--- On Sat, 9/5/09, Nico Andrianto <[email protected]> wrote:
Beginilah akibatnya kalau terlalu bersemangat mendiskreditkan orang tanpa
pengecekan data secara akurat.
Terbongkarnya Kebohongan Sutradara Film Inggris
Ayman Abu Aita, lelaki Palestina membuktikan ucapannya untuk menuntut
sutradara asal Inggris, Sacha Baron Cohen karena telah mengindikannya sebagai
"teroris" dalam film berjudul "Bruno". Gugatan itu sudah
diajukannya ke pengadilan hari Senin kemarin.
Dalam gugatannya, Abu Aita menuntut agar sosok dirinya yang muncul dalam
film itu dihapus karena penggambaran yang dilakukan Cohen menimbulkan kesan
bahwa seluruh rakyat Palestina adalah teroris. Ia juga menggugat agar film
tersebut disensor dan menuntut kompensasi atas Cohen dianggap telah mencemarkan
nama baik rakyat Palestina.
Abu Aita yang tinggal di Beit Shaour, Bethlehem Timur juga mengatakan bahwa
ia telah ditipu oleh Cohen. Saat bertemu Abu Aita, Cohen mengaku sebagai
seorang wartawan yang sedang membuat film dokumenter.
"Saya bertemu dengan Cohen di Hotel Everest, Beit Jala. Saya bertanya
pada kru tentang film yang akan dibuat dan mereka menjawab film itu dibuat
untuk menyampaikan persoalan-persoalan Palestina pada anak-anak muda di seluruh
dunia. Saya percaya dan Cohen mewawancarai saya selama dua setengah jam,"
tutur Abu Aita.
Menurutnya, Cohen menanyakan hal-hal yang "normal" dan Abu Aita
tidak melihat indikasi bahwa Cohen akan menipunya. Tapi di akhir wawancara, Abu
Aita terkejut karena Cohen meminta agar diculik. Abu Aita menegaskan bahwa
rakyat Palestina adalah orang-orang yang beradab dan bukan teroris.
Bukan cuma itu, Cohen meminta Abu Aita dan koleganya untuk mencukur janggut
mereka dan mengatakan," raja Anda Usamah (Usamah bin Ladin) mirip raja-raja
jahat atau Santa si tuna wisma".
Bukan cuma itu, Cohen ternyata menggunakan wawancara dengan Abu Aita untuk
film komersilnya berjudul "Bruno" yang akhirnya menjadi film yang
cukup laku di pasaran. Tapi dalam film itu, Cohen menyebut Abu Aita sebagai
pimpinan Brigade Martir Al-Aqsa-sayap militer Fatah dan mengaku bahwa ia butuh
waktu tiga tahun berkordinasi dengan CIA untuk bertemu dengan Abu Aita yang
disebutnya "teroris".
Manipulasi itulah yang mendorong Abu Aita menggugat Cohen secara hukum.
Apalagi dalam film tersebut Cohen juga menyebutkan bahwa Abu Aita membawa
senjata dan dijaga oleh orang bersenjata saat mereka bertemu di sebuah tempat
terpencil.
"Kalau saya bersenjata, akan terlihat jelas dalam wawancara. Saya hanya
bersama dua orang laki-laki ketika itu, satu orang Amerika dan seorang
wartawan. Kami juga bertemu di hotel terkenal bukan di tempat terpencil,"
bantah Abu Aita.
Satu hal yang akan membuktikan bahwa Cohen telah melakukan manipulasi, kata
Abu Aita, Cohen lupa satu fakta penting bahwa Abu Aita seorang Kristiani.
Cohen, tambah Abu Aita, melakukan kesalahan fatal dengan menyebutnya sebagai
seorang islamis "teroris" yang mendukung Al-Qaida.
"Dia tidak tahu kalau saya seorang Kristen," kata Aita membongkar
kebohongan Cohen.
Abu Aita yang kini aktif di politik pernah meringkuk di penjara Israel
selama sembilan tahun karena dituduh sebagai simpatisan Fatah. Seperti
kebanyakan warga Palestina lainnya, rumah Abu Aita juga menjadi korban
penggusuran Israel pada era tahun 1980-an. (ln/aby)
Dari: Eramuslim.com
[Non-text portions of this message have been removed]