Refleksi : Listrik sering padam dan industri kecil terancam bangkrut? Tak apa! 
Sebentar lagi ada gantinya! Waktu aku jalan-jalan  sana-sini di luarnegeri, aku 
telah mengundang para investor datang. Mereka senang sekali. Bukankah kalau 
mereka ini datang, mereka akan bikin baik atau mendirikan perusahan listrik 
baru dan tentunya juga banyak industri baru, buuanyak indusstri, jadi semua 
berjalan baik dan lebih hebat lagi dari sekarang. Mereka berhutang budi, dan 
untuk kelelahan jasa misiku, tak akan aku tolak oleh-oleh, sedikit lebih kurang 
dari yang diterima almarhum Bapak Pembangunan kita, tentunya dibolehkan.    
   
      Hear me talk! 
 
    

http://www.suarapembaruan.com/index.php?detail=News&id=11871

2009-11-17 
Industri Kecil Terancam Bangkrut


Pemadaman Listrik Bergilir



[TANGERANG] Ratusan industri kecil di Kabupaten Tangerang terancam bangkrut 
akibat pemadaman listrik yang kerap terjadi akhir-akhir ini. 

"Industri mereka terhambat dan tidak dapat mencapai target dan tingkat 
kepercayaan konsumen juga turun," kata Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia 
(Apindo) Kabupaten Tangerang, Djuanda Usman kepada SP di Tangerang, baru-baru 
ini. 

"Kerugian materi dan immateri diperkirakan mencapai puluhan miliar setiap 
harinya dihitung dari produksi yang terhenti dan karyawan yang libur, namun 
gajinya tetap dibayar utuh," katanya. 

Ditambahkan, sebanyak 200 perusahaan dalam beberapa bulan terakhir ini 
melaporkan kondisi darurat kepada Apindo Kabupaten Tangerang. 

Hal serupa juga terjadi di Ibukota. Dedi, pengusaha sablon di Jatinegara 
mengaku merugi akibat pemadaman bergilir. "Seharusnya jika ada pemadaman, 
minimal sehari sebelumnya ada pengumuman di koran seperti daerah mana saja dan 
waktu pemadaman. Sehingga kami bisa melakukan planning order dari pemesan tanpa 
membuat mereka kecewa," jelas Dedi. 


Kinerja PLN Dipertanyakan 

Sementara itu, Direktur Eksekutif Gerakan Masyarakat Pengawas Birokrasi 
(Gemawasbi) Nopber Siregar mempertanyakan kinerja PLN yang terus merugikan 
publik. 

Selain pemadaman listrik bergilir, dia juga menyoroti pemberlakuan Customer 
System Management (CSM) atau pengelolaan sistem manajemen pelanggan di Jawa 
Timur dengan Customer Information System (CIS) atau Rencana Induk Sistem 
Informasi (RISI) PLN di Jabar dan DKI Jakarta. 

Menurut Nopber, dua sistem itu sebenarnya sama. Sebab, dua sistem yang 
diterapkan di tiga wilayah itu sama-sama mengutip uang publik. Sistem CSM di 
Jatim mengutip uang rakyat sebesar Rp 1.500 per pelanggan dan sistem CIS di 
Jabar dan DKI yang mengutip uang publik senilai Rp 1.800 per pelangan.

Data Gemawasbi menyebutkan, sejak 2004 pungutan yang dilakukan PT PLN sekitar 
Rp 590 miliar. Kutipan itu terjadi pada saat Haryadi Sadono (HS), menjabat 
sebagai General Manager Distribusi PLN di Jatim. Belakangan, sistem CSM 
tersebut dinyatakan bermasalah oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). HS 
sudah menjadi tersangka.

Fachmi Mochtar yang saat itu GM Distribusi di DKI yang menerapkan CIS/RISI itu 
menjadi saksi di KPK. Diduga, CIS/RISI merupakan sumber lahan korupsi.

Namun, Siregar mempertanyakan mengapa Murtaqi Syamsudin yang saat itu GM 
Distribusi di Jabar belum dimintai keterangannya oleh KPK. "Ini menjadi 
pertanyaan mengingat kinerja PLN sangat buruk. Apalagi sekarang marak 
gardu-gardu induk PLN meledak dan terbakar," ujarnya.

Gemawasbi memperingatkan, jika PLN tidak menata diri maka kehancuran pranata 
sosial akan terus berlanjut dan masyarakat akan menjadi korbannya. [132/ODA/Y-4]








[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke