Koran Tempo, 13 Oktober 2009
Televisi, Gempa, dan Klaim Tak Perlu
Teguh Usis, jurnalis televisi, mantan pembawa acara Kupas Tuntas Trans
TV/Trans-7
Enakkah telinga kita mendengar ketika seorang pewawancara di televisi
memberondong narasumber dengan pertanyaan membabi-buta? Padahal jelas-jelas
narasumber itu korban gempa Sumatera Barat yang belum tahu bagaimana nasib
anaknya. Namun, begitulah masyarakat disodori tontonan oleh sebuah stasiun
televisi berita tak lama gempa dahsyat mengguncang Sumatera Barat, 30 September
lalu. Miris rasanya hati mendengar pertanyaan seperti ini: "Bagaimana perasaan
Bapak jika nanti ternyata anak Bapak ditemukan sudah dalam keadaan meninggal?"
Sebuah pertanyaan amat bodoh yang sangat tak patut ditanyakan kepada orang yang
tengah dirundung duka.
Sebagai orang yang menjadi korban, narasumber itu pastilah sedang dalam kondisi
trauma. Anaknya belum ditemukan, rumahnya hancur, persediaan makanan terbatas
sudah di depan mata, dan seabrek kondisi tidak mengenakkan lainnya yang
membayangi pikiran sang narasumber. Jelaslah bahwa narasumber seperti ini harus
diperlakukan berbeda dengan narasumber biasa. Simpati dan empati yang mereka
butuhkan.
Aspek kemanusiaan
Boleh jadi berondongan pertanyaan kepada narasumber korban gempa dimaksudkan
untuk memancing emosi. Tujuannya agar ia menitikkan air mata. Ada semacam
anggapan di kalangan jurnalis televisi bahwa tetes air mata dari seorang
narasumber adalah rating. Penonton biasanya hanyut dalam dramatisasi yang
dilakukan televisi. Coba perhatikan: setiap kali ada narasumber yang sedih dan
mulai menangis, angle kamera secara otomatis akan diarahkan oleh kamerawan
menjadi ukuran gambar extreme close-up.
Dalam hal mewawancarai narasumber, ada sebuah pelajaran penting yang bisa
ditarik dari pengalaman Barbara Walsh, seorang wartawati Laurence (Mass.)
Eagle-Tribune. Memang Barbara tidak mewawancarai seorang korban bencana,
melainkan seorang pembunuh di Massachusetts, Amerika Serikat, bernama William
R. Horton Jr. Barbara mendatangi Horton di penjara saat sang pembunuh melakukan
lagi tindakan kejinya, ketika ia mendapatkan cuti di luar penjara.
Saking geramnya atas tindakan Horton, Barbara larut dalam emosinya. Pertanyaan
pembuka kepada Horton begitu menohok: "Gile banget, bagaimana seorang pembunuh
keji sepertimu bisa keluar cuti?" Pertanyaan ini nyaris membuat Horton
membatalkan wawancara itu. Untunglah Barbara segera sadar dan langsung
memperbaiki pertanyaannya dengan kalimat, "Oke. Sekarang apa yang hendak Anda
sampaikan kepada saya."
Jelaslah di sini bahwa aspek kemanusiaan menjadi hal penting ketika berhadapan
dengan seorang narasumber yang "tak biasa". Frasa "tak biasa" ini dilekatkan
kepada seorang narasumber yang penuh dengan gejolak emosi. Serupa dengan
narasumber korban bencana yang tengah berduka.
Mirip kasus Barbara, seharusnya seorang pewawancara- -apalagi disiarkan secara
langsung di televisi--punya sikap yang sama. Mintalah dengan empati tinggi
kepada narasumber korban bencana untuk mengungkapkan apa yang hendak ia
ceritakan. Perlihatkan pula ekspresi wajah yang menunjukkan tanda empati. Tak
perlu narasumber diberondong dengan rentetan pertanyaan bertubi-tubi, apalagi
sampai harus memojokkannya. Dengan pertanyaan pembuka yang simpel, niscaya
narasumber akan berkisah cerita dukanya.
Klaim
Selain soal cara bertanya kepada narasumber, ada hal lain yang patut mendapat
perhatian di balik pemberitaan mengenai gempa di Sumatera. Dua stasiun
televisi, yang menyebut diri mereka sebagai stasiun televisi berita, akhirnya
terjebak dalam klaim tak perlu mengenai eksklusivitas peliputan. Diawali oleh
Metro TV, yang menyebut diri sebagai stasiun televisi pertama yang berhasil
menembus wilayah Pariaman dua hari setelah gempa. Sehari kemudian, TVOne pun
tak mau kalah dengan menyatakan sebagai stasiun televisi pertama yang
menayangkan gambar beberapa saat setelah gempa mengguncang pada 30 September
lalu pukul 17.16 WIB.
Kalau melihat dari segi persaingan, tentu saja klaim seperti ini sah.
Penyebutan sebagai "yang pertama" bertujuan meningkatkan daya saing sebuah
stasiun televisi. Jamak diketahui, televisi adalah media yang sarat modal.
Pemasukan dari iklan menjadi roh pengelolaan sebuah stasiun televisi. Dengan
klaim sebagai yang pertama, televisi berharap memperoleh rating tinggi. Dengan
begitu, niscaya iklan pun akan mengalir masuk.
Tapi etiskah pada saat lebih dari sejuta warga Padang dan Pariaman tengah
dirundung duka mendalam, stasiun televisi malah hiruk-pikuk dengan klaim-klaim
seperti ini? Betul memang Metro TV yang pertama menembus Pariaman. Betul pula
bahwa TVOne yang pertama menyiarkan gambar tak lama setelah gempa mengguncang.
Namun, pentingkah kedua stasiun televisi mengklaim seperti itu? Padahal jauh
lebih elok jika stasiun televisi memberitakan kedukaan warga Padang dan
sekitarnya tanpa ada embel-embel klaim.
Ingatan saya melayang pada gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan Aceh, akhir
2004. Kala itu seorang wartawan senior, Farid Gaban, mengusulkan agar media
cetak dan elektronik membuat liputan bersama. Tentu saja, dengan liputan
bersama ini, persaingan menjadi tiada. Usul itu terdengar sangat absurd.
Padahal, di balik absurditas usulan itu, terselip sebuah keinginan agar media
bekerja sama untuk masuk ke wilayah-wilayah liputan yang sulit dijangkau.
Pada gempa Sumatera Barat, tengoklah betapa nyaris semua stasiun televisi
memfokuskan siarannya dari Hotel Ambacang. Betul memang hotel itu luluh-lantak
dan korban berserakan di sana. Tapi wilayah-wilayah lain yang jauh lebih parah,
semisal Tandikat di Pariaman, pada hari-hari awal gempa, luput dari
pemberitaan. Padahal, andaikan usul Farid Gaban lima tahun silam itu diterapkan
oleh semua media yang meliput di Sumatera Barat, niscaya dapat direncanakan
secara bersama ke wilayah mana saja media akan bergerak.
Media--khususnya stasiun televisi--memang masih perlu belajar banyak meliput
peristiwa seperti gempa di Sumatera Barat. Sekali lagi, bukan dengan niat
menafikan kerja keras para jurnalis mengabarkan kedukaan mendalam dari Sumatera
Barat, melainkan beberapa hal mendasar dalam kerja jurnalisme tetap perlu
mendapat perhatian serius. Dan yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana media
mengawal tahap rekonstruksi dan rehabilitasi warga serta wilayah-wilayah di
Sumatera Barat yang terkena gempa.
[Non-text portions of this message have been removed]