Refleksi : Kemampuan siswa Indonesia masih rendah bukan suatu hal kebetulan atau yang keliru, karena kalau bukan demikian maka tentu sejak lama, teristimewa setelah tahun 1965, sejak Soeharto naik panggung kekuasaan negara hingga sekarang telah diambil langkah kongkrit yang lebih menguntungkan dan merata mutu pendidikan bagi semua putra-putri tanpa membeda kantong orang tua dan dengan berpedoman rakyat pintar negeri maju.
Tetapi, diutamakan oleh kaum berkuasa ialah sebanyak mungkinyang berkemampuan lemah atau lebih jelas lagi dalam bahasa kasar dikatakan "bodoh" teristimewa putra putri daerah luar. Maksud dari politik demikian ini ialah agar dengan saksama demi kepentingan kaum bangsawan neo Mojopahit bisa jaya dan kaya raya berhidupan sejahtera. http://www.sinarharapan.co.id/cetak/berita/read/kemampuan-siswa-indonesia-masih-rendah/ Kamis, 29 Oktober 2009 14:08 Kemampuan Siswa Indonesia Masih Rendah OLEH: HERU GUNTORO Jakarta - Sebuah studi menunjukkan bahwa kemampuan siswa di Indonesia untuk semua bidang yang diukur secara signifikan berada di bawah rata-rata internasional 500. Bila dikaitkan dengan benchmark internasional, siswa Indonesia hanya mampu menjawab soal-soal dalam kategori rendah, bahkan hampir tidak ada yang dapat menjawab soal-soal yang menuntut pemikiran tingkat tinggi. Hal ini dikemukakan Fredi Munger, peneliti pendidikan dari AusAID (Australian Agency for International Development), saat berbicara di seminar mutu pendidikan dasar dan menengah, pusat penelitian pendidikan Departemen Pendidikan Nasional, di Jakarta, Rabu (28/10) Studi yang dimaksud adalah tiga macam survei studi internasional, yaitu PIRLS 2006 (Progress in International Reading Literacy Study). PISA 2006 (Programe for Internasional Student Assesment Study) dan TIMSS 2007 (Trend in International Mathematics And Science Study). PIRLS mengukur kemampuan membaca siswa kelas IV SD/MI. PISA mengukur kemampuan literasi membaca, matematika, sains murid berusia 15 tahun di SMP/MTs/SMA/MA/SMK. Sedangkan TIMS mengukur kemampuan matematika dan sains siswa kelas VIII SMP/MTs. Namun, ketika ditanya wartawan di mana tempat studi yang dimaksudkan itu, Fredi Munger tidak bersedia memberikan jawaban. Karena menurutnya, studi ini bisa memberikan gambaran yang sebenarnya mengenai situasi pendidikan di Indonesia. Banyak faktor yang menyebabkan kedudukan murid Indonesia berada di papan bawah, salah satunya ditinjau dari sudut siswa dan sistem penyelenggaraan pendidikan. Selain itu, studi ini juga membandingkan kedudukan siswa Indonesia dengan negara maju di negara-negara Asia dan negara dengan Human Development Index rendah. Dalam PIRLS 2006, lanjut Munger, menunjukkan perolehan skor belum mencapai peringkat yang memuaskan, yaitu 404,737. Korelasi prestasi bahasa Indonesia siswa berdasarkan hasil PIRLS dan hasil UASBN (Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional) menunjukkan hasil yang tidak terlalu tinggi. Sedangkan data TIMS menunjukkan bahwa keyakinan diri sangat menentukan tinggi rendahnya prestasi siswa dalam pelajaran matematika, fisika dan biologi. Mereka yang mengaku menyenangi dan bersikap positif terhadap pelajaran tersebut, tidak selalu memiliki keyakinan akan berhasil dalam mata pelajaran tersebut.Yang agak mengejutkan ialah hasil studi PISA, yang menunjukkan rerata prestasi membaca dari tahun 200 higga tahun 2003 naik, tetapi dari tahun 2003 hingga 2006 turun. Faktor yang memengaruhi kemampuan membaca adalah fasilitas pendidikan. Padahal fasilitas pendidikan dapat memacu keinginan untuk membaca. Selain itu, kata Munger, sebuah studi yang dilakukan menunjukkan bahwa penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak mempunyai kesamaan dalam urutan peruntukan dan penggunaannya pada setiap daerah. Meskipun diakui, dana BOS sangat efektif dalam meningkatkan prestasi sekolah, walaupun angka putus sekolah sebelum dan setelah ada BOS tidak mengalami perubahan yang signifikan. Ditemui di tempat yang sama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas Mansyur Ramly menambahkan, mutu pendidikan memang masih harus ditingkatkan supaya siswa Indonesia memiliki daya saing di kancah internasional. Untuk itu, pendanaan pendidikan melalui BOS perlu ditingkatkan, serta menaikkan kualitas tenaga pendidik. "Dari studi inilah kita akan melangkah untuk peningkatan mutu sekolah," kata Ramly. n Kembali ke : Cetak [Non-text portions of this message have been removed]

