From: iwan piliang <[email protected]>
Date: Monday, October 12, 2009, 4:00 PM


  








Isu rasis di tengah bencana di Padang,  menyudutkan TNI. Plus Surat Pernyataan 
Pontianak, mengungkit luka lama. Verifikasi di Padang dan Esai dari Pontianak . 
PENGHUJUNG 1970. Pagi. Tetangga sebelah rumah kami di Pulau Air - - persis di 
depan stasiun kereta api Pulau Air, Padang - - memberi  kue talam di piring 
putih tebal. Kue yang bagian  atasnya putih, terbuat dari santan dan tepung 
beras, bawahnya ketan. Kue legit manis beraroma serai, masih lekat dalam 
ingatan yang kala itu berusia 6 tahun.. Kue talam   pemberian Tante Eva, 
tetangga sebelah kami keturunan Cina. 
Di kesempatan lain, ibuku  ketika memasak, membalasnya dengan rendang ikan 
tongkol - - kala itu tongkol besar segar dapat dibeli murah di Muara Padang . 
Aku  kebagian mengantarkan ke tetangga itu.Begitulah hubungan kami dengan 
jiran. Kala itu aku tak tahu dan mengerti beda warna kulit. Yang aku ingat ada 
kalimat bahwa keluarga tetangga itu keturunan Cina. Bagiku yang masih kecil, 
mereka itu baik dan kami pun demikian.  
  
Kediaman kami itu berbentuk ruko, bangunan tua,  berdinding tebal. Era 1973, 
aku sudah  pindah ke Pekanbaru, Riau. Ruko lama  itu tidak lagi milik keluarga 
kami. 
  
Pada 2003 aku pernah mencari-carinya, sekadar mengenang masa kecil. Stasiun 
Kereta Api Pulau Air, peninggalan Belanda  di seberang rumah, rupanya sudah 
berubah. Bangunan penginggalan Belanda itu, kala itu,  ditempati oleh 
sekretariat organisasi pemuda, dibuat gudang berkotak-kotak.  Rel  kereta api 
sudah terimbun tanah. Dulunya kereta api itu dapat meluncur  hingga ke  Muara, 
Pantai Padang. 
  
Sudah tak ada bapak tua penjual rokok, yang setiap siang saya hampiri selalu 
menawarkan pisang Ambon , “Nih pisang, enak, makanlah.”  Aku datang dengan 
seringgit ( Rp 2,5 ) atau pun tidak, sang Bapak tua, tetap tersenyum memberi 
pisang. 
  
Kala 2003, dari stasiun, aku menatap ke rumah yg pernah kami diami, seakan 
masih tercium bagiku aroma pala, cengkeh, kayu manis, yang dijemur di pelataran 
halaman jalan. Orang tuaku selain memproduksi tikar dari rumput dengan  alat 
tenun bukan mesin (ATBM), juga berdagang komoditi. Dari rumah itulah aku dulu 
suka berjalan-jalan ke daerah Terandam, juga ke Pondok, Kampung Cina. Kehidupan 
berjalan harmonis. 
  
Ketika gempa 7,9 skala rihter,  menimpa Padang, Sumatera Barat,  pada 30 
September 2009 ini, daerah Pulau  Air itu termasuk yang rontok. Ketika melihat 
akibat gempa di televisi, menenggelamkan lamunanku kembali ke masa-masa 
menyenangkan  awal 70-an itu. 
  
Karenanya ketika pada 4 Oktober  beberapa media mainstream memberitakan  adanya 
laku rasis terhadap mereka keturunan Cina di Padang, saya bertanya-tanya apa 
iya? 
Keterangan di lapangan, bahwa hal ini tidak benar. Lebih parah ada pula kalimat 
berita yang di post di banyak milis, termasuk di milis  Tionghoa-net, yang 
menyebutkan soal pemerasan keluarga keturunan oleh oknum TNI. 
PADA HUT TNI 5 Oktober lalu, saya sempat memberi selamat kepada salah satu staf 
ahli Panglima TNI, yang baru saja resmi mendapat bintang satu, Marsekal Pertama 
Charirul Akbar.  Ia menjadi teman diskusi cukup lama.  
Banyak hal  yang turut diprihatinkan sejak era reformasi terhadap TNI. Akibat 
indikasi  kesalahan beberapa oknumnya, termasuk indikasi  keterlibatan TNI di 
dalam kasus Munir, kasus orang hilang: seakan membuat organisasi TNI secara 
kelembagaan  tak benar. 
 
“Bahkan seorang anggota DPR pun di televisi mengatakan urusan teroris semua 
wewenangnya polisi,” ujar  Mersekal  Pertama TNI  itu. 
  
Benarkah demikian? 
  
Anggota  DPR itu ikut dalam  membuat UU Nomor 34,  yang di dalamnya  urusan 
keamanan dan pertahanan  negara, menyebutkan  TNI juga ada di sana . Plus  ada 
pula LSM yang memojokkan kelembagaan TNI, seakan tak pantas untuk diperhatikan. 
Padahal TNI yang bercitra lemah dan jelek, efek negatifnya juga kepada  
kelemahan pertahanan negara; buruknya  kekuatan militer. Dan kenyataan ini 
seakan-akan ingin terus digadang-gadang, entah untuk apa dan order siapa? 
  
Fakta di lapangan melihat alat angkut TNI, persenjataan yang kian kurang 
diperhatikan, sebagai warga negara saya terenyuh. 
  
Diberitakan oleh media, untuk alutsista tahun ini negara sampai harus mencari 
pinjaman Rp 1 Triliun, dan itu berbanding terbalik dengan jumlah dana bail-out 
yang bermasalah yang disalurkan untuk kasus Bank Century yang mencapai Rp 6,72 
Triliun. 
  
Di alat angkut saja jika negara mau berlapang dada,  ada industri PT  Perkasa 
Engineering,  yang kini  di tangan PT Pengelola Asset (dulu BPPN) yang memiliki 
lisensi Styer,  Austria, yang dapat membuat  truk 4 x 4, bahkan blok mesin 
panser. Market TNI saja, sudah seyogyanya industri itu ekonomis untuk 
diselamatkan. Fakta di lapangan kini, pabrik di Subang  itu dominan menyemak. 
Sudah sejak lama saya menyebut kedaan demikian sebagai laku kufur nikmat yang 
diciptakan  trias politika. 
DALAM keadaan demikian awal Oktober ini, isu berbau rasis dan kesukuan 
menyeruak pula dari Pontianak . Tiada hujan, badai,  ada kelompok  
mengatasnamakan Seruan Pontinak mengeluarkan rilis. Seruan itu seakan 
mengungkit luka lama. Ada angka, ada gugatan dan himbauan. Ada pertanyaan 
kemudian timbul, patut dan pantaskan bila himbauan itu keluar demikian. 
Untuk menjawabnya, berikut Esai  dari Surya HR Hesra dari Pontianak , Kalbar 
  
Pontianak 
11 Oktober 2009 
  
NIAT baik tidak selalu diterima dan berdampak baik. Mungkin sebuah niat baik 
yang mendasari Nur Iskandar, Pimpinan Borneo Tribune dan sempat menjadi 
Pimpinan Redaksi Equator sebelumnya untuk menggagas “Seruan Pontianak” yang 
draft-nya ditulis oleh Andreas Harsono. 
  
Selama seminggu SP menjadi berita hangat di media-media lokal, dan mengundang 
reaksi dari Forum Masyarakat Dayak. Yang menjadi persoalan ialah penyantuman 
gambar burung enggang yang di bagian atas terdapat tengkorak. Sebagaimana 
diketahui, burung enggang ialah simbol suci masyarakat Dayak, juga merupakan 
salah satu identitas kesukuan. 
  
Perihal lain, ialah pemuatan angka-angka jumlah korban dari perang antar etnis 
yang sempat terjadi di Kalbar tanpa sumber yang jelas. Kedua hal inilah yang 
kemudian mau tidak mau memaksa Nur Iskandar sang penggagas SP menyatakan 
permohonan maaf terbuka melalui media. 
  
Seorang sumber yang enggan disebut nama, menyatakan pendapat, bahwa mungkin 
sikap atau tindakan Nur Iskandar adalah untuk tujuan baik. Hanya memang, 
pembuatan draft yang beredar di milis dan blog yang tercium nada provokatif, 
membuat masalah ini seakan besar. 
  
Padahal di Pontianak sendiri, tidak ada keresahan warga akan hal ini. Sempat 
memang polisi berjaga sedikit ketat, tetapi itu demi keamanan semata, bukan 
tersulut isu akan perpecahan lagi. 
  
Pada SP ada kesalahan fatal yaitu dengan pencantuman nama-nama seperti salah 
seorang ialah Rektor Universitas Tanjungpura, Chairil Effendi yang mengaku 
tidak tahu menahu, dan hanya mendapat pesan singkat melalui ponsel berisi 
seruan damai. 
  
Demikian pula, masih menurut penuturan Andi, banyak dari nama yang tercantum, 
hanya  menerima pesan singkat menyatakan seruan damai, tanpa mengetahui perihal 
draft SP tersebut. Tentu  ini merupakan kejanggalan tersendiri atas pencaplokan 
nama. 
  
Ada semacam stigma, bahwa Kalbar adalah daerah yang sangat rawan konflik. Hal 
ini bisa saja dikarenakan banyak hal. Tetapi, ada dua hal utama, pertama 
kenyataan sosial-politik, terbentuk suatu konstelasi yang didominasi 
Melayu-Jawa, sementara Dayak terpinggirkan. Bisa dilihat secara demografis, 
dimana penghuni Kota , didominasi Melayu-Jawa. 
  
Jawa-Melayu lebih egaliter dan membumi di Kalbar, kecuali Madura, yang juga 
pendatang, etnis ini cenderung etnosentris. 
  
Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh elit Jakarta . Bahwa kemudian 
konflik seolah terjadi tanpa campur tangan elite Jakarta itu. Ini terlihat khas 
di hampir semua daerah konflik sepanjang era menjelang reformasi bahkan hingga 
saat ini. 
Dalam sebuah folksong berjudul Cik-Cik Periok, lagu daerah Kalbar, kondisi 
seperti ini seakan sudah diramalkan akan terjadi. 
  
Cik cik periok belanga sumbing dari Jawe
Datang nek kecibong bawa piting dua ekok

Cak cak bom dalam bilanga idung picak gigi rongak
Siape ketawa dolo dipancung raja tunggak 
  
Lagu ini semacam penganalogian, seperti bait pertama -Cik cik periok belanga 
sumbing dari Jawe- seakan menggambarkan banyaknya kedatangan orang-orang Jawa 
yang termarginalkan ke Kalbar, ini bisa dilihat dari arus transmigrasi awalnya, 
hingga peluang kerja lain bahkan hingga saat ini. Di bait kedua - Datang nek 
kecibong bawa piting dua ekok- ini bisa jadi menggambarkan kondisi eksploitasi 
besar-besaran terhadap alam Kalbar. 
  
Sedang di bait selanjutnya, seakan menegaskan kondisi riil, para penguasa dan 
elite politik yang berperan. - Cak cak bom dalam bilanga idung picak gigi 
rongak-  ini mengilustrasikan siapa saja yang menentang, akan mendapat 
penekanan. Serta ditambah bait terakhir - Siape ketawa dolo dipancung raja 
tunggak-, dan yang berani protes akan dilakukan pembinasaan oleh penguasa yang 
lalim. 
  
Pada kenyataannya, hal seperti ini memang berlangsung. Seperti HPH yang luar 
biasa memberi konstribusi besar terhadap pengrusakan hutan di Kalbar, sementara 
pendekatan keamanan menjadi senjata handal meredam kelompok pro demokrasi. 
  
Sementara itu, masyarakat asli Kalbar sendiri tidak bisa berbuat banyak, hanya 
menjadi penonton belaka. Ukuran keberhasilan seakan hanya diukur secara fisik 
belaka, seperti pembangunan pusat perbelanjaan, pendirian sekolah, pembangunan 
jalan serta fasilitas publik lain. 
  
Seperti hal-nya perkebunan sawit swasta yang lenggang jaya di Kalbar, mereka 
meng-klaim mereka mampu membawa pembangunan daerah dan ironisnya pemerintah 
mengamini hal ini. Masyarakat lokal yang sedikit terciprat mengenyam fasilitas 
yang dibangunkan pemerintah di areal perusahaan sawit itu, merasa bahwa 
perusahaan tersebut akan sungguh-sungguh membawa perubahan sosial terhadap 
mereka. 
  
Tetapi, pada penerapannya, seringkali perusahaan lalai terhadap AMDAL. Seperti 
hal Wilmar Group yang diperkarakan oleh Lembaga Gemawan (Lembaga Pengembangan 
Masyarakat Swadiri) bekerjasama dengan Milieudefensie (Friends of the Earth 
Netherlands) dan KONTAK Rakyat Borneo. 
  
Sejak tahun 2005, ketiga lembaga ini memantau dan melakukan riset terhadap 
aktifitas Wilmar Group di Sambas.  Dimana sejak awal, Wilmar Group telah 
melakukan kesalahan dengan mengabaikan AMDAL, tetapi ironisnya, pemerintah 
tetap mengeluarkan Izin Usaha Perkebunan dan Izin Lokasi. 
  
Pada dasarnya, masyarakat Dayak, Melayu, Jawa, dan etnis lain, hidup 
berdampingan dan selaras di Kalbar. Kedatangan pendatang di tanah Khatulistiwa, 
jika dibumbui provokasi, bukan tidak mungkin menimbulkan konflik. 
  
  
DEMIKIAN Sketsa kala ini. Semoga tulisan  ini menjadi pemicu untuk  Sketsa  
kembali hadir setiap hari di blog kami. 
  
  
Iwan Piliang, Literary Citizen Reporter, blog-presstalk. com 
  
  
  
  
  
















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke