"Pecel Noordin M Top" dan "Lotis Teroris"...
di Kepuhsari
KOMPAS/SONYA HELEN SINOMBOR
Banyaknya pengunjung yang mendatangi lokasi tempat tewasnya teroris Noordin M
Top di Kampung Kepuhsari, Kelurahan Mojosongo, Jebres, Solo, Jawa Tengah,
Selasa (22/9), mendorong warga membuka warung dadakan. Hal itu dilakukan Mbah
Darso yang menjual gendar pecel dan lotis yang diberi nama sesuai dengan nama
teroris tersebut.
/
Artikel Terkait:
Masakan "Ndeso" Mantan Preman
Buka Puasa Kolak Ayam di Gresik
Buka di Hotel, Kenapa Tidak?
Kepiting Montok Pak Kardi
"Ulu Juku", Racikan Ikan Para Calon Guru
Kamis, 24 September 2009 | 08:13 WIB
KOMPAS.com — Makan gendar pecel di Solo itu biasa, tetapi makan gendar pecel
Noordin M Top itu yang ruar biasa. Makanan khas Jawa ini bukan buatan buron
teroris asal Malaysia Noordin M Top, melainkan buatan Mbah Darso Pupon (66),
warga Kampung Kepuhsari RT 03 RW 011 Kelurahan Mojosongo, Jebres, Solo, Jateng.
Makanan ini sejak Senin (21/9) dijual Mbah Darso di teras rumahnya, yang persis
berhadapan dengan rumah kontrakan pasangan Susilo-Putri Munawaroh, tempat
tewasnya Noordin dan anggota jaringan terorisnya, yaitu Bagus Budi Pranoto
alias Urwah, Ario Sudarso alias Aji, dan Susilo.
Melihat ribuan orang yang tiap hari mendatangi tempat tewasnya Noordin, Mbah
Darso dan anaknya, Suparmi, pun mencoba membuka warung dadakan. Agar menarik
perhatian, Mbah Darmo memasang tulisan di kertas karton ”Sedia Gendar Pecel
Noordin M Top” dan ”Lotis Teroris” di depan meja jualan.
Cara ini ternyata jitu. Setiap orang yang berdiri di depan rumah Mbah Darmo
otomatis melihat tempelan kertas tersebut dan tertarik mencicipi makanan yang
dijual. Selain gendar pecel dan lotis seharga Rp 2.000 per porsi, Mbah Darmo
juga menyediakan bakwan dan gorengan lainnya yang dijual seharga Rp 1.000 per
potong, es teh manis dan kopi Rp 2.000 per gelas, dan mi instan plus telur Rp
5.000 per porsi. ”Lumayan bisa dapat rezeki tambahan,” ujar Suparmi.
Lucunya, tak hanya membeli makanan Mbah Darmo, tulisan gendar pecel Noordin M
Top dan lotis teroris malah menjadi sasaran foto. ”Buat bukti kepada
teman-teman di Jakarta kalau aku datang ke tempat Noordin M Top ditembak,” ujar
Joko (16), warga Kebayoran Lama, yang mudik bareng orangtuanya di Solo.
Berita tewasnya buron teroris asal Malaysia, Noordin M Top, ternyata mengundang
perhatian besar di kalangan masyarakat. Kendati telah disiarkan berulang kali
di televisi dan radio, diberitakan di koran dan media online, sejumlah
masyarakat merasa tidak puas jika belum mendatangi dan menyaksikan langsung
tempat Noordin tewas.
Sejak Kamis (17/9) hingga Selasa (22/9), ribuan orang berbondong-bondong
mendatangi lokasi tewasnya Noordin M Top dan gerombolannya. Sejak pagi hingga
petang, rumah kontrakan Susilo tempat persembunyian terakhir Noordin M Top,
Bagus Budi Pranoto alias Urwah, dan Ario Sudarso alias Aji jadi tontonan. Warga
pun memasang papan petunjuk menuju lokasi.
Rumah yang diserbu tim polisi antiteror Mabes Polri pada Rabu (16/9) hingga
Kamis (17/9) pagi sebagian ditutup seng. Yang terlihat hanyalah bagian atap
rumah yang hancur terbakar, bagian belakang, dan sebagian samping rumah yang
tidak ditutupi seng. Garis polisi masih mengelilingi kawasan rumah itu dan
puluhan polisi masih berjaga.
Ribuan orang silih berganti menonton rumah itu. Paling dekat melihat dari depan
rumah Mbah Darmo. Yang datang menonton tak hanya warga Solo, tetapi juga warga
luar Kota Solo, bahkan pemudik dari Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Walau jalanan macet, keluarga Suhadi dari Yogyakarta rela datang ke Kepuhsari.
”Saya pikir bisa lihat rumah hancur ditembaki. Ternyata cuma nonton Noordin
seng. Lah, rumahnya ditutupi seng semua, kita enggak bisa lihat apa-apa. Malah
melihat kandang sapi. Aduh capek deh,” ujar Nyonya Suhadi.
Lain lagi kesan pasangan Heri Joko (45) dan Sri Purwaning (44), warga Pondok
Indah, Jakarta, yang mudik ke Sragen. Walau hanya melihat rumah tertutup seng
bersama dua anaknya, mereka puas karena bisa datang langsung ke tempat tewasnya
Noordin. Mereka bahkan foto-foto buat bukti telah mendatangi Kepuhsari.
Banyaknya pengunjung dimanfaatkan pemuda untuk menarik ongkos parkir.
Ketua RT 03 Suratmin mengaku dana itu sebagian untuk kegiatan kampung dan
karang taruna. ”Kampung kami mendadak jadi terkenal,” kata Suratmin. (Son)
[Non-text portions of this message have been removed]