Komentar:

"Pecel Noordin M Top" dan "Lotis Teroris" dari mBah Darso Pupon menjadi parodi 
perpolitikan pemerintahan SBY dan sang inisiator dagang dadakan mBah Darso 
Pupon adalah pahlawan Rakyat yang tidak takut mendapat label "simpatisan 
teroris dan Noordin M Top" dari kepolisin negara. Hebat mBah Darso Pupon berani 
menyuarakan isi hati Bangsa Indonesia.yang terpendam jauh di dalam......


  ----- Original Message ----- 
  From: Satrio Arismunandar 
  To: [email protected] ; news Trans TV ; kampus tiga ; jurnalisme ; 
technomedia ; HMI Kahmi Pro Network ; ppiindia ; ex menwa UI 2 
  Sent: Thursday, September 24, 2009 16:33 PM
  Subject: [ppiindia] "Pecel Noordin M Top" dan "Lotis Teroris"...


    
   

  "Pecel Noordin M Top" dan "Lotis Teroris"... 

  di Kepuhsari

  KOMPAS/SONYA HELEN SINOMBOR
  Banyaknya pengunjung yang mendatangi lokasi tempat tewasnya teroris Noordin M 
Top di Kampung Kepuhsari, Kelurahan Mojosongo, Jebres, Solo, Jawa Tengah, 
Selasa (22/9), mendorong warga membuka warung dadakan. Hal itu dilakukan Mbah 
Darso yang menjual gendar pecel dan lotis yang diberi nama sesuai dengan nama 
teroris tersebut.

  /

  Artikel Terkait: 

  Masakan "Ndeso" Mantan Preman 
  Buka Puasa Kolak Ayam di Gresik 
  Buka di Hotel, Kenapa Tidak? 
  Kepiting Montok Pak Kardi 
  "Ulu Juku", Racikan Ikan Para Calon Guru

  Kamis, 24 September 2009 | 08:13 WIB

  KOMPAS.com — Makan gendar pecel di Solo itu biasa, tetapi makan gendar pecel 
Noordin M Top itu yang ruar biasa. Makanan khas Jawa ini bukan buatan buron 
teroris asal Malaysia Noordin M Top, melainkan buatan Mbah Darso Pupon (66), 
warga Kampung Kepuhsari RT 03 RW 011 Kelurahan Mojosongo, Jebres, Solo, Jateng.

  Makanan ini sejak Senin (21/9) dijual Mbah Darso di teras rumahnya, yang 
persis berhadapan dengan rumah kontrakan pasangan Susilo-Putri Munawaroh, 
tempat tewasnya Noordin dan anggota jaringan terorisnya, yaitu Bagus Budi 
Pranoto alias Urwah, Ario Sudarso alias Aji, dan Susilo.

  Melihat ribuan orang yang tiap hari mendatangi tempat tewasnya Noordin, Mbah 
Darso dan anaknya, Suparmi, pun mencoba membuka warung dadakan. Agar menarik 
perhatian, Mbah Darmo memasang tulisan di kertas karton ”Sedia Gendar Pecel 
Noordin M Top” dan ”Lotis Teroris” di depan meja jualan.

  Cara ini ternyata jitu. Setiap orang yang berdiri di depan rumah Mbah Darmo 
otomatis melihat tempelan kertas tersebut dan tertarik mencicipi makanan yang 
dijual. Selain gendar pecel dan lotis seharga Rp 2.000 per porsi, Mbah Darmo 
juga menyediakan bakwan dan gorengan lainnya yang dijual seharga Rp 1.000 per 
potong, es teh manis dan kopi Rp 2.000 per gelas, dan mi instan plus telur Rp 
5.000 per porsi. ”Lumayan bisa dapat rezeki tambahan,” ujar Suparmi.

  Lucunya, tak hanya membeli makanan Mbah Darmo, tulisan gendar pecel Noordin M 
Top dan lotis teroris malah menjadi sasaran foto. ”Buat bukti kepada 
teman-teman di Jakarta kalau aku datang ke tempat Noordin M Top ditembak,” ujar 
Joko (16), warga Kebayoran Lama, yang mudik bareng orangtuanya di Solo.

  Berita tewasnya buron teroris asal Malaysia, Noordin M Top, ternyata 
mengundang perhatian besar di kalangan masyarakat. Kendati telah disiarkan 
berulang kali di televisi dan radio, diberitakan di koran dan media online, 
sejumlah masyarakat merasa tidak puas jika belum mendatangi dan menyaksikan 
langsung tempat Noordin tewas.

  Sejak Kamis (17/9) hingga Selasa (22/9), ribuan orang berbondong-bondong 
mendatangi lokasi tewasnya Noordin M Top dan gerombolannya. Sejak pagi hingga 
petang, rumah kontrakan Susilo tempat persembunyian terakhir Noordin M Top, 
Bagus Budi Pranoto alias Urwah, dan Ario Sudarso alias Aji jadi tontonan. Warga 
pun memasang papan petunjuk menuju lokasi.

  Rumah yang diserbu tim polisi antiteror Mabes Polri pada Rabu (16/9) hingga 
Kamis (17/9) pagi sebagian ditutup seng. Yang terlihat hanyalah bagian atap 
rumah yang hancur terbakar, bagian belakang, dan sebagian samping rumah yang 
tidak ditutupi seng. Garis polisi masih mengelilingi kawasan rumah itu dan 
puluhan polisi masih berjaga.

  Ribuan orang silih berganti menonton rumah itu. Paling dekat melihat dari 
depan rumah Mbah Darmo. Yang datang menonton tak hanya warga Solo, tetapi juga 
warga luar Kota Solo, bahkan pemudik dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

  Walau jalanan macet, keluarga Suhadi dari Yogyakarta rela datang ke 
Kepuhsari. ”Saya pikir bisa lihat rumah hancur ditembaki. Ternyata cuma nonton 
Noordin seng. Lah, rumahnya ditutupi seng semua, kita enggak bisa lihat 
apa-apa. Malah melihat kandang sapi. Aduh capek deh,” ujar Nyonya Suhadi.

  Lain lagi kesan pasangan Heri Joko (45) dan Sri Purwaning (44), warga Pondok 
Indah, Jakarta, yang mudik ke Sragen. Walau hanya melihat rumah tertutup seng 
bersama dua anaknya, mereka puas karena bisa datang langsung ke tempat tewasnya 
Noordin. Mereka bahkan foto-foto buat bukti telah mendatangi Kepuhsari. 
Banyaknya pengunjung dimanfaatkan pemuda untuk menarik ongkos parkir.

  Ketua RT 03 Suratmin mengaku dana itu sebagian untuk kegiatan kampung dan 
karang taruna. ”Kampung kami mendadak jadi terkenal,” kata Suratmin. (Son)

  [Non-text portions of this message have been removed]



  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke