tersingkir akibat trotoar di blokade.
Akibatnya sering terjadi para pejalan
kaki hampir terserempet kendaraan ketika melintasi bagian depan trotoar di
sisi mobil patroli yang parkir tersebut. Ini jelas-jelas membahayakan 
keselamatan jiwa Rakyat Indonesia.

Ketiga(ini bagian
yang paling saya tidak suka), setiap hari Jumat mulai pagi, para pejalan 
kakiyang sudah tersingkir dari trotoar dan potensial
terkena kecelakaan lalu lintas, harus diperiksa
seluruh barang bawaannya, ketika melewati
depan trotoartadi.

Mungkin dengan asumsi semua pejalan kakiadalah terorissehingga wajib
membuktikan dirinya bukan teroris.

Jumat kemarin saya mendapatkan perlakuan
ini, namun saya menolak dengan tegassambil membentak petugas keamanan 
mereka."Anda
petugas keamanan Kedubes Australia, wilayah kerja Anda di balik tembok sana,
jangan atur-atur saya, saya berada di wilayah Republik Indonesia!".

Salah satu dari mereka mencoba memegang
bahu saya mencegah saya meronta. Kembali saya membentak, "Jangan berlebihan deh 
!". Setelah itu saya berlalu tanpa
mengacuhkan teriakan-teriakan mereka.

Mungkin ini kejadian ringan yang tidak
penting, namun entah kenapa `nasionalisme´
saya terusik oleh kejadian tidak penting ini. 

Bagaimana tanggapan pembaca ???

Selamat berhari libur dan Salam Kompasiana
! 

Artikel ini dapat dibaca di :
Congkaknya Kedubes Australia
http://public. kompasiana. com/2009/ 09/05/congkaknya -kedubes- australia/


 
 
 
 
 
 
 
 

============ =======

Satrio Arismunandar 
Executive Producer
News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4034,  Fax: 79184558, 79184627
 
http://satrioarismu nandar6.blogspot .com
http://satrioarismu nandar.multiply. com  
 
Verba volant scripta manent...
(yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi...)
  

   


      Bersenang-senang di Yahoo! Messenger dengan semua teman. Tambahkan mereka 
dari email atau jaringan sosial Anda sekarang! 
http://id.messenger.yahoo.com/invite/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke