Extra-Judicial Killing dan Media sebagai Cheerleaders 
Posted by: "Farid Gaban" [email protected]   faridgaban 
Fri Sep 18, 2009 11:09 pm (PDT) 
(Dikutip dari milis jurnalisme)

Noordin Top tewas dalam penggerebegan. Benarkah penggerebegan itu dimaksudkan 
polisi untuk menangkap tersangka teroris, bukannya sengaja membunuh? Bukan 
sebuah acara main hakim sendiri, extra-judicial killing?

Para wartawan diharapkan bisa membuat investigasi tentang hal ini mengingat 
extra-judicial killing merupakan soal yang serius, yang bisa menimbulkan dampak 
sangat negatif di masyarakat.

Tapi, bisakah kita berharap pada wartawan yang sudah berkali-kali mengabaikan 
isu extra-judicial killing melakukan investigasi soal ini?

Boro-boro investigasi, bertanya atau mempertanyakan di konferensi pers pun 
tidak, seolah-olah ini bukan persoalan serius.

Penggerebegan tersangka teroris sebelum ini, yakni di Temanggung tempo hari, 
jelas sekali merupakan extra-judicial killing, pembantaian di luar hukum yang 
dipertontonkan luas kepada publik berkat perselingkuhan polisi dengan media.

Namun, meski Komnas HAM waktu itu sempat mengajukan protes, tidak satupun media 
(termasuk yang paling getol seperti TV One dan Metro TV) menyuarakan betapa 
bahaya praktek extra-judicial killing.

"Pemerintah mengajar seluruh rakyatnya dengan contoh," kata Louis Brandeis 
(1856-1941), hakim agung legendaris Amerika. "Jika pemerintah dan aparatnya 
menjadi pelanggar hukum, itu akan menumbuhkan pembangkangkan pada hukum; akan 
mengundang setiap warga untuk menjadikan dirinya hukum; akan mengundang anarki."

Menurut saya, ironis jika media/wartawan justru menjadi cheerleaders 
pelanggaran aparat (dalam hal ini polisi) atas hak asasi dan hukum.

Yang lebih ironis lagi, itu sudah berkali-kali terjadi dalam beberapa tahun 
terakhir. 

Salah satu yang paling mencolok adalah penggerebegan teroris di Wonosobo pada 
2006. Saya melakukan investigasi sendiri di lapangan, dan menyimpulkan ini 
extra-judicial killing polisi yang diberi pembenaran oleh Stasiun Televisi 
Anteve dan Karni Ilyas.

(Uni Lubis tentu masih inget perdebatannya dengan saya di Milis Pantau 
Komunitas tentang hal itu).

Mengapa media diam, tidak peka lagi dengan hal seperti ini? Tidakkah media 
akhirnya terlibat hanya akan menjadi api pembakar anarki di masyarakat, anarki 
yang sebagian sudah kita rasakan sekarang di jalanan?

Ironi berlapis-lapis, media tidak hanya diam melainkan menjadi cheerleaders 
polisi (lihatlah tepuk tangan di konferensi pers itu), dan lihat pula cara 
wartawan menulis dan menyajikan beritanya: "perburuan teroris", "gembong 
teroris", "the most wanted criminal terrorist".. .. 

Para wartawan sudah memutuskan siapa bersalah tanpa pernah ada pengadilan.

Chaos. Lawless. Anarchy.

Farid Gaban


 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke