Jebakan Oligarkis Partai Golkar

Saturday, 10 October 2009 20:55 

Oleh Nico Harjanto, peneliti CSIS, mahasiswa Northern Illinois University 

Puncak politik di Partai Golkar usai setelah Aburizal Bakrie terpilih sebagai 
ketua umum baru untuk periode lima tahun mendatang. Sebagai partai yang paling 
berpengalaman dalam politik, Golkar sayangnya tidak mampu menyumbangkan inovasi 
politik yang dapat membangkitkan kembali kejayaannya ke depan. Justru yang 
tampak adalah dominannya pragmatisme di kalangan pengurus, saat politik 
transaksional menjadi norma baku. Tidak membeli suara maka tidak akan mendapat 
suara juga.

Ironis, bahwa dari ratusan politisi nasional dan lokal yang memiliki mandat 
untuk memberikan suara, tidak ada satu pun yang memberikan apresiasi pada visi 
dan misi dari kandidat yunior yang notabene kader potensial partai. Ini makin 
menyadarkan kita, betapa benarnya Kenneth Arrow dengan general impossibility 
theorem-nya, bahwa individu-individu rasional akan sangat susah menjaga nalar 
sehatnya ketika mereka berinteraksi dalam kelompok. Alangkah janggalnya, jika 
tidak karena daulat uang, tidak ada kesadaran kolektif sedikit pun di antara 
pengurus yang hadir untuk memilih berdasarkan pertimbangan non-material. Tentu 
sebagai politisi mereka tidak mau membuang percuma suaranya, namun kepentingan 
jangka panjang partai seharusnya ada yang membela.

Memberikan suara untuk kandidat yang hanya bermodal visi dan misi bukanlah 
tindakan percuma karena akan memberikan sinyal yang bagus kepada para 
konstituen Golkar dan pemilih pada umumnya bahwa masih ada pengurus yang 
altruistik dan bijak. Ini juga dapat memberikan pembelajaran bagi partai-partai 
lain bahwa pragmatisme tidak semestinya menjadi panglima dalam politik. 
Parahnya, Aburizal tidak juga menyadari kesalahan kolektif ini dan malah 
menyuburkannya dengan memasukkan paksa orang-orangnya ke dalam struktur 
kepengurusan Golkar. Ini tentu akan makin mempertajam karakter pragmatisme di 
Golkar.

Dari sini, tampak sekali bahwa Partai Golkar tidak akan mengambil posisi di 
luar pemerintahan. Pragmatisme kekuasaan akan membuatnya merapat ke Presiden 
SBY demi beberapa jabatan dan konsesi politik. Ini nantinya akan berlaku untuk 
semua tingkatan, sehingga dapat diduga politik ke depan akan makin harmonious, 
karena oposisi efektif yang mampu menciptakan dissonant politics tidak ada. 
Jika ini terjadi, maka sebenarnya Golkar telah menggadaikan masa depan 
elektoralnya demi sejumput kekuasaan sesaat.

Jika pragmatisme telah menjadi norma, Partai Golkar tidak akan mungkin bisa 
berkembang atau menang lagi. Daulat uang menyebabkan kebutuhan finansial bagi 
partai menjadi sangat besar karena kerja kolektif partai tidak lagi digerakkan 
oleh semangat berkarya namun lebih karena dana. Tanpa adanya dana, maka hampir 
dapat dipastikan Partai Golkar di banyak daerah akan melakukan hibernasi 
politik sampai nanti menjelang pemilu 2014. Investasi elektoral tidak dilakukan 
dengan kerja-kerja politik yang tekun sejak sekarang, tetapi tergantung pasokan 
dana dari pengurus pusat yang dipimpin oleh salah seorang terkaya di negara 
kita.

Salah satu kesalahan klasik partai-partai yang dulunya dominan dan kemudian 
terancam survival-nya, seperti PRI di Meksiko, Peronist di Argentina, maupun 
reinkarnasi atau sempalan partai komunis di beberapa negara Eropa Timur adalah 
ketidakmampuannya untuk keluar dari oligarchical traps. Karena menguatnya 
pragmatisme daulat uang yang tidak didukung dengan pelembagaan pendanaan 
mandiri oleh anggota dan simpatisannya, partai-partai tersebut menjadi 
tergantung pada para oligarch maupun financiers untuk menjamin berjalannya roda 
kegiatan partai. Pada akhirnya, partai-partai tersebut menjadi pelindung 
kepentingan bisnis atau bahkan sekadar alat politik dari kaum berduit tersebut. 
Partai-partai tersebut tidak berhasil mengkapitalisasi berbagai usable pasts 
yang dimiliki secara kelembagaan maupun portable skills yang dimiliki para 
politisinya.

Golkar ke depan sangat mungkin mengalami nasib yang sama karena kepemimpinan 
sekarang ini bermula dari dan beroperasi dalam pragmatisme yang kental. Sebagai 
partai, Munas kemarin juga tidak menghasilkan inovasi yang menyegarkan bagi 
kehidupan kepartaian. Sungguh akan berbeda jika Golkar mampu mengadakan 
pemilihan ketua umumnya melalui pemilihan terbuka atau bahkan melibatkan 
sebanyak mungkin anggota resminya sehingga tidak ada lagi "secret garden of 
politics" di dalam proses pemilihan pimpinan maupun kandidat lain nantinya dan 
menata ulang organisasi supaya kompatibel dengan kecenderungan sistem dan 
politik elektoral maupun karakter desentralisasi. Golkar hanya akan besar jika 
mampu menunjukkan kelasnya sebagai partai garda depan dalam inovasi politik, 
bukan karena menghamba pada kekuasaan atau uang.

* tulisan ini dimuat di 
http://pemilu.liputan6.com/kolom/200910/246963/Jebakan.Oligarkis.Partai.Golkar

About the author:

Nico Harjanto adalah peneliti CSIS Jakarta, saat ini sedang menyelesaikan 
disertasinya di Northern Illinois University, Amerika Serikat. Nico juga 
dikenal sebagai pollster/penyelenggara jajak pendapat di Jakarta.

 
 



 



Satrio Arismunandar 
Executive Producer
News Division, Trans TV, Lantai 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4034,  Fax: 79184558, 79184627
 
http://satrioarismunandar6.blogspot.com
http://satrioarismunandar.multiply.com  
 
Verba volant scripta manent...
(yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi...)

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke