Koq ujug-ujug babah Honggie mengutip Syariah Islam untuk menerangkan kata NAJIS 
ya?
Padahal bagiku membaca tulisan Bpk Umar Said sudah jelas jemelas kalau kata 
najis itu dipakai untuk menerangkan sesuatu ,baik itu perbuatan, ucapan atau 
bahkan apabila seseorang itu punya niat untuk membuat orang lain menderita itu 
adalah suatu perbuatan yang najis. Mbok jangan nggape2 soal agama-lah. Atur 
pikiran dan ambil solusi atas sesuatu hal itu yang dipakai  ya common sense 
atau ala oarang awam saja-lah.
 
Dan heran-nya koq terus terlanjur jadi ad hominem molor menyerang pribadi, 
molor ke faham komunisme, molor ke lari ninggalin konco2 kameradnya yang 
ditujukan kepada Bpk Umar Said. Lha beliau itu sewaktu terjadi pembantaian oleh 
rezim militerist fascist kan berada di LN. Lah aku sendiri misal-e jadi Bpk 
Umar Said ya ngak mau-lah nganterin jiwa balik ke Indonesia.
Bukannya lari atau ninggalin kameradnya seperti sampeyan bilang. Ya ada baiknya 
tinggal di LN untuk meneruskan perjoangan-nya memberikan andil untuk pencerahan 
peristiwa pembantaian bangsa dewek oleh rezim militerist fascist mbah Harto.
 
Ngak perlu punya fantasi let alone ber-onani politik (rusuh banget yo babah 
Honggie iki!), memang ada benernya Bpk Umar Said ini yang selalu berjoang untuk 
pencerahan peristiwa pembantaian tahun 1965. Karena akupun tahu tanpa ada 
pencerahan peristiwa ini Indonesia akan tetap deldel duwel, ya politik, ya 
hukum ya sosial budaya...ya juga moralnya. Semua dirusak oleh penyakit Orba 
yang sudah latent, sudah masuk tulang sumsum terutama penyakit ber-korupsi ria. 
Simple as that Babah Honggie, jangan misuh2 saja tau-nya.
 
Harry Adinegara

--- On Wed, 30/9/09, ouwehoer <[email protected]> wrote:


From: ouwehoer <[email protected]>
Subject: [t-net] Catatan untuk A. Umar Said
To: [email protected]
Received: Wednesday, 30 September, 2009, 1:26 AM


  



Tanggapan atas Catatan A. Umar Said: 
"Suharto bersama Orde Barunya adalah najis bangsa"

(Mohon dimaklumi terlebih dahulu, bahwa dalam tulisan kali ini terdapat 
kalimat-kalimat yang bernada agak keras, yang disengaja untuk sekadar 
menekankan persoalan-persoalan atau memperkuat ungkapan-ungkapan tertentu)

Pertama-tama perlu dijelaskan tentang arti kata "Najis".

Arti "Najis"
Najis adalah setiap benda yang di anggap kotor oleh Syariat Islam, dan wajib di 
bersihkan karena menjadi penghalang seseorang dalam beribadah kepada Allah.
Benda- benda najis
Benda-benda yang termasuk najis adalah :
a.) bangkai (selain bangkai manusia, ikan dan belalang), termasuk kulit dan 
bulunya.
b.) Darah
c.) Nanah
d.) Segala sesuatu yang keluar dari kubul dan dubur, kecuali air mani.
e.) Semua jenis minuman keras
f.) Anjing dan babi
g.) Bagian yang di potong dari binatang yang masih hidup (selain bulu hewan 
yang dagingnya di mana seperti wol, atau minyak misik)
h.) Susu binatang yang dagingnya tak di makan (selain air susu ibu)

Dari penjabaran diatas, jelas-jemelas diterangkan bahwa "Najis" itu diartikan 
sebagai suatu "benda", yang oleh Syariat Islam dianggap kotor. 

Nampak disini bahwa Penulis sudah salah kaprah menggunakan kata benda "Najis, 
hanya untuk melampiaskan nafsu-dendam politiknya.
Kesalah kaprahan dapat dimaklumi karena doktrin komunisme yang sudah menjalar 
ketulang sumsum, sehingga sama sekali tidak memahami ajaran agama. 

Sebagai gelandangan politik yang kabur meninggalkan rekan-rekannya di 
Indonesia, penulis ingin menunjukan kesetiaan Kameraad sesama anggota PKI, yang 
diekspresikan dengan ber-fantasi dan ber-onani politik. 

Besok, tanggal 30 September 2009 pk.16.00 WIB akan dilangsungkan Upacara 
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti - Lubang Buaya, 
untuk mengenang gugurnya para Pahlawan Revolusi dalam peristiwa pembrontakan 
G30S/PKI.
Kali ini yang mendapat giliran menyampaikan kata sambutan adalah Ibu Amelia 
Yani; putri Jenderal TNI. (Anumerta) Achmad Yani.

Mudah-mudahan suatu hari Penulis diberi kesempatan untuk mengikuti Upacara 
Peringatan Hari Kesaktian Pancasila.

Sumatera Selatan, 29 September 2009.
Yap Hong Gie.
------------ ----

Catatan A. Umar Said
Suharto bersama Orde Barunya adalah najis bangsa

(Mohon dimaklumi terlebih dahulu, bahwa dalam tulisan kali ini terdapat 
kalimat-kalimat yang bernada agak keras, yang disengaja untuk sekadar 
menekankan persoalan-persoalan atau memperkuat ungkapan-ungkapan tertentu)

Kedatangan tanggal 30 September sekarang ini membuat berbagai kalangan di 
Indonesia teringat kembali kepada pembunuhan besar-besaran terhadap jutaan 
orang yang tidak bersalah (atau yang tidak berdosa apa-apa sama sekali !) di 
Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa 
Timur, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan tempat-tempat lainnya. ---(CUT)---

















Get more done like never before with Yahoo!7 Mail. Learn more.


Get more done like never before with Yahoo!7 Mail. Learn more.


      
__________________________________________________________________________________
Get more done like never before with Yahoo!7 Mail.
Learn more: http://au.overview.mail.yahoo.com/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke