Pak Gie,
Saya kira hal ini harus terlebih dahulu dimengerti mengapa para pencari suaka
mau ke Autralia dan bukan ke Indonesia yang sama-sama muslimnya, Mengapa mereka
ngotot mau ke negeri kafir Australia? Bukankah seharusnya begitu?
Wassalam,
----- Original Message -----
From: Yap Hong-Gie
To: Hankam ; Mediacare ; Nasional ; PPIIndia ; Tionghoa-net ; Akabri'90
Sent: Saturday, October 31, 2009 11:43 AM
Subject: [ppiindia] Human Trafficking ala AUS III.
Sedari dulu pemerintah AUS menjalani kebijakan double standard yang sarat
dengan kemunafikan.
Australia merupakan "the promiseland" bagi pencari suaka, akibat tradisi
kebijakan politik pemerintah AUS sendiri.
Jamannya Timor Timur, Australia semangat menampung warga Fretilin yang
melakukan perjuangannya (ETAN) dari Australia, setelah itu menjadi "Bapak
Asuh"nya OPM dan warga Papua pencari suaka (baca: tunjangan sosial).
Lhaaa sekarang masalah pengungsi dari Srilangka (Muslim), Australia
meng-oper-nya menjadi "The Indonesia Solution",
dasar Ozzy ndableg !
http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/10/31/03323697/indonesia.solution.atau
.semprit.politik.australia
PENCARI SUAKA
"Indonesia Solution" atau Semprit Politik Australia
Sabtu, 31 Oktober 2009 | 03:32 WIB
Kehadiran kapal patroli Bea Cukai dan Perikanan Australia, yakni Oceanic
Viking, di perairan Pulau Bintan, Tanjung Pinang, yang mengangkut 78 pencari
suaka dari Sri Lanka perlu dicermati. Australia menginginkan masalah itu
bisa diselesaikan di Indonesia. Namun, Indonesia tidak mau jika ke-78 orang
itu diturunkan paksa oleh Australia.
Ada dua masalah pokok dalam kasus itu. Pertama, kehadiran 78 imigran gelap
dari Sri Lanka di atas kapal berbendera Australia. Eksistensi Oceanic Viking
sebagai kapal patroli Bea Cukai dan Perikanan Australia merupakan masalah
kedua yang tidak kalah bobotnya dengan masalah pertama.
Mengapa Oceanic Viking yang mengangkut 78 pencari suaka dari Sri Lanka masuk
Indonesia? Dari Menteri Luar Negeri Australia Stephen Smith kita mendengar,
sebelumnya sudah ada kesepakatan antara Perdana Menteri Kevin Rudd dan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) agar Indonesia menerima para pencari
suaka yang sedang dalam perjalanan ke Pulau Christmas, Australia, itu.
Pertimbangan SBY adalah faktor kemanusiaan. Juru bicara Departemen Luar
Negeri (Deplu) RI, Teuku Faizahsyah, juga menegaskan hal serupa dalam jumpa
pers di Deplu RI di Jakarta, Jumat (30/10). Para imigran itu bisa masuk ke
Indonesia karena mereka sedang mengalami kesulitan di perairan internasional
sehingga perlu diselamatkan.
Ke-78 warga Sri Lanka itu sebenarnya ditangkap petugas patroli Angkatan Laut
Australia yang menggunakan kapal HMS Armidale, 18 Oktober lalu. Setelah
penangkapan itu, para imigran gelap yang sedang dalam perjalanan menuju
Pulau Christmas itu dipindahkan ke kapal Ocean Viking, yang ketika itu
sedang berada sekitar 240 mil di sebelah barat Padang.
Menurut Smith, Indonesia berkewajiban menyelamatkan imigran gelap itu. Atas
alasan kemanusiaan, Indonesia terdorong menerima para pencari suaka.
Kerisauan atas kehadiran Oceanic Viking pun tidak begitu ditonjolkan
Indonesia.
Sebenarnya ada hal-hal yang tidak menyenangkan Indonesia. Pertama,
pernyataan Smith yang menyebutkan bahwa Australia telah memberikan bantuan
keuangan untuk menyelesaikan kasus imigran gelap itu. Kedua, pernyataan
Kevid Rudd yang menyebut upaya penyelamatan 78 pencari suaka sebagai
"penyelesaian ala Indonesia" (Indonesia solution).
"Belum ada kesepakatan dengan Australia. Tidak ada bantuan keuangan seperti
disebutkan itu. Delegasi Australia baru datang pekan depan untuk membahas
masalah itu. Kita juga tidak nyaman dengan pernyataan tentang 'Indonesia
solution' itu. Mengapa tidak disebut 'Australia solution' saja?" kata
Faizasyah.
Arus imigran gelap yang lari ke Australia sebenarnya bukan baru terjadi kali
ini, tetapi sudah sering terjadi. Australia sebelumnya memang sering
menangkap dan menahan kapal-kapal imigran gelap, tetapi nyaris tidak
terdengar adanya penolakan dari Australia.
Baru kali ini, ketika 78 warga Sri Lanka hendak ke Pulau Christmas, justru
Australia menolaknya. Persoalannya, arus imigran gelap itu telah menjadi
subyek perdebatan sengit di dalam negeri. Tidak dapatkah kita menyebut bahwa
Australia ingin cuci tangan atas masalah pencari suaka?
Sampai Jumat, Australia tidak dapat menindak 78 imigran itu. Indonesia juga
akan menolak jika Australia menurunkan paksa para imigran. "Australia tidak
bisa menurunkan mereka di perairan Indonesia," kata Direktur Keamanan
Diplomatik Deplu RI Sujatmiko. Belum selesai kasus warga Sri Lanka, muncul
lagi 19 imigran dari Afganistan yang ditangkap polisi Cilacap. (FERRY
SANTOSO/PASCAL S BIN SAJU)
[Non-text portions of this message have been removed]