Refleksi : Hebat bin ajaib!  Dalam 1 jam  rotasi  "space station"  16 kali  
mengeliling bumi. Apakah salath yang dilakukan  di luar angkasa oleh  Sheikh 
Muszafhar tidak keliru jurusannya Mekkah? Islam itu agma atau manusia?


http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=19&jd=%93Jejak%94+Islam+di+Luar+Angkasa&dn=20091110211955



"Jejak" Islam di Luar Angkasa

Oleh : Muhammad Rizky Halim Ilyas | 10-Nov-2009, 23:46:35 WIB 


Wah.. agama islam sudah mulai duluan dari bangsa-bangsa lainya..hebat!!! saya 
dapet dari sebuah buku yang saya baca waktu bazar buku-buku islam... 

Barat telah mencapai kemajuan dalam ilmu luar angkasa. Tapi, sesungguhnya dari 
tangan ilmuwan Muslim misteri angkasa luar itu pertama kali berhasil disimak 
Hidayatullah.com Islam mencapai puncak kejayaannya pada era pemerintahan Daulah 
Abbasiyah, terutama pada bidang ilmu pengetahuan. Nyaris tak ada sejengkal pun 
dari bilik-bilik ilmu ini yang tidak tersentuh oleh umat Islam. Termasuk ilmu 
tentang dunia luar angkasa. Nashiruddin ath-Thusi dan al-Biruni adalah sebagian 
dari sosok yang cukup dikenal kepakarannya dalam bidang ini. 

Jadi sebelum ilmuwan Barat bergelut di dalamnya, para ilmuwan Islam telah lebih 
dulu mendalami dan mengakrabi dunia angkasa luar. Meski tak semaju dengan 
capaian ilmuwan Barat, tapi dari hasil kajian ilmuwan Muslimlah pintu-pintu 
menuju kemajuan terbuka satu demi satu. 

Bintang, bulan, dan matahari adalah obyek penelitian yang paling menarik 
perhatian para ilmuwan Muslim kala itu. Pasalnya, Al-Quran mengabarkan bahwa 
ketiga ciptaan Allah ini mempunyai fungsi yang luar biasa. Bintang misalnya, 
Allah menciptakannya sebagai petunjuk dalam menentukan arah. 

Inilah yang coba diteliti oleh ilmuwan Muslim ketika itu. Dari hasil kajian 
dunia luar angkasa, beragam kemudahan bisa dinikmati umat Islam saat itu. Satu 
persatu hikmah dan manfaat di balik penciptaan bintang berhasil terkuak. Yang 
paling sangat bermanfaat adalahcara dalam menjadikan bintang sebagai penunjuk 
arah. 

Jelas saja hasil itu berpengaruh besar dalam kehidupan umat Islam saat itu. 
Sektor perekonomian termasuk yang paling merasakan berkahnya. Perjalanan bisnis 
para saudagar Arab yang kerap tersendat oleh pekatnya malam, kini sudah mulai 
teratasi. Dengan adanya penunjuk arah, hamparan padang pasir yang berselimutkan 
gelapnya malam bukan lagi 'penyesat' yang perlu ditakuti. Begitu juga para 
nelayan yang mencari ikan di hamparan laut luas. 

Kita juga mengakui bahwa sebagian dari ilmu perbintangan ini dikecam oleh para 
ulama. Namun, jika kita perhatikan buku akidah, maka yang diharamkan adalah 
ilmu perbintangan yang digunakan untuk meramal perkara-perkara yang belum 
terjadi, seperti meramal nasib atau kejadian tertentu yang sifatnya ghaib bagi 
manusia. Lain halnya jika ia digunakan untuk kepentingan menentukan arah. Dalam 
fungsi ini hukumnya mubah-mubah saja. Al-Quran sendiri melegalkannya. Bahkan, 
hukum itu bisa berubah menjadi mustahab atau wajib jika digunakan untuk 
menentukan arah kiblat. 

Bukti Sejarah 

Di perpustakaan Eropa, kita bisa menemukan bukti bahwa sumbangsih ilmuwan 
Muslim dalam ilmu luar angkasa bukan omong kosong. Khususnya yang berkaitan 
dengan penamaan bintang. Seorang penulis Barat bernama Paul Kunitzsch 
menemukannya dalam buku Almagest karya Ptolomeus tentang penamaan bintang 
"Fomalhault" . Nama itu berasal dari bahasa Arab, "famul haut" yang berarti 
mulut ikan hiu. Muslim Heritage Foundation bahkan mencatat ratusan nama bintang 
yang berasal dari Bahasa Arab. 

Tapi begitulah siklus kehidupan yang diinginkan pencipta-Nya. Allah akan 
mempergilirkan kejayaan itu berdasarkan usaha dan kerja keras setiap kaum. 
Itulah yang terjadi pada rezim Abbasiyah. Pemerintahan yang semakin melemah 
memaksa perkembangan ilmu pengetahuan kembali masuk ke jalur lambat. Apa yang 
telah dirintis oleh para ilmuwan kita seolah kehilangan induknya karena tak 
lagi mendapat nafkah perhatian yang memadai. Salah satu yang mengalami nasib 
malang itu adalah ilmu angkasa luar. 

Lahir kembali 

Berabad abad terlelap tidur, akhirnya kejayaan Islam di luar angkasa yang 
nyaris terkubur itu seolah lahir kembali. Sultan Salman Abdul Aziz adalah aktor 
utamanya. Pria berkebangsaan Arab Saudi ini tak lagi mengamati ciptaan Allah di 
luar angkasa dari bumi. Ia melihatnya dalam radius yang lebih dekat. 

Pada tahun 1985, ia berangkat ke luar angkasa sebagai peneliti mewakili 
organisasi satelit Arab. Keberangkatannya tentu saja mengangkat prestise umat 
Islam di dunia internasional. Pasalnya, pria yang tak lain cucu pendiri 
Kerajaan Arab Saudi ini menjadi orang Islam pertama yang berhasil menembus luar 
angkasa. 

Ia melayang di dunia yang sangat asing ini selama delapan hari. Sepulang dari 
luar angkasa Sultan bukannya istirahat. Pria kelahiran Riyadh, 27 Juni 1956 ini 
bersama beberapa orang temannya, langsung mendirikan Association of Space 
Explorers. Lembaga bertaraf internasional ini mewadahi para astronot yang 
pernah mengangkasa. Sultan menjadi orang penting di dalamnya. 

Keinginan mengembalikan kejayaan Islam di luar angkasa juga ikut menjalar 
sampai ke negeri jiran. Pemerintah Malaysia selalu menunggu waktu yang tepat 
untuk mengirim putra terbaiknya ke luar angkasa. Dan saat yang dinanti pun 
tiba. Pada tahun 2005, pemerintah Malaysia memutuskan untuk membuat program 
mengirim angkasawan ke Rusia. Mereka belajar di sana sebelum terbang. 

Rencana besar ini tidak dilakukannya dengan sembrono. Pendaftaran memang 
terbuka, tapi seleksinya diperketat. Jumlah pendaftar mencapai 11.000 orang. 
Mereka mengikuti sembilan tahap seleksi, sampai akhirnya hanya terpilih sepuluh 
di antara mereka yang layak pergi ke Rusia untuk memperdalam ilmu angkasa di 
sana. Dari sepuluh orang yang dikirim, Rusia memutuskan untuk memilih satu saja 
di antara mereka yang layak pergi menjalankan misi di luar angkasa. 

Keberuntungan itu jatuh pada Dr Sheikh Muszafhar Shukor. Pria yang 
sehari-harinya bekerja di sebuah rumah sakit di Malaysia, berhasil menyisihkan 
ribuan pesaingnya. Ia akhirnya meluncur ke angkasa pada tanggal 10 Oktober 2007 
lalu. Sesuai dengan keahliannya sebagai dokter bedah ortopedik, di luar angkasa 
ia menjalani eksperimen yang terkait dengan bedah tulang. 

Shalat di Luar Angkasa 

Penelitian bukanlah satu-satunya misi Sheikh Muszafhar di luar angkasa. Ia juga 
membawa misi relijius yang sangat penting. Ia ingin melaksanakan shalat di luar 
angkasa, sekaligus mengabarkan kepada dunia bahwa shalat adalah ibadah yang 
sangat agung. Ibadah yang tidak boleh ditinggalkan kapan dan di mana saja, 
termasuk ketika berada di luar angkasa. 

Bersama tiga astronot lainnya, ia mengangkasa selama 12 hari. Waktu itu umat 
Islam di bumi sedang menjalankan ibadah puasa. Sebagai orang Islam, Sheikh 
tetap menjalankan ibadah itu meski berada ribuan mil dari bumi. Dan ia mengaku, 
berpuasa di langit jauh lebih nyaman dan khusyuk. Selain karena tidak merasa 
haus, lapar, atau lelah, ia juga bisa melihat beragam tanda-tanda kekuasaan 
Allah. 

Di angkasa, Sheikh menjalankan sejumlah eksperimen yang diamanahkan kepadanya. 
Di atas sana, ia menjalankan fungsinya sebagai dokter dengan 
penelitian-penelitian biologis dan kimiawinya. Menurut Sheikh, 12 hari ternyata 
tidak cukup panjang untuk menjalankan semua eksperimennya. 

Sheikh tidak bisa menyembunyikan rasa puas dari perjalanannya ini. Bukan saja 
karena ia berhasil melakukan penelitian, sebagaimana yang ia rencanakan. Di 
luar angkasa ia bisa menjumpai banyak sekali tanda kekuasaan Allah. Yang tak 
mungkin terlupakan, ketika ia mendengar suara adzan di sana. 

"Saya seperti menemukan kedamaian yang berbeda. Percaya atau tidak, di hari 
terakhir sewaktu kami hendak turun ke bumi, saya mendengar suara adzan," 
kisahnya. Rasa syukur dan senang Sheikh semakin berlipat karena ia merasa 
keberangkatannya tak sekedar mewakili negaranya, tapi juga dunia Islam. 

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): [email protected]
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke