Perjalanan Panjang Terorisme Islam Indonesia
16 Oktober, 2009
 
Putra Perdana Kusuma


Indonesia, salah satu Negara berpopulasi tinggi yang penduduknya mayoritas 
Muslim, tengah diterpa serangkaian serangan teroris dengan militant Islam 
sebagai kambing hitamnya. Berikut ini adalah selayang pandang atas perjalanan 
terorisme Islam Indonesia:

- Agustus 2009 – Kepungan selama 17 jam di suatu di Temanggung, Jawa Tengah 
yang diakhiri oleh tertembaknya salah satu anggota dari kelompok teroris yang 
diduga bertanggung jawab atas serangan bom di dua hotel berbintang lima Jakarta 
dengan pernjagaan superketat. Ibrohim, demikian hasil konfirmasi uji DNA dan 
sidik jari atas identitas mayat yang ditemukan di lokasi pengepungan, 
diidentifikasi sebagai penjual bunga di hotel Ritz Carlton dan JW Marriott. 
Identitas gandanya itu ia gunakan untuk menginfiltrasi kedua hotel dengan 
keamanan tingkat tinggi tersebut kemudian menyelundupkan bagian-bagian bom yang 
kemudian dirangkai dalam salah satu kamar hotel. Ibrohim diduga merupakan kaki 
tangan Noordin M Top, gembiong teroris yang tengah dicari oleh polisi selama 
enam tahun terakhir.

- November 2008 – Eksekusi tiga militant Islam yang bertanggung jawab atas 
pemboman di Bali yang menewaskan 202 orang. Ketiga militant tersebut adalah 
Amrozi bin H. Nurhasyim, Ali Ghufron alias Mukhlas, dan Imam Samudera, yang 
ditahan atas tuduhan terlibat dalam serangan bom 12 Oktober 2002 di Bali yang 
juga menyebabkan 209 korban luka-luka. Indonesia merupakan Negara yang damai, 
namun terorisme merupakan kejahatan yang ditindak keras. Terbukti dari 
dijatuhkannya vonis hukuman mati pada 5 dari 107 tersangka tindak terorisme 
sepanjang tahun 2008.

- Juni 2007 – Aparat menahan pemimpin kelompok teroris Jemaah Islamiyah, 
seorang militant yang terlatih di Afganistan bernama Abu Dujana alias Yusron 
Mahmudi, bersama tujuh orang militant lainnya. Dujana merupakan salah satu 
anggota penting dalam organisasi tersebut dan telah berada dalam tampuk 
pimpinan sejak tahun 2000. Sepak terjang Dujana dimulai dari gerakan bawah 
tanah Darul Islam, yang kemudian dikirim untuk melanjutkan studi di Pakistan 
pada tahun 1986, dimana dia bergabung dengan mujahidin Afgan yang dipimpin oleh 
seorang warga Negara Indonesia bernama Zulkarnaen. Disana dia menerima 
pelatihan dibidang merakit bom dan menggunakan senjata api. Menurut pernyataan 
polisi, Dujana terbukti memiliki hubungan erat dengan petinggi-petinggi 
Al-Qaeda.

- November 2005 – Ahli bom Azahari bin Husin terbunuh dalam sidak polisi di 
Jawa. Husin, seorang insinyur dengan gelar PhD hasil studi di Australia, 
merupakan seorang teroris Muslim asal Malaysia, yang dipercaya merupakan dalang 
dari bom Bali 2002 dan serangan teroris Jemaah Islamiyah lainnya. Diduga Husin 
terlibat langsung dalam perencanaan dan juga pelaksanaan bom Marriott 2003, bom 
kedutaan Australia 2004, serta bom Bali 2005. Buronan pimpinan militant Noordin 
M Top, terlihat dalam rekaman video tak lama setelahnya dengan ancaman akan 
adanya lebih banyak serangan. Husin terkait erat dengan mantan kepala 
operasional Jemaah Islamiyah Riduan Isamuddin, yang lebih dikenal sebagai 
Hambali, yang tertangkap di Thailand tahun 2003.

- Oktober 2005 – Serangan bom bunuh diri menelan 20 korban jiwa di sebuah 
restoran di Bali. Serangan tersebut terjadi di tiga tempat, satu di Raja 
Restaurant di sebuah pertokoan di Kuta Town Square, dan dua lagi di sepanjang 
pantai Jimbaran di dekat hotel Four Seasons. Polisi juga menemukan tiga bom 
lagi di seputaran Jimbaran yang belum sempat meledak setelah pihak berwenang 
menonaktifkan jaringan telepon seluler yang diduga digunakan para teroris untuk 
meledakkan bom dari jauh. Peristiwa tersebut terjadi di hari dimana Indonesia 
memotong subsidi BBM hingga menyebabkan kenaikan sebesar 675%, dan dua hari 
menjelang Ramadan. Serangan tersebut direncanakan sedemikian rupa hingga 
bertepatan dengan musim liburan Australia, dimana diperkirakan 7,500 warga 
Negara Australia sedang berkunjung di Bali.

- September 2004 – Sebuah bom bunuh diri meledak di depan Kedutaan Besar 
Australia Jakarta menewaskan 11 orang dan mengakibatkan 200 luka-luka. Ledakan 
berasal dari sebuah mobil boks Daihatsu berisi bahan peledak seberat satu ton. 
Ledakan juga melukai tiga diplomat Kedutaan Besar Yunani yang berada di lantai 
12 dari gedung dihadapannya serta kerusakan pada Kedutaan Besar RRC yang masih 
berlokasi disekitar area ledakan pada saat itu. Getaran dari ledakan terasa 
dalam radius 500 meter, menyebabkan pecahnya kaca-kaca jendela yang berakibat 
pada banyaknya pegawai yang terluka. Yang termasuk dalam korban jiwa adalah 
satpam kedubes Australia Anton Sujarwo, empat orang polisi Indonesia, dan warga 
sipil lainnya diantaranya tukang kebun kedubes Suryadi, dua pegawai kedutaan, 
seorang tamu bagian visa, dan seorang pejalan kaki yang secara naas berada 
didekat ledakan. Kejadian ini merupakan serangan ketiga dengan sasaran warga 
Australia, setelah bom Bali dan bom Marriott. Sebuah sms peringatan diterima 
oleh aparat Indonesia 45 menit sebelum kejadian, yang mengancam akan terjadi 
lebih banyak serangan jika pemimpin Jemaah Islamiyah, Abu Bakar Bashir, tidak 
segera dibebaskan.

- Agustus 2003 – Bom bunuh diri meledak di lobby Hotel JW Marriott di Mega 
Kuningan, Jakarta Selatan, menewaskan 12 orang dan melukai 150 korban lainnya. 
Semua korban merupakan warga Negara Indonesia kecuali seorang pengusaha 
Belanda, seorang warga Denmark, dan dua turis Cina. Hotel yang terasosiasi 
dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat tersebut ditutup selama 5 minggu.

- Oktober 2002 – Pemuka agama Abu Bakar Bashir, pimpinan Jemaah Islamiyah dan 
seorang pendakwah yang berapi-api. Tak lama kemudian dia dibebaskan. Pada bulan 
yang sama tiga bom meledak di Bali, menelan 202 korban jiwa yang sebagian besar 
adalah turis, 88 diantaranya asal Australia. Menurut keterangan polisi serangan 
ini didanai oleh Al-Qaeda.

- 1999-2001 – Pertempuran berdarah antara umat Muslim dan umat Kristiani di 
daerah Timur Indonesia yang menelan sampai 9,000 korban. Peristiwa ini menarik 
prajurit-prajurit Al-Qaeda dari Timur Tengah dan Eropa dan menyebabkan 
meningkatnya anggota Jemaah Islamiyah.
 
 


Kirim email ke