BENCANA BERSAMA (SBY)
Ridwan Saidi
Komentar : Permadi SH & KH Hasyim
Muzadi
Penerbit Indewa, Jakarta, 2009, 196 halaman
Akan datang suatu masa dimana kamu
memegang kebenaran
bagaikan menggenggam bara api yang
sangat panas
Sejak 2004
nasib negeri ini mirip dengan judul film komedi Hollywood : Nothing but
Troubles (1991). Nggak ada
cerita lain kecuali sial dan sial!
Bagaimana tidak. Bencana demi bencana terus menguntit Indonesia. Bahkan sampai
ke Arab Saudi pun bencana tetap
memburu manusia Indonesia dengan memberinya hadiah kelaparan di negeri gurun
pasir itu pada orang-orang yang
sebetulnya tergolong berkecukupan. Itu semua pernah terjadi di masa-masa
pemerintahan terdahulu baik dibawah orde lama dan baru, sampai orde
reformasi. (KOMPAS 10/03/2007)
DAFTAR ISI
Menuju Negara gagal : Bersama Kita Binasa ?
Akibat Dosa Penguasa
Tafsir Metafisika
Bencana atau Pembunuhan Massal ?
Dirundung Bencana Alam : Digoyang Gempa Bumi, Disapu Tsunami,
Dihentak Gunung Berapi
Diserbu Berbagai Penyakit : wabah nasional Flu Burung, Wabah Nasional
AIDS, Wabah Demam Berdarah Dengue
Bencana Dibuat-buat : Berkubang Lumpur Panas, Bahkan Garuda pun
Terbakar, Maut di Jalanan, Tenggelam di
Laut, Indonesia Tenggelam, Tertimbun Longsor, Tragedi Negeri Lumbung Beras
Bencana Kemiskinan, Pengangguran, dan Korupsi : Tujuh Dosa Pemerintah,
Kemiskinan-Pengangguran-Korupsi-Ketidakadilan
Epilog : the End of Regime
Berbagai Tabel Bencana
Komentar : Permadi SH & KH Hasyim Muzadi
Catatan : Tujuh Dosa Pemerintah :
(1)
Tak mampu kurangi kemiskinan (ditutupi berbagai poles khayalan)
(2)
Tak sanggup kurangi pengangguran (pengangguran terdidik berlipat ganda)
(3)
Tak mampu stabilkan harga-harga terutama
pangan (dan memacu impor)
(4)
Terjadinya dis-industrialisasi (industri justru dihancurkan)
(5)
Gagal memanfaatkan keuangan domestik (pinternya hutang)
(6)
Gagal melakukan konsolidasi fiskal (anggaran amburadul)
(7)
Terjadi informalisasi ekonomi dahsyat (ideologi ekonomi keblinger)
Launching : di SURABAYA.
Pertanyaannya kini :
Mengapa pemerintah seperti burung hantu, selalu muncul petang, tatkala
segala sesuatu telah terjadi di siang harinya ? Mengapa pemerintah (bersama
DPR) tidak berusaha lebih keras untuk menghadirkan panduan bagi masyarakat di
tengah terjadinya aneka bencana ? Jika tidak, kemana larinya kerja birokrasi
dalam pelayanan
publik dibawah komando SBY ? Saat ini keberlanjutan Indonesia berada di titik
kritis karena bencana ekologis yang terjadi secara akumulatif dan simultan di
berbagai tempat, tanpa adanya upaya signifikan untuk mengurangi kerentanan dan
kerawanan masyarakat terhadap dampaknya.(Ridwan Saidi)
BENCANA TERUS TERJADI ...
...mungkin bangsa Indonesia memang perlu diruwat. Hanya saja,
perlu membedakan antara musibah akibat kecerobohan, salah urus dan yang akibat
kesengajaan, antara yang diluar dan didalam kemampuan manusia. (KH Mustofa
Bisri)
...rupa politisi kita begitu buruk, sehingga, bukan tak mungkin Indonesia
akan menjadi museum
sejarah (Syafii Maarif)
...bangsa ini adalah bangsa yang teledor . Kita terlambat,
bahkan tidak melakukan.(Sarlito
W.S.)
...kalau presiden SBY tidak melakukan upaya mendasar dan tidak berani
melakukan perubahan
Perpres no.83 tahun 2005 yang tak dapat menanggulangi bencana skala besar
secara efektif, sama saja pak SBY mengorbankan rakyat. Pelaksana yang
diberlakukan sangat lamban, tidak
sigap, tidak koordinatif, tidak jujur-adil; belum tentu semua gubernur dan
walikota/bupati
memiliki kecakapan menangani bencana. (Imam B.Prasojo)
...ada 12 dosa hukum dalam kasus Lapindo : melanggar UU Perindustrian, UU
Konservasi, UU
Lingkungan, UU Tata Ruang, UU Agraria, UU Kesehatan, UU Lalu Lintas, UU Jalan
Tol, UU Sumber Daya Alam, UU Pertambangan, UU Migas, dan UU Terorisme (Suparto
Wijoyo, Unair)
Mata hati dan budi kita akan dibantu makin terbuka, dengan membaca buku
blak-blakan ini.
Segera dapatkan dan baca bukunya.
[Non-text portions of this message have been removed]