Politisi Tak Terganggu Dilema MoralDiterbitkan : 9 September 2009 - 3:03pm | Oleh Klaas den Tek
http://www.rnw. nl/id/bahasa- indonesia/ article/politisi -tak-terganggu- dilema-moral Mantan perdana menteri Dries van Agt minggu ini datang dengan membawa sebuah buku tentang perubahan pandangannya mengenai masalah Palestina. Dries van Agt menyesal, sebagai perdana menteri dia tidak begitu memperhatikan penderitaaan Palestina. Politisi yang mengutarakan penyesalannya jarang terjadi di Belanda. Mantan perdana menteri Schermerhorn menyesalkan aksi politik di Indonesia. Mantan menteri pertanian Sicco Mansholt menyesalkan dukungannya untuk pertanian intensif dan pembesaran skala. Mantan perdana menteri Kok mengundurkan diri dari kabinetnya karena peran Belanda dalam penyerangan kelompok muslim di Screbrenika. Dilema moral Tokoh berpengaruh yang menyesali perbuatan atau keputusannya adalah hal yang luar biasa di Belanda. Menurut Johan van Merrienboer, dari Pusat Sejarah Parlementer di Nijmegen, itu disebabkan oleh sistem negara di Belanda. "Perdana menteri dan menteri-menteri merupakan bagian dari kementrian. Di sanalah wadah untuk mendiskusikan keputusan yang diambil. Semua harus mempertahankan keputusannya. Seorang perdana menteri tidak boleh menuruti kemauannya sendiri, seperti yang terjadi di Jerman dan Inggris. Jadi tidak ada tempat bagi dilema moral." Demikian Johan van Merrienboer Kesalahan Seorang menteri yang menyesali keputusannya sendiri bisa mendapat kritik hebat. Mantan menteri Ben Bot mendapat teguran di kabinet saat dia menyebut dukungan Belanda untuk melakukan serangan terhadap Irak sebagai sebuah kesalahan. Menurut Bot politisi murni seharusnya berani mengakui kesalahannya. Ben Bot: "Penting bagi politisi untuk melihat kenyataan yang ada dan jika perlu meminta maaf. Kalau tidak, rakyat akan berpikir bahwa politik hanyalah main-main saja. Dan itu tidak baik bagi politik." Ketidakpercayaan Jarang seorang politisi berubah 180 derajat. Menurut Van Merrienboer, ini juga tidak bijak, karena ini akan menimbulkan rasa ketidakpercayaan. Dia kadang harus memegang kokoh pandangannya sendiri. Seorang perdana menteri yang terlalu sering meminta maaf akan menimbulkan ketidakpercayaan. Beberapa politisi Belanda menggunakan akhir masa jabatannya dalam politik untuk melakukan perbaikan. Tapi mantan menteri yang akhirnya mengakui kesalahannya sering tidak dianggap serius. Ini dianggap publik sebagai sesuatu yang sudah kadaluwarsa. Menurut Ben Bot seringkali hal ini tidak bisa dihindari: Ben Bot: "Membentuk keputusan adalah satu hal yang kompleks. Ini melibatkan banyak sekali komunikasi. Kadang setelah berlalu, baru bisa diketahui apakah keputusan yang diambil itu baik. Ini diikuti oleh rasa sesal selalu datang terlambat, ibarat gatal kini, esok digaruk. Tapi saya pikir, saat itu keputusan yang sudah diambil, sangat sulit untuk diubah lagi." Penyesalan yang diakui di depan umum, seperti yang sering dilakukan di negara-negara Asia, tidak begitu sering terjadi di Belanda. Tidak ada perdana menteri Belanda yang berlinangan air mata di depan televisi. Dalam hal ini Belanda terkesan terlalu kalvinistis. [Non-text portions of this message have been removed]

