Jumat, 30 Oktober 2009
Meminjam SBY Buat Menikam Lawan?
(berpolitik.com): "Pengarang sudah mati," seru pengikut post modernism. Karena
pengarang sudah mati, makna atas teks bisa jungkir-balik. Soalnya yang pokok
adalah adalah tafsir yang membacanya, bukan maksud pengarangnya.
Pernyataan SBY yang bilang, "Usut yang mencatut nama (saya)" adalah sebuah
teks. Mengikut keyakinan kaum post modernism, maka teks itu bisa diartikan
sekarepnya, tergantung kemauan, kepentingan dan atau apapun. Tingal sebut.
Bisa berarti begini: yang mencatut nama itu, entah guyon, entah serius, ya
harus dikejar, diperiksa dan ditangkap. Namun bisa juga begini, yang
menyebut-nyebut adanya rekaman itulah yang harus diburu dan ditangkap.
Dalam pidato pembukaan National Summit 2009, SBY bilang,"Kita ini sering
dicemooh, diramal banyak pihak, hal-hal yang buruk, mungkin tetangga, mungkin
negara lain, di tingkat dunia, mungkin juga tubuh kita sendiri...Pemberantasan
korupsi juga seringkali dianggap hanya teori semata, tapi kenyataannya sekarang
semakin efektif."
Di tangan politisi, omongon SBY bisa berarti lain. Membesar-besarkan kasus
korupsi itu bisa dianggap bagian dari menista bangsa sendiri. "Ingat pesan SBY
dalam pidato Summit tadi," kata Fachry Hamzah, politisi PKS yang juga wakil
ketua Komisi III DPR RI dalam talkshow di TV One, Kamis (28/10) malam.
Dalam politik, ini seperti menikam dari belakang. Alih-alih terpelihara,
reputasi SBY malah kian terancam tercemar jadinya.
[Non-text portions of this message have been removed]