Refleksi : Papua diperlukan kekayaan alamnya, penduduk menjadi katagori nomor 
dua demikian politik NKRI!

http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/hari-pangan-dan-kelaparan-yahukimo/

Jumat, 16 Oktober 2009 13:19 
Hari Pangan dan Kelaparan Yahukimo
OLEH: POSMAN SIBUEA



Hari Pangan Se­dunia (HPS) yang diperingati setiap 16 Oktober meng­ingatkan 
kita pada penderitaan sejumlah warga di Papua. 

     
Mereka meregang nyawa karena kelaparan. Inilah ironi kelaparan di negeri kaya. 
Ketika sebagian orang yang tergolong kaya di Jakarta dan kota-kota besar 
lainnya berani merogoh kocek jutaan rupiah untuk me­nurunkan berat badan 5-10 
kg karena kelebihan gizi, di se­jum­lah daerah masih kerap ter­jadi kelaparan 
dan kurang gizi. 


  Kelaparan yang terjadi di Distrik Walma, Kabupaten Yahukimo, Papua sejak Mei 
hingga Agustus 2009 telah menewaskan 60 orang. Dapat diduga ratusan atau ribuan 
orang lainnya yang kelaparan menunggu giliran jika bantuan makanan tidak segera 
dikirim. Tragedi kemanusiaan ini merupakan cermin kegagalan negara mengurus 
rakyatnya. Ayam mati di lumbung padi. Di Bumi Papua yang konon terkenal kaya 
sumber daya alamnya, ada puluhan orang meninggal karena beberapa hari tidak 
makan. 
Sementara itu, di bagian lain Tanah Air ribuan anak mengalami penyakit dengan 
gejala klinis busung lapar. Kejadian yang amat memilukan ini secara kasatmata 
dapat disaksikan lewat berita di sejumlah TV swasta. Lantas, di mana peran 
negara melindungi rakyatnya dari kelaparan dan kurang gizi? Adakah negara telah 
melakukan kelalaian atau penelantaran (state neglect) terhadap rakyatnya 
sendiri?


Kasus kelaparan di Yahukimo pada tahun 2006, cenderung ditanggapi dengan sikap 
kurang produktif. Pemerintah malalui  Menko Kesra Aburizal Bakrie menyatakan 
saat itu belum ada peristiwa kelaparan besar di Yahukimo, melainkan hanya 
gejala awal kelaparan. Pernyataan ini mengingatkan kita terhadap respons Alwi 
Shihab ketika menjabat Menko Kesra, bahwa busung lapar yang terjadi sebelumnya 
di  NTB adalah kecelakaan dan bukan kelalaian negara. Ini menyiratkan agar 
publik jangan menyalahkan pemerintah untuk setiap kasus kelaparan yang kini 
kerap terjadi di Tanah Air. 

Substansi Persoalan
Pemerintah seakan gusar jika media massa mengangkat berita kelaparan di suatu 
daerah. Media massa dianggap (ba­ca dituduh) membesar-besar­kan masalah. Lalu, 
eufemisme kata pun digunakan untuk menggantikan istilah kelapar­an karena yang 
terjadi baru tahap awal kelaparan yakni rawan pangan atau gagal panen.     
Padahal, substansi persoal­an bukanlah berapa jumlah orang yang menderita 
karena kelaparan, namun mengapa ada sekelompok orang yang tidak terpenuhi 
kebutuhan pokoknya sementara negara tidak berdaya melindungi mereka? 
Ketidakpahaman sebagian pejabat negara terhadap penderitaan rakyat miskin yang 
lapar dan kekurangan gizi menjadi sebuah ironi. Masalah selalu disederhanakan 
dan kerap terjebak pada pendekatan kuantitatif yang segalanya dilihat dari 
hitungan angka-angka tanpa mau masuk dalam substansi persoalan yang sebenarnya. 


Di tengah rakyat kecil makan nasi aking karena tidak mempunyai rupiah membeli 
beras kualitas "impor", para elite politik asyik dengan persoalannya sendiri 
dan jauh dari penderitaan rakyat miskin yang memilihnya. Yang pada gilirannya 
pergulatan melawan wabah kemelaratan dan keterbelakangan tidak pernah selesai 
di negeri ini.    Yang terjadi adalah, pemerintah tak paham dengan kebutuhan 
rakyatnya. Sekadar menyebut contoh, masyarakat Papua yang dikenal memiliki 
makanan pokok sagu dan umbi-umbian, De­par­temen Sosial mengirim ban­tuan 
beras. Bantuan ini pun terlambat tiba kepada yang membutuhkan karena 
ter­batasnya sarana infrastruktur. 


Masalah infrastruktur dalam konteks kelaparan menjadi kurang relevan karena 
sejak dulu pengembangan infrastruktur di berbagai dae­rah amat lambat dan jauh 
ter­tinggal. Namun, untuk membabat hutan dan menguras sumber daya alam lainnya 
tidak pernah ada istilah terlambat. Masyarakat kecil yang bermukim di sekitar 
hutan menjadi penonton yang menyaksikan pertandingan perebutan aset milik 
mereka. Yang tersisa adalah kemiskinan, kemelaratan, kelaparan, gizi buruk dan 
busung lapar.

Potensi Pangan Lokal 
Belajar dari bencana kelaparan sebelumnya, seharusnya masyarakat sudah 
dipersiapkan untuk menghadapi tragedi kemanusiaan ini dengan perbaikan bercocok 
tanam umbi-umbian dan biji-bijian. Bukankah menyiapkan lumbung pangan seperti 
padi, sagu, umbi-umbian dan jagung serta mengintroduksi teknologi pengolahan 
hasil pertanian secara sederhana adalah langkah yang lebih tepat untuk 
mengatasi kelaparan?     Pemberian bantuan beras kepada masyarakat Yahukimo 
yang tidak mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok, jelas suatu kebijakan pangan 
yang keliru. Bantuan yang diberikan seharusnya dalam bentuk pangan yang sudah 
dikenal masyarakat setempat lewat pemberdayaan pangan lokal sehingga mereka 
tidak tergantung pada beras. 


Penggunaan tepung sagu secara umum sebenarnya su­dah tidak asing lagi bagi 
ma­syarakat di Provinsi Papua. Je­nis tepung yang satu ini bisa digunakan 
sebagai bahan cam­­puran produk mi, soun, ro­ti, dan bakso sehingga banyak 
negara maju yang tidak memiliki hutan sagu, seperti Jepang dan Belanda, sangat 
berminat mengembangkan komoditas asli Indonesia ini. Dari aspek nilai gizi, 
tepung sagu mempunyai beberapa kelebihan dibanding tepung dari tanaman singkong 
atau serelia, sebab mengandung polisakarida tidak tercerna yang penting bagi 
kesehatan pencernaan. Patut dipahami pemanfaatan pangan berbasis sumber daya 
lokal merupakan salah satu upaya dalam mewujudkan ketahanan pangan.  

   
Penganekaragaman konsumsi pangan, bergizi, seimbang, dan aman menjadi tiang 
kemandirian pangan sehingga rakyat dapat berdaulat atas pangan. Dengan 
sosialisasi yang baik produk pangan lokal akan menambah keragaman pangan 
nusantara sehingga dapat mengurangi pemakaian produk impor. Informasi 
pemanfaatannya dalam beragam produk pangan olahan akan memantapkan ketahanan 
pangan di masa datang.


Namun, miskinnya inovasi pengembangan diversifikasi produk pangan olahan akibat 
kurangnya SDM bermutu di bidang teknologi pangan nonberas menjadi  penyebab 
me­ngapa diversifikasi konsumsi pangan di Indonesia kurang berhasil. Selama ini 
pemanfa­at­an teknologi untuk pe­ngem­bang­an produk pangan lokal porsinya 
masih dirasa kurang. 

Penulis adalah Ketua Lembaga Penelitian Unika Santo Thomas SU Medan. Anggota 
Dewan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara. Direktur Center for National 
Food Security Research (Tenfoser).

Kembali ke : Cetak

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke