http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=62231:-gaya-soekarno-pola-soeharto&catid=25:artikel&Itemid=44

            Wednesday, 28 October 2009 06:02         
     
      Gaya Soekarno, pola Soeharto  
      Opini - Artikel  
      MUCHSIN LUBIS


      Penampilan politik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam 
membentuk Kabinet Indonesia Bersatu Kedua yang diumumkan pukul 22.00 WIB 21 
Oktober lalu, mengingatkan pada Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto. 
Presiden Soekarno dikenal sebagai presiden charming dan selalu ingin tampil 
populis.

      Sedangkan Presiden Soeharto memiliki pola dan struktur tersendiri dalam 
membentuk kabinet. Model kedua mantan presiden ini sangat menonjol pada 
penampilan SBY. Gaya populis Soekarno tampak pada penampilan SBY berpidato yang 
selalu menggerakkan tangan pada setiap kalimat pidatonya, walaupun terlihat 
kaku dan datar, tanpa tekanan aksentuasi pada kalimat yang diucapkannya.

      Sedangkan Soekarno mempunyai gerak tubuh yang ekspresif diikuti mimik 
yang kuat dalam tiap kalimat yang diucapkan serta menjaga aksentuasi dan 
vibrasi. Soekarno memang seorang aktor panggung, karena pada dasarnya 
beliauseorang  seniman dan dramawan yang mempunyai grup teater (tonil) sebelum 
menjadi presiden.

      Kesamaan SBY dan Soekarno, keduanya tampil sebagai tokoh penggemar 
popularitas sesuai dengan kondisi zamannya masing-masing. Di zaman Soekarno 
terutama di era awal kemerdekaan sampai awal 1960-an, beliau senang tampil 
dalam rapat massa berpidato dengan gegap gempita dan disambut dengan tepuk 
tangan.

      Pidatonya disiarkan secara langsung oleh Radio Republik Indonesia (RRI) 
ke seluruh nusantara dan masyarakat ramai- ramai mendengarkan. Bahkan satu 
radio bisa dikerumuni orang sekampung, karena radio masih sangat langka saat 
itu.

      Dengan gaya populis, Soekarno kemudian membangun simbol-simbol kemegahan 
dengan patung-patung di Jakarta seperti "Patung Selamat Datang," "Patung 
Pembebasan Irian Barat", "Patung Pak Tani," "Monumen Nasional (Monas)" dan 
lainnya. Tak hanya itu, Soekarno melekatkan gelargelar istimewa buat dirinya 
seperti "Paduka Jang Mulia" "Pemimpin Besar Revolusi," dan gelar-gelar lainnya.

      Tak mengherankan, pada era Demokrasi Terpimpin di awal 1960-an, Indonesia 
sempat digelar sebagai " Opera State " (Negara Opera). Presiden SBY juga 
menampilkan pertunjukan opera ketika membentuk kabinetnya. Televisi sepanjang 
hari menampilkancalon-calon menteri yang  dipanggil, lengkap dengan "acara 
tebak-tebakan" saat konferensi pers singkat saat keluar dari rumahnya di 
Cikeas, Bogor .

      Televisi dan media pun sibuk ikut main tebak-tebakan dan mengumbar 
berbagai analisa. Tragedi gempa di Jawa Barat dan Sumbar pun lenyap dari 
pantauan. Perekrutan menteri pun akhirnya menjadi sinetron reality show. SBY 
tak mau ketinggalan ikut keluar rehat sejenak tampil di televisi saat 
mewawancarai calon menterinya.

      Sangat populis dan teatrikal sekali. Bila dicermati, perekrutan menteri 
oleh SBY, mirip dengan pola yang dilakukan Presiden Soeharto ketika berkuasa 
dari 1966 sampai 1998. Menteri dan calon menteri beberapa pekan sebelum Sidang 
Umum MPR yang akan memilih kembali Soeharto, dengan jantung berdebar menunggu 
telepon langsung dari Soeharto.

      Begitu juga saat ini, banyak yang berharap ditelepon orang dekat SBY, 
Hatta Rajasa Andi Mallarangeng, dan Sudi Silalahi. Posisi Hatta Rajasa, Andi 
Mallarangeng dan Sudi Silalahi, mengingatkan pola Soeharto dengan era 
pemerintahannya setelah Pemilu 1971 dengan lembaga Asisten Pribadi (Aspri)  
yang dipegang oleh Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani.

      Aspri merupakan orang kepercayaan Soeharto. Aspri kemudian dibubarkan 
setelah demonstrasi 15 Januari 1974 (Malari) oleh Hariman Siregar Cs. Soeharto 
mempunyai tangki pemikir (think tank) Centre Strategic for International Study 
(CSIS) yang dikoordinirAli Moertopo dan teknokrat  seperti Daoed Joesoef.

      Calon-calon menteri teknokrat kebanyakan diambil Soeharto dari CSIS yang 
bermarkas di Jalan Tanah Abang Timur, Jakarta . Mirip dengan itu, SBY juga 
membentuk Dewan Pertimbangan Presiden Wantimpres) yang saat ini diketuai Adnan 
Buyung Nasution. Bila Soeharto berkuasa dengan dominasi militer dengan dukungan 
teknokrat ditambah Golkar sebagai partai mayoritas tunggal (single majority), 
era SBY kini berkuasa dengan koalisi partai politik.

      Koalisi parpol tersebut kini sudah menjelma menjadi mayoritas tunggal 
pendukung SBY di DPR. Sehingga kini istilah oposisi menjadi lenyap" di khasanah 
demokrasi Indonesia . Tak mengherankan bila kabinet SBY masih didominasi kader 
parpol.

      Dalam membentuk kabinet, Soeharto, untuk pos ekonomi dipercayakan pada 
teknokrat, selebihnya diberikan kepada militer dan Golkar. Demikian pula SBY, 
pos ekonomi dipercayakan pada teknokrat, selebihnya diberikan pada parpol atau 
orang yang berjasa dan dekat dengan dirinya secara pribadi.
       
      Seperti saat Soeharto memberikan jabatan Menteri Sosial kepada anaknya 
Mbak dan Menperindag kepada sahabatnya pengusaha Bob Hasan. Seperti era 
Soeharto, pada kabinet sekarang, SBY berencana akan membentuk 3 wakil menteri, 
mirip dengan Soeharto yang sempat membentuk menteri muda. Seperti Soeharto 
pula, SBY kembali mengaktifkan kembali lembaga Badan Koordinasi Penanaman Modal 
(BKPM) setingkat menteri yang kini dipegang Gita Wirjawan.

      Bila di zaman Soeharto militer memegang kendali keamanan sepenuhnya, tak 
mengherankan bila intelijen dipegang oleh militer (angkatan darat). Tapi kini 
di zaman SBY polisi dipercayakan sepenuhnya untuk keamanan. Untuk itu, tak 
mengherankan bila mantan Kapolri Jenderal Polisi (Purn) Sutanto dipercayakan 
menjadi Kepala Badan Intelijen Negara (BIN).

      Pertama kali dalam sejarah, polisi menjadi kepala intelijen. Sutanto 
sukses memberantas terorisme dan premanisme. Ke depan, dengan gaya Soekarno dan 
pola Soeharto ini, kabinet segera bekerja. Lepas sebagal pro dan kontra, 
terutama rakyat kecil, mampukah kabinet SBY ini meningkatkan kesejahteraan.

      Sebab makin banyak orang yang mengemis di pinggir jalan, banyak rakyat 
yang menangis kelaparan dan banyak bayi yang kekurangan gizi. Sementara 
infrastruktur banyak yang hancur. Jalan di Trans Sumatera, Trans Sulawesi, 
Trans Kalimantan masih belum lancar. Bis dari Medan ke Jakarta belum bisa 
lancar 48 jam seperti dulu.

      Petani jeruk dan pisang di Sumut tak bisa lagi mengirim buahnya ke 
Jakarta karena jalan negara rusak. Sementara itu perekonomian masih sangat 
timpang di mana 70 persen uang beredar di Jakarta, 15 persen beredar di kota 
besar di daerah dan hanya 15 persen yang beredar di desa. Otonomi daerah masih 
berpusat di Jakarta , walaupun SBY sudah merekrut menteri dari berbagai 
provinsi di seluruh Indonesia .

      Ketika menteri itu disebutkan masuk dalam kabinet, semua tertawa gembira. 
Tak satu pun tampak dari wajah mereka bahwa banyak tantangan yang bakal 
dihadapi. Sementara sebagian besar rakyat Indonesia hidup dalam kemiskinan. 
Apakah jabatan menteri hanya disambut sebagai naiknya status sosial dan Cuma 
berhenti di situ saja? Ini yang kita pertanyakan ke depan.

      Penulis adalah pengamat politik dan sosial 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke