Maaf karena ada nama saya di blog dan berita. Dan imel Rifky telah saya jawab pula di milis tempat posting.. Maaf kalau komen saya kalau kurang pas di topik milis ini, tapi ini dari sisi saya:
Di blog Kompasiana sudah ada tanggapan saya, klik http://public.kompasiana.com/2009/09/08/upaya-jinakkan-gelombang-protes-kasus-century/#comment-8323 Jam 23 semalam di ANTV, artinya setelah acara 'heboh' ini, saya, mas Tony dan Mas Drajad.. Tidak ada yang berubah kan? Saya tetap bilang tegakkan hukum! Salam, -Yanuar Rizky- (mail to: [email protected]) transmitted by tukang pos®[on the net: www.elrizky.net] -----Original Message----- From: Satrio Arismunandar <[email protected]> Date: Tue, 8 Sep 2009 00:09:07 To: ppiindia<[email protected]>; news Trans TV<[email protected]>; kampus tiga<[email protected]>; technomedia<[email protected]>; <[email protected]>; HMI Kahmi Pro Network<[email protected]>; sastra pembebasan<[email protected]>; jurnalisme<[email protected]>; AJI INDONESIA<[email protected]> Subject: [technomedia] Upaya jinakkan gelombang protes bailout Century... Posted by: "rifky pradana" [email protected] rifkyprdn Mon Sep 7, 2009 6:45 pm (PDT) BI (Bank Indonesia) rupanya mulai gerah dengan gelindingan bola salju polemik yang menyeruak pasca terungkapnya kasus bailout bank Century, yang dana tombokannya sampai menggelembung sebesar Rp. 6,7 Trilyun. Senin, 7 September 2009, menurut kabar, pihak BI mengumpulkan para analis dan pengamat politik. Pertemuan di hotel Nikko itu, tampak hadir antara lain, Iman Sugema, Yanuar Rizki, Toni Prasentiantono, Prajoto, Fauzi Ichsan, Deputi Gubernur BI. "Saya dipanggil terkait masalah sistemik Bank Century, jadi BI menuturkan bailout Century memang harus dilakukan karena jika tidak berdampak sistemik, tapi saya tidak sependapat", kata Iman Sugema. Menurut kabar, para analis dan pengamat yang diundang itu diminta bergabung di forum group discussion melakukan sharing session terkait bailout Century. Ini sesuatu ide yang baik, asalkan ide ini tidak dimanfaatkan untuk menjinakkan para analis garis keras dalam soal kritik dan beda pendapat soal penanganan bank Century. Apalagi tentu tak elok jika dimaksudkan untuk mensetting opini di ranah publiknya, giliran selanjutnya opini akan cukup kondusif untuk mempeti-eskan kausus ini. Seperti diketahui bersama, kasus bailout bank Century ini ditengarai banyak pihak, mengandung kejanggalan- kejanggalan dan keanehan dalam alasan yang mendasari pengambilan keputusan bailoutnya. Pasca pertemuan ini, polemik bailout bank Century akankah menjadi reda karenanya ?. Wallahualambishshaw ab. * Referensi Sumber Berita dan Artikel Terkait : * `BI Kumpulkan Analis Garis Keras, Yakinkan Soal Bailout Century´, klik disini * `Pemerintah dan BI Tidak Transparan Dalam Bailout Century´, klik disini * `3 Mantan Petinggi Century Bawa Kabur Rp.11,7 Trilyun´, klik disini * `BI Mengaku Tak Sadar Bail Out Bank Century Membengkak´, klik disini * `Bank Century, Seberapa Sistemis ?´, klik disini * `Apakah Benar Bank Century Merupakan Bank Gagal yang Berpotensi Sistemik ?´, klik disini * `LPS : Lembaga Pem-Bailout atau Penjamin Simpanan Nasabah Bank ?´, klik disini * `Dana Publik LPS Untuk Selamatkan Pengusaha Besar ?´, klik disini * `Deposan Besar Untung; Negara Buntung´, klik disini * `Menkeu Belum Mau Bayar Dana Nasabah Bank Global´, klik disini * `Talangan Bank Century Tidak Adil´, klik disini * `Dana di LPS : Uang Publik atau Privat ?´, klik disini * `Century Seharusnya Ditutup sejak 2004´, klik disini * `Suntikan Dana Century Tindak Pidana Hukum dan Politik ?´, klik disini * `Skenario Politik Dibalik Kasus Century´, klik disini * `Apakah BI Penyebab Terjadinya Masalah Bank Century ?´, klik disini * `Penanggungjawab Kasus Bank Century Boediono, Mana Suaramu Cak Boed ?´, klik disini * `SBY Terlibat Century ?´, klik disini * `Risiko Sistemik di Kabinet SBY´, klik disini * `Kasus Bank Century dan Kesalahan Masa Lalu´, klik disini * `Century Tragedi Nasional´, klik disini * Artikel ini dapat dibaca di : `Upaya Jinakkan Gelombang Protes Kasus Century ?´ http://public. kompasiana. com/2009/ 09/08/upaya- jinakkan- gelombang- protes-kasus- century/ http://politikana. com/baca/ 2009/09/08/ upaya-menjinakka n-gelombang- protes-bank- century.html * Kasus bailout bank Century yang berbuntut kasus ini menimbulkan banyak pertanyaan di masyarakat. Diantaranya adalah soal seberapa besar resiko sistemis dari bank Century ?. Mengapa dari Rp. 1,3 Trilyun bisa membengkak menjadi Rp. 6,7 Trilyun ?. Mengapa harus diBailout ?. Apakah jika tidak dibailout maka nasabah bank Century akan kehilangan uangnya ?. Mengapa BI (Bank Indonesia) sebagai pemberi rekomendasi bailout kok malahan terkesan diam saja ?. Mengapa saat memberikan rekomendasi itu pimpinan BI tidak menyampaikan adanya fraud di bank Century ?. Apakah itu berarti pimpinan BI sengaja akan mengumpankan Menkeu sebagai tumbal dari kasus ini ?. Dan, masih banyak lagi pertanyaan-pertanya an lainnya yang menyelimuti kasus ini. Berikut ini adalah copy paste dari sebuah artikel berjudul `Risiko Sistemis Bank Century´ yang membahas perihal bagaimana sebenarnya indikator-indikator teknis yang menjadi alasan untuk memperlakukan Bank Century sebagai bank yang memiliki risiko sistemis sehingga perlu diselamatkan itu. Jika indikator teknisnya tak mendukung alasan penyelamatan bank Century ini, maka penyelamatan ini jelas bukan karena bank Century adalah too big to fail tapi karena too important to fail. Untuk kepentingan siapa bank ini diselamatkan ?, untuk kepentingan rakyat ?. Untuk itu maka diucapkan selamat membaca !. * Alasan utama pemerintah meminta LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) untuk menyelamatkan Bank Century adalah bank tersebut memilikirisiko sistemis. Artinya, kalau saja tidak diselamatkan, justru akan memicu kegagalan di bank-bank lainnya secara serial. Yang hendak dikatakan oleh pemerintah adalah bahwa penyuntikan dana senilai Rp 6,7 triliun ke Century, tidak melulu ditujukan untukmenyehatkan kembali bank tersebut, tetapi juga terutama untuk menghindari bencana finansial yang lebih besar. Benarkah ?. Menteri Keuangan dalam beberapa kesempatan mengungkapkan bahwa bahaya risiko sistemis timbul karena bank tersebut memiliki jumlah nasabah yang lumayan banyak, yakni sekitar 65 ribu orang. Selain itu, ada sekitar 23 bank yang berpotensi terseret krisis kalau Bank Century dilikuidasi. Sistem pembayaran juga bisa terancam macet. Supaya bisa objektif dalam menilai apakah alasan Menteri Keuangan tersebut secara logika dapat diterima, mari kita lihat data dan faktasebenarnya. Sebelum ditalangi oleh LPS, data keuangan yang tersedia adalah laporan keuangan bulan Oktober 2008. Pastinya, laporan ini yang menjadi dasar pengambilan keputusan dalam rapat KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan). Pada waktu itu, total aset bank tersebut adalah sekitar Rp. 15 triliun, tak lebih dari 0,75 persen dari total aset perbankan. Jumlah nasabah yang 65 ribu orang itu hanya sekitar 0,1 persen dari total nasabah perbankan. Begitupun total dana pihak ketiga yang terkumpul sekitar Rp. 10 triliun atau tak sampai satu persen dari total simpanan masyarakat yang tertampung di semua bank. Dari data di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa Bank Century merupakan bank yang relatif kecil. Dan, kalangan akademisi di negara mana pun tak akan menilai bahwa bank tersebut dapat menimbulkan risiko sistemis. Biasanya, hanya bank-bank yang masuk kategori 10 besar yang dianggap too big to fail. Lagi pula, penjaminan simpanan telah mencakup nilai maksimum sebesar Rp. 2 miliar sehingga praktis mayoritas nasabah sebenarnya sudahterlindungi oleh LPS. Memang Bank Century memiliki kerentanan terhadap paniknya nasabah besar yang tidak dijamin oleh LPS. Bahkan, ada satu nasabah yang simpanannya berada di atas Rp. 2 triliun. Bila nasabah seperti ini panik, bank langsung mengalami kesulitan likuiditas. Pemerintah pada saat itu sangat mengkhawatirkan kesulitan yang sama akan merembet ke bank-bank, yang satu kelas dengan Bank Century dan jumlahnya ada sekitar 18 bank. Kekhawatiran seperti itu bisa jadi benar, tapi juga bisa salah. Persoalannya adalah pemerintah mengasumsikan bahwa karakteristik nasabah Century dengan bank lainnya adalah sama. Nasabah kakap yang terjerat di Century pada umumnya memiliki hubungan personal dengan manajemen dan pemilik tersebut. Di bank lain, belum tentu seperti itu. Lagipula, masalah yang menyebabkan Century dinyatakan sebagai bank gagal adalah murni tindak kriminal penipuan perbankan. Kalau karakteristik masalah yang dihadapi Century dengan bank lainnya berbeda, gagalnya Century tidak serta-merta menimbulkan kepanikan bank lainnya. Bank Century juga pada saat itu tidak menimbulkan risiko kebangkrutan serial karena kewajiban antar banknya hanya sekitar Rp. 750 miliar. Artinya, bank ini tidak memiliki potensi untuk menimbulkan kolapsnya sistem pembayaran. Lagipula, bank ini memiliki jumlah cabang yang relatif tidak masif, seperti bank-bank besar sekelas Mandiri atau BRI. Efeknya terhadap kelancaran transaksi masyarakat relatif minimum. Dari indikator-indikator teknis di atas, hampir tak ada alasan untuk memperlakukan Bank Century sebagai bank yang memiliki risiko sistemissehingga perlu diselamatkan. Alasan penyelamatan bank ini jelas bukan karena too big to fail. Mungkin alasan sebenarnya adalah too important to fail. Dengan kata lain, bank ini bagi sebagian pihak terlalu penting untuk dibiarkan kolaps. Pertanyaannya untuk kepentingan siapa bank ini diselamatkan ?. Yang jelas bukan untuk kepentingan rakyat. Mungkin untuk kepentingan para deposan kakap yang uangnya tertanam sampai triliunan rupiah. Mereka merupakan kelompok kecil yang bisa dihitung dengan jari, tapi memiliki koneksi yang kuat terhadap kekuatan politik. Kalau sinyalemen seperti di atas benar, keputusan yang melatarbelakangi penyelamatan bank tersebut tidak sepenuhnya didasarkan padapertimbangan profesional. Kepentingan pemodal besar yang justru dilindungi oleh KSSK. Kalau begini caranya, kapan negara kita berubah ?. * Catatan Kaki : Artikel berjudul `Risiko Sistemis Bank Century´ yang ditulis oleh Iman Sugema dapat dibaca langsung pada sumbernya dengan mengklik disini * Tulisan ini dapat dibaca di Politikana dengan mengklik disini atau di Kompasiana dengan mengklik disini [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [email protected] 5. No-email/web only: [email protected] 6. kembali menerima email: [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

