(dikutip dari milis tetangga)
 
From: Amich Alhumami <almezzanine@ yahoo.com>
Date: Sunday, September 27, 2009, 5:14 PM

  

Kawans,
 
Membaca rangkaian berita kasus sangkaan penyuapan bernilai miliaran rupiah 
kepada dua pimpinan KPK (non-aktif) dalam beberapa hari terakhir, betul-betul 
membuat kening berkerut. Yang lebih mencengangkan, sangkaan itu bahkan 
dikemukaan oleh Kapolri sendiri dalam sebuah jumpa pers, yang kemudian menuai 
bantahan bertubi-tubi dari pihak-pihak yang terkait. Sekadar membaca dari 
pemberitaan media massa saja dan melakukan pengujian sederhana atas logik 
setiap peristiwa, apa yang dilakukan Kapolri bisa dikatakan sebagai 
sebuah "public deception." Berita utama hampir semua koran nasional, Kompas 
(28/09/2009)  misalnya, pasti menjadi pukulan telak bagi Kapolri.
 
http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/09/28/ 03134663/ bantah.kepala. 
polri.pimpinan. kpk.tunjukkan. bukti
 
Jika bukan karena ada suatu kepentingan politik yang jauh lebih besar dan 
melibatkan tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh dan punya kuasa, rasanya tak 
mungkin Jenderal Bambang Hendarso Danuri (BHD), penguasa tertinggi 
polri, bersedia melakukan sesuatu yang jelas-jelas bertentangan dengan akal 
sehat. Nalar publik telah dijungkir-balikkan oleh polisi secara semena-mena. 
Pertanyaan pokoknya adalah: mengapa seorang Kapolri bersedia melakukan semua 
ini? Mengapa seorang BHD mau "mewakafkan" diri untuk menjadi aktor dalam suatu 
pemainan politik tingkat tingggi, yang ia sendiri mungkin tak tahu pasti di 
mana akan berujung?
 
Serangkaian bantahan dari Bibit S Riyanto, Chandra Hamzah; sangkalan dari 
Antasari, Ari Mulyadi, dalam pandangan banyak pihak jauh lebih meyakinkan dan 
lebih masuk akal, karena itu layak dipercaya, dibandingkan tuduhan Kapolri. 
Mengapa BHD sampai rela berkorban dengan menanggung malu di hadapan publik 
karena tuduhanya bukan saja tak masuk akal, tetapi juga terbantah telak oleh 
dokumen-dokumen yang diajukan Bibit?
 
Sebagian anggota jamaah milis ini, terutama yang berteman dekat dengan 
penguasa, pasti tahu "cerita besar" di balik "drama kecil" yang dimainkan 
aparat kepolisian ini. Tetapi, kawan2 ini lebih memilih berdiam seribu bahasa! 
Tak tersentuhkah nurani kita untuk sekadar mengatakan sesuatu mengenai 
peristiwa ini? Sampai berapa lama kita kuat bertahan dalam sebuah penyamaran-- 
untuk tidak mengatakan pengelabuan- -(yang dibangun melalui aneka macam citra: 
"tokoh anggun," "tokoh berwibawa," "tokoh bersih," "tokoh bersuara merdu," 
"tokoh bertutur kata lembut," dan entah apa lagi) untuk suatu tujuan politik 
dan kepentingan kekuasaan?
 
Mohon maaf bila ada yang tidak berkenan atau ada informasi yang salah dan tidak 
akurat. 
 
Salam hangat dari tepian Thames River,
Amich Ahumami 
 



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke