http://www.beritaja tim.com/sorotan. php?newsid= 53
 
09 Oktober 2009 15:37:13 WIB 
Kuda Troya di Tubuh Golkar
Reporter : Oryza A. Wirawan

 





 
Musyawarah Nasional Partai Golongan Karya berakhir dengan kemenangan Aburizal 
Bakrie. Orang pun mulai bicara soal tiadanya oposisi terhadap pemerintahan 
Susilo Bambang Yudhoyono dalam waktu lima tahun ke depan. Ada pula yang bicara, 
dengan nada riang maupun gamang: Golkar memasuki senjakala. Pesimisme yang tak 
sepenuhnya keliru.

Marilah kita jujur: Munas Golkar tempo hari tidak menyumbangkan sesuatu yang 
signifikan bagi perkembangan partai ini, kecuali sekadar pergantian ketua umum. 
Sama sekali tak terdengar isu-isu besar dan substantif, seperti bagaimana 
ideologi partai ini, bagaimana visi dan misi partai menghadapi tantangan 
perubahan perilaku pemilih dan dinamika politik.

Isu-isu besar soal ideologi, visi, dan misi partai, justru tenggelam di bawah 
isu politik uang dan 'pasar sapi', antara kandidat dengan pengurus-pengurus 
partai daerah yang punya hak suara. Muhammad Jusuf Kalla sempat melontarkan 
perlunya Golkar beroposisi. Sayang sekali, wacana itu disambut tak terlampau 
antusias oleh sebagian besar kader Golkar. Antusiasme justru ditunjukkan oleh 
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang menilai sikap kritis terhadap 
pemerintah tak selalu dalam bentuk oposisi.

Padahal, munas kali ini sangat strategis dalam mereposisi dan memperbincangkan 
kembali ideologi Golkar. Sejak Akbar Tanjung mengobarkan semangat 'Golkar Baru 
Bersatu untuk Maju' setahun setelah Reformasi 1998, saya tak melihat Golkar 
cukup serius menggodok semacam manifesto partai untuk mewujudkan semangat itu. 
Ujung-ujungnya orang bertanya: apa yang baru dari Golkar. Golkar masihlah 
partai politik yang ganjil: yang diisi orang-orang yang siap berkuasa, tapi tak 
siap berada di pihak yang kalah.

Aburizal Bakrie sebagaimana dilansir media massa menegaskan, bahwa oposisi atau 
koalisi bukan pilihan ideologis yang kaku. Golkar justru harus melakukan 
manuver politik strategis. "Menjauh, mendekat. Merangkul, membagi tempat sesuai 
dengan kepentingan Partai Golkar yang berimpitan dengan kepentingan bangsa," 
katanya dalam pidato penutupan.

Ical benar. Oposisi atau koalisi bukanlah masalah ideologis. Namun, 
pilihan-pilihan untuk itu atau untuk melakukan manuver strategis tetaplah 
dipandu oleh ideologi partai yang tegas dan jelas. Pertanyaan yang perlu 
dijawab, apa sesungguhnya ideologi Golkar. Selama masa Orde Baru, partai ini 
mengabaikan ideologi dan lebih banyak menyokong kekuasaan. Ketika Orde Baru 
berakhir dan Indonesia memasuki fajar baru, Golkar juga lebih banyak berkutat 
soal penyelamatan diri dari tuntutan pembubaran. Kemampuan partai ini 
bermanuver dalam momento-momento politik lebih banyak dikarenakan kepiawaian 
para tokohnya, dan bukan karena panduan ideologi partai yang mengejawantah 
dalam bentuk program.

Semestinya Golkar meniru Partai Buruh di Inggris. Setelah kalah berkali-kali 
melawan Partai Konservatif dalam pemilu, Partai Buruh bangkit dan berhasil 
menempatkan Tony Blair sebagai perdana menteri. Namun bukan Blair yang 
memunculkan sensasi, melainkan konsep The Third Way (Jalan Ketiga) seorang 
Anthony Giddens.

Giddens memberikan pijakan ideologis bagi Blair dan Partai Buruh untuk 
merangkul golongan 'kiri' dan 'kanan' di Inggris. Jalan Ketiga adalah manifesto 
politik paling penting abad ini dari kelompok 'Kiri Tengah'.

Sayang sekali, bicara Golkar berarti masih bicara soal tokoh, bukan ideologi. 
Kemenangan Ical sejatinya menunjukkan bahwa partai ini mengingkari hakikatnya 
sebagai partai modern yang tidak tergantung pada individu tokohnya. Sebagai 
partai yang mengklaim diri modern, Golkar tak ubahnya 'one man show party': 
dulu Soeharto, Akbar Tanjung, Jusuf Kalla, dan sekarang Ical. Saya khawatir, 
kuasa Ical justru berada di atas partai. Bukankah dia yang nanti membiayai 
Golkar layaknya sebuah perusahaan, setelah kader-kader Golkar yang tersebar di 
seluruh Indonesia tak biasa patungan untuk menghidupi partainya sendiri?

Kuasa Ical yang 'maha besar' di Golkar ini akan diuji setelah nama-nama 
pengurus diumumkan. 'Kapal' Golkar di bawah nahkoda Ical mengakomodasi 
orang-orang lama di masa kepengurusan Akbar Tanjung dan keluarga Cendana. 
Titiek Soeharto dinobatkan sebagai wakil sekretaris jenderal.
'Kapal' Golkar kali ini juga zonder purnawirawan. Ical seperti memutus tali 
sejarah, bahwa partai ini didirikan oleh tentara dan selama masa Orde Baru 
'berselingkuh' dengan militerisme.
Ical juga seperti ingin memperpanjang konflik pasca Munas, dengan tidak 
mengakomodasi pendukung kuat Surya Paloh dan Yuddy Chrisnandy. Orang muda 
potensial macam Indra Jaya Piliang dan Yuddy, yang jelas berkeringat untuk 
Golkar saat pemilu legislatif dan pemilihan presiden, justru tersingkir.
Ical malah mengakomodasi Rizal Mallarangeng, juru bicara SBY-Boediono saat 
pemilihan presiden lalu. Rizal dikenal sebagai direktur Freedom Institute, 
lembaga yang menyebarkan pemikiran ekonomi liberal, yang dibiayai Bakrie. Ia 
duduk sebagai Ketua Bidang Pemikiran dan Kajian Kebijakan. Ical seperti tidak 
menghitung dampak psikologis yang muncul di antara kader Golkar, dengan 
hadirnya seorang Celli (sapaan akrab Rizal). Masih belum lekang dalam ingatan, 
Rizal Mallarangeng adalah lawan sengit tim Jusuf Kalla saat pemilihan presiden 
di berbagai forum debat. Indra Piliang beberapa kali berhadapan dengan Rizal di 
sejumlah forum debat televisi itu.

Burhanuddin Muhtadi, peneliti Lembaga Survei Indonesia, menduga masuknya Rizal 
dimaksud untuk memperkuat fungsi think tank. Jika Muhtadi benar, agaknya ke 
depan kita akan melihat wajah Golkar sebagai partai yang tunduk terhadap 
pemerintah dan menyokong kebijakan yang lebih 'bersahabat' dengan sistem 
ekonomi liberal. Kehadiran Rizal akan memiliki peran penting untuk 
merasionalisasi dukungan Golkar terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang 
sangat pro pasar.

Kehadiran Rizal dan juga Titik Soeharto jika tidak dijelaskan secara benar oleh 
Ical, akan berpotensi memicu perlawanan dari kader-kader muda yang tidak 
diakomodasi dalam kepengurusan. Bagaimana pun juga, Titiek maupun Rizal tidak 
pernah 'berdarah-darah' untuk Golkar. Mereka seperti memperoleh tiket gratis 
untuk masuk dalam posisi strategis kepengurusan Golkar.

Pada akhirnya, kehadiran Rizal dan Titik justru berpotensi menganggu 
konsolidasi partai beringin untuk meraih kemenangan dalam pemilu 2014. Dalam 
konteks ini, Ical harus mewaspadai efek 'kuda troya' dalam diri Rizal 
Mallarangeng maupun Titik. [wir]















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke